Liputan Khusus

Ligwina Hananto Sempat Kehilangan Jati Diri Setelah Resign

- wolipop Jumat, 04 Mei 2012 10:41 WIB
Dok. pribadi
Jakarta - Ligwina Hananto kini sudah menemukan pekerjaan yang memang menjadi impiannya, seorang financial planner. Pekerjaan sesuai passionnya itu didapatkannya setelah ia terpaksa resign dan kehilangan jati diri. Bagaimana Ligwina bisa sukses pasca resign?

Sebelum menjadi pendiri QM Financial, Wina, sapaan akrab Ligwina, pernah bekerja sebagai seorang customer service di sebuah bank asing. Pekerjaan tersebut dilakukannya selama setahun dan ia berhenti pada 1999.

Wina kemudian pindah ke sebuah agency. Di kantor barunya itu, ia dipercaya sebagai media planner. Namun saat baru setahun bekerja, dia diminta suaminya, Dondi Hananto, untuk berhenti bekerja. "Setelah punya anak pertama, diminta berhenti kerja sama suami gue," ujarnya saat berbincang dengan wolipop melalui telepon Rabu (2/5/2012). Sang suami ingin Wina fokus mengurus anak-anak mereka.

Saat baru berhenti kerja itu, Wina mengaku terkaget-kaget. Dia merasa kehilangan identitasnya sebagai wanita bekerja. "Yang biasanya menenteng tas, pakai sepatu hak, baju kantor, terus pakai daster, nyusuin. Gue ngerasa bersalah karena merasa nggak happy," ucap wanita lulusan Curtin University of Technology, Australia itu.

Bagi Wina, perasaan kehilangan identitas itulah yang paling berat untuknya pasca keluar dari pekerjaannya di sebuah agency. Meski begitu dia tidak menyesali keputusannya untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga.

"Gue ngerasain ini adalah proses untuk mengenal diri sendiri. Mendengarkan kata hati. Reflecting my self apa yang bisa gue kerjakan," kisah ibu dua anak itu.

Dari refleksi diri itu Wina kemudian berhasil menemukan apa yang ingin dikerjakannya yaitu menjadi seorang perencana keuangan. Pekerjaan tersebut terpikir untuk dilakoninya setelah pada suatu hari dirinya membeli sebuah produk asuransi pendidikan dengan premi Rp 8 juta per tahun. "Di tahun keenam, dapatnya Rp 10 juta, ngapain gue pertahanin," tukasnya.

Pengalamannya membeli asuransi itu membuat Wina sadar ada banyak orang yang tidak paham soal investasi. Ia merasa dibutuhkan suatu profesi yang bisa menjembatani antara orang yang tidak mengerti soal perencanaan keuangan dengan pihak lain seperti bank atau perusahaan investasi.

Setelah tahu apa yang diinginkannya yaitu menjadi perencana keuangan, wanita kelahiran 3 Mei 1976 itu menuntut ilmu lagi di IPMI (Institut Pengembangan Manajemen Indonesia ) Business School. Selain mengambil gelar master, Wina juga melakoni sejumlah course seperti Certified Financial Planner, Associate Estate Planning Practitioner dan Certified Wealth Manager.

Lulus dari IPMI Business School pada 2004, Wina kemudian mendirikan Quantum Magna Financial. Ia menjadi Co-Founder pada perusahaan yang bergerak di bidang konsultasi dan perencanaan keuangan tersebut. Bagi Wina, pekerjaannya sekarang sudah sesuai passionnya. Sejak remaja dulu dia memang sudah bercita-cita menjadi pebisnis yang mengurusi uang.

"Umur 17 tahun pernah diinterview untuk majalah sekolah. Ditanya cita-citanya apa, gue bilang mau jadi bisnis owner yang ngurusin duit orang. Gue sekarang bukan hanya perencana keuangan independen. Sekarang sudah konsentrasi ke bisnisnya, mau dikembangin seperti apa, HRD-nya, marketingnya, operationnya, financenya," urai wanita yang mendapat penghargaan Advance Leading 50 Woman 2011 itu.


(eny/eya)