Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Survei: 34% Pekerja di Indonesia Bekerja dari Luar Kantor

Dona Rema - wolipop
Senin, 29 Apr 2013 17:08 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta - Intensitas kerja yang tinggi, ditambah dengan kemacetan Ibu Kota, terkadang membuat pekerjaan tertunda. Penundaan pekerjaan juga berdampak pada tugas yang dikejar deadline, sehingga karyawan merasa stres dan frustasi.

Sistem kerja baru pun diciptakan, yaitu dengan telecommuting atau remote work. Dengan sistem tersebut, memungkinkan karyawan bisa bekerja dari mana saja baik itu di rumah, cafe, maupun dalam mobil di tengah kemacetan. Telecommuting sendiri merupakan gaya hidup dunia kerja baru yang tak mengharuskan karyawannya datang ke kantor. Pekerjaan atau komunikasi antar karyawan dan atasan, maupun karyawan dengan karyawan bisa dilakukan melalui media internet, komputer juga telepon.

Kini dengan datangnya teknologi smartphone dan komputer tablet, sistem ini mulai populer dan dianggap sebagai alternatif cara untuk memaksimalkan efektivitas kerja. Berdasarkan data Ipsos dari Australia, di kebanyakan negara berkembang telah menerapkan tren ini. Sebut saja 27% pekerja di Timur Tengah dan Afrika, 25% karyawan di Amerika Latin, 24% pekerja di Asia Pasifik dan 9% pekerja di Eropa. Secara global, 3 dari 10 pekerja di seluruh dunia sepakat bahwa mereka memilih untuk bekerja secara telecommute ketimbang dari kantor.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di Indonesia sendiri, dengan jumlah pekerja hingga 34% telah menggunakan ini," ungkap Dhyoti Rororasmi Basuki, Head of Public Relation Intel Indonesia, saat berbincang-bincang dengan media pada acara 'Intel Telecommuting Media Experience' di Segarra, Pantai Carnaval Ancol, Senin (29/04/2013).

Indonesia juga menjadi negara kedua terbesar setelah India (56%) dalam hal telecommuting. Selain kemampuan pekerja yang didukung dengan teknologi yang memadai, kesempatan yang diberikan oleh perusahaan juga menjadi faktor pendukung dari tingginya jumlah telecommmuter di Indonesia.

Adanya sistem bekerja seperti ini, tak perlu membuat karyawan repot-repot pergi ke kantor. Dengan bekerja secara telecommuting, pekerja bisa menghemat waktu, tenaga dan uang. Selain itu, Anda juga bisa mendapatkan fleksibilitas untuk melakukan pekerjaan pribadi bersamaan dengan pekerjaan kantor. Tugas pun bisa diselesaikan tepat waktu.

Meskipun sistem kerja seperti ini bisa mempermudah karyawan, namun bekerja secara telecommuting juga memiliki dampak negatif, salah satunya menjadi kurang bersosialisasi dengan rekan kerja di kantor dan berpotensi membuat pekerja menjadi malas.

(rma/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads