Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Intimate Interview

Denny Wirawan Untung Besar Saat Baru Jadi Desainer karena Krisis Moneter

wolipop
Senin, 24 Feb 2014 15:15 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. M. Abduh/Wolipop
Jakarta -

Denny Wirawan merupakan salah satu desainer Indonesia yang masih terus mempertahankan eksistensinya sampai saat ini. Denny mulai membangun labelnya sejak 1996 silam. Ia pun telah melalui masa-masa sulit selama kurang lebih 15 tahun termasuk ketika Indonesia mengalami krisis moneter 1997.

Saat berbincang dengan Wolipop akhir Desember lalu, Denny menuturkan bahwa krisis moneter memberikan pengaruh besar terhadap kariernya sebagai desainer pemula. Meskipun semua harga naik kala itu namun ternyata kenaikan tersebut memberikan dampak positif untuk para desainer lokal.

"Semua mengalami kenaikan yang fantastis sampai barang impor nggak terjangkau customer, baju-baju branded harganya naik drastis sehingga akhirnya yang diuntungkan yang lokal. Biasanya kita jual baju cuma Rp 200ribu sampai 250ribu, waktu itu bisa sampai Rp 800 ribu," tutur Denny kepada Wolipop di kantornya kawasan Cipete, Jakarta Selatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Harga yang ditawarkan para desainer lokal saat krisis masih bisa dijangkau oleh masyarakat sehingga keuntungan kian meningkat. Keuntungan yang ia rasakan bukan tanpa usaha tapi pria berdarah Jawa-Bali itu juga mencari cara bagaimana menghadapi pergolakan ekonomi. Ia pun memanfaatkan semua stok bahan yang dimilikinya untuk menghemat karena harga material kain kala itu naik 100%. Ternyata bertahan saat krisis sangat mempengaruhi bisnisnya di industri mode.

Setelah berhasil melewati krisis moneter, Denny telah memiliki beberapa counter di department store. Denny tidak hanya berhasil bertahan tapi juga dapat meningkatkan kualitas rancangannya. Ini membuat koleksi pria yang kerap memakai kemeja itu dikenal masyarakat dan disukai oleh para pecinta fashion.

Perkembangan kariernya sebagai desainer juga didukung dengan pembangunan mal yang semakin banyak di kota-kota besar Indonesia. Menurut pria asal Surabaya itu tidak mudah mendapatkan 'hati' para pelanggan untuk membeli koleksinya tapi butuh kerja keras dan keyakinan. Belum lagi ditambah masuknya brand-brand dunia ke dalam pasar Indonesia.

"Tinggal bagaimana kita nggak hanya survive tapi bangkit. Desainer yang lebih dulu dari saya banyak yng tumbang waktu itu (krisis moneter) karena nggak kuat. Saya salah satu yang survive alhamdulillah sampai sekarang, di tengah serbuan brand baru, desainer baru, karya saya masih mendapat tempat di hati customer," ujar pria lulusan Susan Budiharjo itu.

Bagi Anda yang baru meniti karier sebagai desainer, Denny menyarankan agar tetap konsisten dengan karya Anda. Selain konsisten perlu adanya eksistensi di dunia fashion seperti mengikuti fashion show atau acara lainnya sebagai bentuk wujud diri Anda. Menurutnya, desainer itu pekerjaan yang menyenangkan dan menghasilkan uang tapi harus dikerjakan dengan rasa cinta.

"Tanpa adanya cinta, pekerjaan menjadi desainer itu menjadi tidak menyenangkan dan tidak menghasilkan uang," tambahnya di akhir perbincangan.

(aln/fer)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads