Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Liputan Khusus Profesi Make-up Artist

Duka Make-up Artist, Hanya Libur 4 Hari Setahun karena Terlalu Sibuk

Arina Yulistara - wolipop
Jumat, 27 Sep 2013 11:38 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Dok. Pribadi
Jakarta - Beberapa orang mungkin menganggap pekerjaan menjadi make-up artist memiliki waktu yang fleksibel dan bisa diatur secara pribadi. Ternyata pada kenyataannya profesi itu tidak mengenal waktu kerja. Penuhnya permintaan perlu dikoordinasi agar tidak ada klien yang kecewa. Tidak ada libur di akhir pekan merupakan salah satu risiko bila ingin menjadi penata rias profesional.

Salah satu make-up artist Indonesia, Marlene Hariman, menuturkan bahwa akhir pekan menjadi hari yang sibuk karena banyak sekali permintaan sehingga tidak bisa digunakan untuk bersantai. "Tidak pernah punya hari libur di weekend jadi saatnya orang libur aku yang harus kerja. Kebalikan sekali dengan orang kantoran," ujar Marlene yang diwawancarai Wolipop melalui e-mail.

Hal serupa juga diakui oleh Bubah Alfian. Bahkan pria yang sudah menekuni profesi sebagai penata rias sejak 2007 silam itu pernah hanya libur empat hari dalam satu tahun. "Tahun kemarin itu saya cuma libur empat hari, satu hari itu minimal tiga tempat paling banyak delapan," tutur Bubah polos saat berbincang-bincang dengan Wolipop di Plaza Indonesia, Jakarta Selatan, Selasa (24/9/2013).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tidak hanya Marlene dan Bubah, make-up artist ternama lainnya, Ryan Ogilvy juga merasakan hal yang sama. Mencari waktu libur cukup sulit dilakukan ketika menjadi seorang penata rias terutama saat banyak permintaan masuk. Pria 29 tahun lulusan Universitas Interstudi itu berusaha mengatur waktu agar jadwalnya tidak bentrok.

"Dalam tiga-dua tahun belakangan ini hampir setiap hari, sebulan paling dua kali libur. Weekend kerja terus. Menurut aku, opportunity yang ada kita manfaatin, bukannya serakah siapa tahu kerjaan itu bermanfaat buat aku. Kita kerja kan ada target. Kita mencapainya kerja keras. Kalau kerja, kerja saja ya bingung, makanya kita harus mencintai pekerjaan kita," papar Ryan kepada Wolipop di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (23/9/2013).

Terkadang, saat sakit pun para pekerja dunia hiburan, termasuk seorang penata rias harus tetap bekerja untuk menjaga profesionalismenya. Tidak ada kata 'absen' karena sakit di benak mereka. Hal tersebut dilakukan karena mereka mencintai pekerjaannya. Ryan juga pernah mengalami sakit yang membuatnya harus masuk rumah sakit tapi terpaksa tidak dirawat karena tuntutan pekerjaan. Bahkan pria asal Pontianak itu hingga membawa selang infus ke lokasi pemotretan salah satu iklan.

Tidak hanya Ryan, Bubah pun mengalaminya. Ia pernah kecelakaan motor saat berangkat ke lokasi syuting tapi tidak langsung ke rumah sakit malah pergi bekerja. Bubah mengaku baru mengobati luka-luka di tubuhnya ketika pulang kerja pada malam hari.

(ays/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads