Liputan Khusus
Beban Moril yang Kerap Dihadapi Pengacara Wanita
Menjadi seorang pengacara merupakan profesi prestisius yang diidamkan banyak orang. Dengan penghasilan tinggi, pandangan sosial yang cenderung ke atas hingga kemampuan intelektual yang tersirat membuat banyak orang ingin menekuni bidang yang satu ini.
Terbagi atas banyak spesialisasi, bisa dibilang bidang litigasi adalah favorit dari para pengacara muda wanita di Indonesia. Wolipop menemui tiga di antaranya; Nurmalita Malik dari Lubis Ganie Surowidjojo, Shinta Nurfauzia Husni dari Lubis Santosa & Maramis dan Ria Lusiana dari Adnan Buyung Nasution & Partners.
Ketiganya telah menyukai profesi ini dan menekuninya dari usia yang muda. Dengan segala suka dukanya, profesi pengacara menjadi pilihan hidup yang menjadi penyaluran passion sekaligus pilar kesejahteraan hidup masing-masing. Dari sekian banyak tantangan, diakui beban moril dalam membela klien tertentu merupakan salah satu yang paling tangguh untuk dijalani.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beban moril pasti ada tapi kita harus profesional, harus membela siapapun dia. Kalau dibilang pengacara enggak punya hati, kita harus memisahkan perasaan pribadi," ujar Lita menambahkan.
Hal ini pun secara kompak disetujui oleh Shinta dan Ria. Mereka melihat saat menjadi pengacara, cara berpikir sudah harus sistematis dan sesuai dengan prinsip hukum dan undang-undang.
(/)











































