Gaji Besar Buat Karyawan Betah? Belum Tentu!
wolipop
Rabu, 08 Feb 2012 17:39 WIB
Jakarta
-
Setiap orang berusaha untuk bekerja keras demi memiliki kehidupan yang lebih baik atau agar tujuan hidupnya tercapai. Misalnya membeli sebuah rumah berukuran besar, mobil mewah, liburan keliling dunia, atau memiliki barang-barang mewah lainnya. Cara untuk dapat memenuhi apa yang diinginkan tersebut tentunya dengan memiliki uang yang banyak dan bekerja keras.
Malah terkadang, beberapa orang akan mencoba melakoni karir yang bisa membuat mereka mendapatkan semua kemewahan tersebut. Bagi mereka, uang menjadi jaminan kepuasaan bekerja.
Pertanyaannya, apakah memang benar uang bisa membuat seseorang terus bertahan pada pekerjaannya? Kalau memang iya, sampai kapan hal itu terjadi?
Menurut Psikolog dan Hipnoterapis, Neha Patel, sekarang ini kebanyakan orang merasa tertekan saat harus menerima pekerjaan yang bisa memberikan mereka gaji besar dan fasilitas baik. "Tekanan ini sering datang dari orang tua yang ingin anak mereka menjadi orang yang sukses," ujarnya, seperti dikutip dari Times of India.
Namun pada akhirnya, orang yang memilih gaji besar ketimbang kepuasaan pada pekerjaan ini biasanya akan merasa tidak puas setelah lima sampai enam tahun kemudian. Kepuasaan tersebut datang ketika mereka sebenarnya sudah bisa menyesuaikan diri dengan pekerjaannya.
Patel mengatakan, cukup banyak kliennya yang mengalami kasus seperti di atas. Salah satunya adalah seorang profesional di bidang IT berusia 40-an tahun. Dia sebenarnya lebih menulis atau melukis. Setelah bekerja cukup lama, orang tersebut didera depresi karena merasa tidak senang atau bahagia pada pekerjaannya.
Sang psikolog menjelaskan, ketika seseorang tidak merasa bahagia dengan pekerjaannya, hal tersebut bisa mempengaruhi hubungannya dengan keluarga dan teman. Patel pun menyarankan, jika hal tersebut Anda alami, sebaiknya ambil waktu untuk menikmati hobi dan kegiatan lainnya dalam keseharian Anda.
Psikolog Chandni Mehta yang juga melakukan konseling karir, setuju dengan pendapat Patel. Menurutnya, uang dan status yang yang memotivasi orang untuk mengambil pekerjaan dan membangun karirnya, mungkin tidak bisa memberi Anda kebahagiaan pada pekerjaan.
Kalaupun memang bahagia, Mehta mengatakan, kebahagiaan orang tersebut hanya bersifat sementara. Nantinya, secara bertahap, kelelahan dan frustrasi dapat menciptakan masalah interpersonal pada diri mereka. Oleh karena itu, ia menyarankan jika Anda masih berusia muda sebaiknya berhati-hati dalam menganalisis karir apa yang Anda suka. Carilah pilihan terbaik yang ada, lalu ambil keputusan apakah mereka ingin tetap berjuang untuk karir yang mereka sukai atau tidak.
(rma/eny)
Malah terkadang, beberapa orang akan mencoba melakoni karir yang bisa membuat mereka mendapatkan semua kemewahan tersebut. Bagi mereka, uang menjadi jaminan kepuasaan bekerja.
Pertanyaannya, apakah memang benar uang bisa membuat seseorang terus bertahan pada pekerjaannya? Kalau memang iya, sampai kapan hal itu terjadi?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun pada akhirnya, orang yang memilih gaji besar ketimbang kepuasaan pada pekerjaan ini biasanya akan merasa tidak puas setelah lima sampai enam tahun kemudian. Kepuasaan tersebut datang ketika mereka sebenarnya sudah bisa menyesuaikan diri dengan pekerjaannya.
Patel mengatakan, cukup banyak kliennya yang mengalami kasus seperti di atas. Salah satunya adalah seorang profesional di bidang IT berusia 40-an tahun. Dia sebenarnya lebih menulis atau melukis. Setelah bekerja cukup lama, orang tersebut didera depresi karena merasa tidak senang atau bahagia pada pekerjaannya.
Sang psikolog menjelaskan, ketika seseorang tidak merasa bahagia dengan pekerjaannya, hal tersebut bisa mempengaruhi hubungannya dengan keluarga dan teman. Patel pun menyarankan, jika hal tersebut Anda alami, sebaiknya ambil waktu untuk menikmati hobi dan kegiatan lainnya dalam keseharian Anda.
Psikolog Chandni Mehta yang juga melakukan konseling karir, setuju dengan pendapat Patel. Menurutnya, uang dan status yang yang memotivasi orang untuk mengambil pekerjaan dan membangun karirnya, mungkin tidak bisa memberi Anda kebahagiaan pada pekerjaan.
Kalaupun memang bahagia, Mehta mengatakan, kebahagiaan orang tersebut hanya bersifat sementara. Nantinya, secara bertahap, kelelahan dan frustrasi dapat menciptakan masalah interpersonal pada diri mereka. Oleh karena itu, ia menyarankan jika Anda masih berusia muda sebaiknya berhati-hati dalam menganalisis karir apa yang Anda suka. Carilah pilihan terbaik yang ada, lalu ambil keputusan apakah mereka ingin tetap berjuang untuk karir yang mereka sukai atau tidak.
(rma/eny)
Olahraga
Cocok bagi Kolektor, Kaos Kaki Merchandise FIBA Basketball World Cup 2023
Olahraga
Nike Vapor 12 Hard Court, Sepatu Tenis Nyaman dan Responsif
Fashion
Cari Outfit Stylish untuk Acara Malam? Coba Bustier Tank dari H&M Divided
Perawatan dan Kecantikan
Bedak Sering Nempel Nggak Rata? Coba Ganti Puff Kamu Ke Pilihan Produk Ini
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
7 Keuntungan Menjadi Perawat Home Care Dibanding Perawat Rumah Sakit
Mengenal Manfaat Lanyard Id Card dan Rekomendasi Tempat Memesannya
Motivasi Kerja Mulai Pudar? Bangkitkan Lagi dengan 5 Langkah Ini
Mooryati Soedibyo, Pionir Jamu dan Kosmetik Tradisional di Indonesia
Petinju Wanita Nangis Setelah Dipukul 278 Kali, Netizen Salut Semangatnya
Most Popular
1
10 Makanan yang Bantu Menurunkan Hormon Stres, Cocok Disantap saat Burnout
2
Ramalan Zodiak 4 April: Libra Masalah Menghadang, Scorpio Jangan Takut
3
Ramalan Zodiak Cinta 4 April: Aquarius Jangan Emosi, Leo Jaga Cara Bicara
4
Heboh Penampilan Terbaru Ju Ji Hoon dengan Gigi Ompong Saat Promosi Drakor
5
Gaya Rambut 'Ayam Jantan' Putri Kim Jong Un Dilarang untuk Ditiru
MOST COMMENTED











































