Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Intimate Interview

Mengenal Ratna Somantri, Wanita yang Menjadi Pakar Teh di Usia Muda

wolipop
Rabu, 28 Mei 2014 16:41 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Pribadi Ratna Somantri
Jakarta - Profesi pakar teh terbilang jarang di Indonesia. Ahli-ahli yang mendalami teh biasanya lebih banyak berasal dari orang-orang yang bekerja di perkebunan teh, atau merupakan pengusaha teh.

Dibandingkan kopi, teh sebagai minuman gaya hidup memang belum terlalu populer dan pakar di bidang teh pun tidak terlalu terdengar gaungnya. Hal ini cukup disayangkan karena hingga kini masih banyak orang yang tidak tahu cara menyeduh teh yang benar dan memilih teh berkualitas baik. Padahal teh bisa memberi manfaat kesehatan yang banyak apabila disajikan dengan tepat, dan untuk itulah para pakar teh dibutuhkan.

Dari sedikitnya profesi pakar teh yang biasanya lebih didominasi kalangan pria dan sudah berusia paruh baya, ada satu nama yang cukup dikenal, dia adalah Ratna Somantri. Kecintaannya pada minuman teh sejak kecil membuat wanita berusia 35 tahun ini tertarik untuk belajar lebih banyak soal teh, dan mulai mendalaminya secara serius pada 2006. Ratna rela terbang ke Malaysia khusus untuk mengikuti kursus teh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Awalnya teman ajak bikin cafe teh, jadi aku memutuskan untuk belajar lebih banyak soal teh karena kalau mau terjun ke satu bisnis harus sangat menguasainya. Belajar pertama kali ke Kuala Lumpur untuk tahu cara pilih teh yang bagus dan penyajian yang benar," cerita Ratna, saat berbincang intim dengan Wolipop di kawasan Senayan, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.

Usaha kafe teh ternyata tidak berjalan lama dan Ratna memutuskan menjual sahamnya. Tapi meskipun bisnis tehnya berhenti, kecintaan Ratna terhadap teh tidak pernah surut. Ia pun meneruskan pendalamannya soal seluk beluk teh sampai ke Hong Kong, Jepang dan China; tiga negara yang terkenal dengan sajian minuman tehnya.

Ratna awalnya tidak pernah berencana untuk menjadi, atau disebut sebagai pakar teh. Belajar soal teh semata-mata untuk memuaskan kegemarannya pada minuman yang telah dikenal baik untuk kesehatan ini. Seiring berjalannya waktu dan ketertarikan masyarakat urban terhadap teh, Ratna pun kerap dipanggil sebagai pembicara di talk show, diskusi maupun seminar tentang teh.

"Dulu nggak pernah terpikir akan ada orang bikin event tentang teh. Siapa yang mau dengar? Tapi mulai banyak banget orang tanya tentang teh baru dari 2011. Sebelumnya teh masih tidak terlalu happening tapi sekarang ini trennya lagi naik," tutur wanita yang juga memiliki kantor konsultan ini.

Sampai saat ini, Ratna telah mencicipi puluhan teh, dari ratusan jenis teh yang ada di dunia. Di rumahnya sendiri, wanita keturunan Sunda-China ini mengoleksi hampir 100 jenis daun teh. Beberapa di antaranya termasuk jenis yang langka dan harga per ons-nya terbilang mahal. Semakin banyak tahu tentang teh, semakin ia prihatin dengan minimnya pengetahuan masyarakat soal penyeduhan teh. Kebanyakan orang masih memakai cara yang keliru dalam menyajikan teh dan itu sering menjadikan 'nilai' teh jadi berkurang. Baik dari rasa, aroma maupun khasiatnya.

"Belajar banyak soal teh, saya jadi tahu kalau teh nggak bisa sembarangan diseduh. Orang Indonesia sebenarnya sudah familiar dengan teh tapi masih tidak tahu teh yang bagus seperti apa? Gimana cara penyajiannya? Sayang banget," ucap Ratna.

Jangankan masyarakat awam, di kafe maupun restoran sekalipun, teh kerap kali disajikan dengan cara yang keliru. Ratna mencontohkan, saat menyeduh teh kebanyakan pelayan resto menggunakan air panas yang sama yang digunakan untuk membuat kopi, dengan suhu 95 derajat Celcius. Padahal teh harus mendapat 'perlakuan' yang berbeda dengan kopi. Teh seharusnya diseduh dengan air yang suhunya maksimal 70 derajat Celcius agar kandungan antioksidannya tidak hilang.

Menurutnya ada dua teknik penyajian teh yang dikenal selama ini; aliran Barat dan Timur. Orang Barat seperti di Italia, Inggris dan negara-negara Eropa yang lainnya terbiasa menyeduh teh dengan air yang banyak serta daun yang sedikit. Penyeduhan dilakukan selama 3-4 menit, setelah itu diangkat.

"Kalau di Timur seperti China, tekonya kecil-kecil. Jumlah tehnya sama tapi perbandingan airnya sedikit. Diseduhnya juga sangat sebentar, 30 detik atau maksimal satu menit. Cara ini membuat teh lebih sehat karena zat-zat buruknya belim sempat larut," jelas Ratna.

Sedangkan orang Indonesia, teh umumnya diseduh dan dibiarkan berjam-jam bahkan seharian. Teh yang terlalu pekat dan kental akan memiliki rasa yang sangat pahit, antioksidan hilang dan zat-zat yang kurang baik bagi tubuh pun bisa keluar. Akibatnya perut jadi sembelit dan pencernaan tidak lancar.

"Hal-hal yang basic banget pun banyak orang belum tahu. Informasi cara seduh teh di Indonesia masih sangat minim," tukasnya.

Untuk itu lewat profesinya sebagai pakar teh, Ratna mencoba mengedukasi masyarakat cara penyeduhan yang benar, bagaimana mengenali jenis teh dan manfaatnya. Selain lewat seminar dan talk show, Ratna juga berencana berbagi pengetahuannya soal teh lewat buku yang akan dirilisnya Juni 2014 mendatang. Sejak awal 2014, pendiri Komunitas Pencinta Teh ini juga ditunjuk oleh Dewan Teh Indonesia sebagai representatif yang akan mempromosikan dan menyosialisasikan teh secara lebih luas.

(hst/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads