Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Liputan Khusus

Ikut Arisan dalam Bentuk Emas & Reksadana, Ketahui Risikonya!

wolipop
Kamis, 21 Feb 2013 16:54 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta - Beberapa kalangan menyebut arisan sebagai bentuk investasi atau cara lain untuk menabung. Namun di mata pakar keuangan, arisan tak lebih dari sekadar ajang untuk bersosialisasi.

Menurut Lisa Soemarto, senior financial planner di Akbar's Financial Check-Up, arisan kurang tepat disebut sebagai investasi karena tidak ada pergerakan dari nilai uang yang dimasukkan. Sedangkan untuk disebut investasi, simpanan uang haruslah menguntungkan.

"Kurang tepat, hanya salah satu cara untuk nabung tapi nggak ada bunga. (Uang) disimpan dulu, nanti berapa bulan kemudian bisa balik," jelas Lisa saat dihubungi wolipop, Selasa (19/02/2013).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaimana bila barang yang diarisankan berupa emas, yang harganya bisa berubah (naik atau turun)? Wanita peraih gelar master di sebuah universitas di Prancis itu mengatakan, arisan emas juga tidak terlalu efektif untuk memberikan keuntungan yang signifikan jika tujuannya adalah untuk investasi.

"Kalau dapat uang juga bisa dibelikan emas. Kenapa harus menunggu arisan dulu untuk beli emas? Itu (beli emas) tidak harus melalui arisan, bisa kapan saja," ujarnya.

Begitu juga bila arisan berbentuk reksadana. Saat ini muncul tren dimana bandar arisan bisa mengikutkan uang yang disetorkan anggota ke pasar saham. Tapi itu juga bukan tanpa risiko, karena saat menanam saham bisa terjadi untung juga rugi. Bahkan Lisa menilai memasukkan uang arisan ke reksadana cukup tinggi risikonya.

"Bahaya banget karena reksadana untuk jangka panjang. Kalau iya lagi untung. Kalau rugi, yang ikut arisan nanggung rugi juga nggak? Lebih baik dikelola sendiri. Itu (menaruh uang arisan di reksadana) seperti untung-untungan karena reksadana bentuk investasi jangka panjang yang harus di atas dua tahun. Sementara arisan rata-rata setahun," urai wanita yang mengajar di School of Business Management Institut Teknologi Bandung itu.

Dari sisi finansial, Lisa belum melihat kegiatan yang umumnya diikuti ibu rumah tangga dan sosialita ini sebagai suatu keuntungan yang signifikan. Ia pun tak menyarankan bila arisan --dalam bentuk apapun-- dijadikan sebagai investasi.

"Saya bukan bilang arisan itu negatif, tapi bila dikaitkan dengan finansial belum bisa dibilang investasi. Meski begitu, arisan baik buat sosialisasi," tutur Lisa.

(/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads