Perjuangan Annisa'ai, Kartini Masa Kini yang Jadi Guru di Daerah Tertinggal
wolipop
Rabu, 30 Apr 2014 16:46 WIB
Jakarta
-
Bagi sebagian guru, menjadi seorang pengajar bukanlah sekadar pekerjaan. Menjadi pengajar juga merupakan sebuah bentuk pengabdian. Seperti seorang guru bernama Annisa'ai Mahmudah. Ia rela pergi mengajar ke daerah tertinggal yang jauh dari daerah perkotaan dan pastinya keluarga. Jika tak sedikit guru yang pergi ke daerah terpencil untuk sekadar mendapat sertifikasi, wanita ini pergi karena mencintai profesi dan benar-benar peduli. Di tengah keterbatasan fasilitas di kotanya mengajar, Sumba, Nusa Tenggara Timur, tak membuat dia menyerah atau merasa terbebani. Hal inilah yang membuat Arri Dwi Agustina, kawan Annisa'ai, menyebutnya sebagai Kartini masa kini.
Awalnya, Anni, sapaan khas Annisa'ai, adalah seorang guru BK (Bimbingan Konseling) biasa di sebuah Sekolah Menengah Pertama di Tuban, Jawa Timur, daerah asalnya. Sampai suatu ketika, ada sebuah program Kementerian Pendidikan bernama SM3T. Program yang merupakan singkatan dari Sarjana Mendidik di Daerah Terluar, Tertinggal, dan Terdepan ini memungkinkan seorang guru honorer mendapat sertifikasi setelah dua tahun mengajar di daerah tertinggal. Meski tak semua orang, apalagi wanita mau melakukannya, Anni melihat ini sebagai suatu kesempatan emas.
"Setahu saya, dia menerima ikut SM3T itu karena pengalamannya lebih menantang. Yang buat saya salut, dia kan sudah diterima di sebuah sekolahan. Diterima jadi guru honorer saja sudah susah kalau tidak ada yang masukin dan dia rela meninggalkan kerjaan yang sudah enak untuk pergi ke Sumba," tutur Arri yang sama-sama berprofesi guru dan merupakan teman sebangku Anni ketika SMP ini.
Meski Anni berada di tempat terpencil yang tak ada sinyal ataupun listrik, sebagai seorang teman dan sesama guru, dengan Arri Ia kerap berbagi kisah. Anni pun menyempatkan diri menghubungi Ani lewat email ketika dia tengah berkunjung ke kota. Anni mengaku merasa menjadi lebih tenang bahkan lebih sehat semenjak mengajar di Sumba. Meski tak digaji dan sempat terkena malaria, Anni tetap semangat mengajar anak-anak yang sangat membutuhkan jasanya.
"Di sana nggak dibayar pakai uang. Katanya dia sering menerima ikan atau jagung dari para orangtua karena merasa dia minterin anaknya. Makan di sana juga seadanya. Pernah dia sama sesama guru di sana makan serangga musiman yang suka ganggu padi. Air bersih juga sulit," tutur Arri yang berprofesi sebagai guru SD kelas satu tersebut.
Anni yang di mata Arri adalah sosok yang humoris serta teguh memegang komitmen ini memang sungguh-sungguh mempedulikan nasib anak bangsa. Anni prihatin dengan para siswa di Sumba yang ketinggalan pelajaran dan kurang fasilitas.
Walaupun harus jauh dari keluarga dan tak boleh menikah selama mengikuti program, Ani menikmati perannya sebagai guru Bimbingan Konseling di sana.
"Kalau guru honorer lain kan cita-citanya ingin diangkat menjadi PNS. Dia itu mencintai pekerjaannya, jadi kalau nggak diangkat ya nggak apa-apa. Menurut aku kalau dulu ada ibu Kartini yang membela pendidikan perempuan, dia juga seperti Kartini masa kini yang membela pendidikan penerus bangsa yang tertinggal," cerita wanita kelahiran 1987 itu.
Sekarang hampir dua tahun sudah Anni mengajar di sana. Arri mengatakan ada kemungkinan Anni akan meneruskan tugasnya sebagai guru BK karena telah jatuh cinta dengan Sumba. Melihat semangat dan perjuangan Anni di Sumba, membuat Arri yang kerap mengeluhkan nasibnya yang masih berstatus guru honorer ini menjadi lebih mensyukuri keadaaan. Ia juga kagum akan kepedulian Anni terhadap generasi penerus bangsa yang kerap luput dari perhatikan pemerintah.
Arri merupakan salah satu wanita peserta kontes foto Inspiring Woman yang diadakan Wolipop. Arri mengirimkan foto temannya Anni yang baginya adalah sosok inspiratif. Apakah Anda juga merasa memiliki karir yang bisa menjadi inspirasi untuk sesama? Atau ada teman yang sosoknya menginspirasi Anda? Kenalkan sosok wanita inspiratif versi Anda dengan cara mengikuti kontes foto 'Inspiring Woman' dan dapatkan hadiah menarik dari Wolipop. Cara mendaftarnya klik di sini.
(ami/eny)
Awalnya, Anni, sapaan khas Annisa'ai, adalah seorang guru BK (Bimbingan Konseling) biasa di sebuah Sekolah Menengah Pertama di Tuban, Jawa Timur, daerah asalnya. Sampai suatu ketika, ada sebuah program Kementerian Pendidikan bernama SM3T. Program yang merupakan singkatan dari Sarjana Mendidik di Daerah Terluar, Tertinggal, dan Terdepan ini memungkinkan seorang guru honorer mendapat sertifikasi setelah dua tahun mengajar di daerah tertinggal. Meski tak semua orang, apalagi wanita mau melakukannya, Anni melihat ini sebagai suatu kesempatan emas.
"Setahu saya, dia menerima ikut SM3T itu karena pengalamannya lebih menantang. Yang buat saya salut, dia kan sudah diterima di sebuah sekolahan. Diterima jadi guru honorer saja sudah susah kalau tidak ada yang masukin dan dia rela meninggalkan kerjaan yang sudah enak untuk pergi ke Sumba," tutur Arri yang sama-sama berprofesi guru dan merupakan teman sebangku Anni ketika SMP ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di sana nggak dibayar pakai uang. Katanya dia sering menerima ikan atau jagung dari para orangtua karena merasa dia minterin anaknya. Makan di sana juga seadanya. Pernah dia sama sesama guru di sana makan serangga musiman yang suka ganggu padi. Air bersih juga sulit," tutur Arri yang berprofesi sebagai guru SD kelas satu tersebut.
Anni yang di mata Arri adalah sosok yang humoris serta teguh memegang komitmen ini memang sungguh-sungguh mempedulikan nasib anak bangsa. Anni prihatin dengan para siswa di Sumba yang ketinggalan pelajaran dan kurang fasilitas.
Walaupun harus jauh dari keluarga dan tak boleh menikah selama mengikuti program, Ani menikmati perannya sebagai guru Bimbingan Konseling di sana.
"Kalau guru honorer lain kan cita-citanya ingin diangkat menjadi PNS. Dia itu mencintai pekerjaannya, jadi kalau nggak diangkat ya nggak apa-apa. Menurut aku kalau dulu ada ibu Kartini yang membela pendidikan perempuan, dia juga seperti Kartini masa kini yang membela pendidikan penerus bangsa yang tertinggal," cerita wanita kelahiran 1987 itu.
Sekarang hampir dua tahun sudah Anni mengajar di sana. Arri mengatakan ada kemungkinan Anni akan meneruskan tugasnya sebagai guru BK karena telah jatuh cinta dengan Sumba. Melihat semangat dan perjuangan Anni di Sumba, membuat Arri yang kerap mengeluhkan nasibnya yang masih berstatus guru honorer ini menjadi lebih mensyukuri keadaaan. Ia juga kagum akan kepedulian Anni terhadap generasi penerus bangsa yang kerap luput dari perhatikan pemerintah.
Arri merupakan salah satu wanita peserta kontes foto Inspiring Woman yang diadakan Wolipop. Arri mengirimkan foto temannya Anni yang baginya adalah sosok inspiratif. Apakah Anda juga merasa memiliki karir yang bisa menjadi inspirasi untuk sesama? Atau ada teman yang sosoknya menginspirasi Anda? Kenalkan sosok wanita inspiratif versi Anda dengan cara mengikuti kontes foto 'Inspiring Woman' dan dapatkan hadiah menarik dari Wolipop. Cara mendaftarnya klik di sini.
(ami/eny)










































