Senyum Palsu Bisa Turunkan Performa Kerja
wolipop
Jumat, 20 Mei 2011 11:39 WIB
Jakarta
-
Senyuman menjadi tanda keramahan dan kebahagiaan seseorang. Ternyata hal tersebut tidak selamanya benar. Ternyata orang yang tersenyum belum tentu bahagia.
Jika di tempat kerja Anda memaksakan senyuman Anda, hal ini malah berdampak buruk pada pekerjaan. Jika ingin tetap produktif, tersenyumlah di saat Anda ingin tersenyum. Mengapa begitu?
Sebuah studi di Amerika Serikat yang dipimpin oleh seorang lulusan dari Michigan State University, menyatakan, customer service yang melayani pelanggan dengan senyuman palsu sepanjang hari dapat memperburuk mood mereka. Mood yang buruk dapat menurunkan produktivitas karyawan.
"Atasan mungkin berpikir, bila karyawan yang selalu tersenyum akan berdampak baik bagi perusahaan, padahal hal tersebut belum tentu benar," jelas Brent Scott, asisten profesor peneliti, seperti dikutip dari Times of India.
Sebaliknya, ketika pekerja memberikan senyuman tulus, mereka dapat mengembangkan pikiran positifnya. Selain itu suasana hati pun menjadi lebih baik. Sehingga tim peneliti mengungkapkan sangat tidak disarankan untuk seolah-olah ramah dan menebarkan senyuman, jika mood sedang tidak baik.
"Tersenyum yang dipaksakan dapat menyebabkan kelelahan emosional dan itu berdampak buruk pada perusahaan," tambahnya.
Penelitian yang dilakukan oleh Scott dan mahasiswa S3 mempelajari sekolompok supir bus selama dua minggu. Mereka meneliti beberapa efek senyuman. Senyuman palsu, berusaha berakting tersenyum dan benar-benar menumbuhkan emosi positif dengan mengingat kenangan indah dan menyenangkan. Studi ini pun dipisahkan oleh gender.
"Wanita memiliki dampak yang buruk daripada pria ketika berakting tersenyum, ini membuat suasana hati mereka menjadi lebih buruk," jelas Scott.
Walaupun Anda berpura-pura tersenyum, sementara masih merasakan konfik emosi negatif dapat menyebabkan masalah berbahaya pada wanita. Tapi setidaknya dapat mengubah mood menjadi lebih baik untuk sementara.
"Ini tidak berlaku untuk jangka panjang. Ya, walaupun Anda mencoba mengatur emosi positif, tapi pada akhirnya akan kembali ke diri Anda sendiri," jelas Scott.
(kik/kik)
Jika di tempat kerja Anda memaksakan senyuman Anda, hal ini malah berdampak buruk pada pekerjaan. Jika ingin tetap produktif, tersenyumlah di saat Anda ingin tersenyum. Mengapa begitu?
Sebuah studi di Amerika Serikat yang dipimpin oleh seorang lulusan dari Michigan State University, menyatakan, customer service yang melayani pelanggan dengan senyuman palsu sepanjang hari dapat memperburuk mood mereka. Mood yang buruk dapat menurunkan produktivitas karyawan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebaliknya, ketika pekerja memberikan senyuman tulus, mereka dapat mengembangkan pikiran positifnya. Selain itu suasana hati pun menjadi lebih baik. Sehingga tim peneliti mengungkapkan sangat tidak disarankan untuk seolah-olah ramah dan menebarkan senyuman, jika mood sedang tidak baik.
"Tersenyum yang dipaksakan dapat menyebabkan kelelahan emosional dan itu berdampak buruk pada perusahaan," tambahnya.
Penelitian yang dilakukan oleh Scott dan mahasiswa S3 mempelajari sekolompok supir bus selama dua minggu. Mereka meneliti beberapa efek senyuman. Senyuman palsu, berusaha berakting tersenyum dan benar-benar menumbuhkan emosi positif dengan mengingat kenangan indah dan menyenangkan. Studi ini pun dipisahkan oleh gender.
"Wanita memiliki dampak yang buruk daripada pria ketika berakting tersenyum, ini membuat suasana hati mereka menjadi lebih buruk," jelas Scott.
Walaupun Anda berpura-pura tersenyum, sementara masih merasakan konfik emosi negatif dapat menyebabkan masalah berbahaya pada wanita. Tapi setidaknya dapat mengubah mood menjadi lebih baik untuk sementara.
"Ini tidak berlaku untuk jangka panjang. Ya, walaupun Anda mencoba mengatur emosi positif, tapi pada akhirnya akan kembali ke diri Anda sendiri," jelas Scott.
(kik/kik)











































