Cerita Pasangan Miliuner yang Dulu Miskin saat Menikah

Daniel Ngantung - wolipop Kamis, 06 Agu 2020 08:15 WIB
Poverty And Absence Of Money Concept. Stacks Of Coins Lying On Table In Front Of Sad African American Couple, Crop Ilustrasi suami-istri miskin (Foto: Getty Images/iStockphoto/Prostock-Studio)
Jakarta -

Pernyataan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menuai kontroversi. Ia mengatakan, pernikahan sesama orang miskin menjadi salah satu penyebab utama tingginya angka keluarga miskin baru di Indonesia.

Ia mengatakan hal tersebut saat menjadi pembicara di webinar yang diadakan KOWANI, Selasa (4/8/2020), dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional.

"Rumah tangga baru yang miskin itu rata-rata adalah juga dari keluarga rumah tangga miskin. Ini sesama keluarga miskin, besanan kemudian lahirlah keluarga miskin baru, sehingga perlu ada pemotongan mata rantai keluarga miskin," ungkap Muhadjir dalam acara virtual yang disiarkan di YouTube itu.

Perkataan Muhadjir lantas langsung menuai reaksi yang beragam di jagat media sosial. Banyak di antaranya yang tak sependapat dengan Muhadjir. Menurut mereka, Muhadjir secara tak langsung mendiskreditkan orang miskin.

"Poverty is not a wrong thing, it's just a phase of life, if you don't pass it means you choose it. Menteri PMK tdk seharusnya ngomong gini," tulis seorang pengguna Twitter.

Berada dalam kemiskinan memang bisa saja menjadi bagian dari perjalanan hidup. Seperti sebuah roda yang berputar, terkadang di bawah lalu bergerak ke atas.

Selama berjuang dengan maksimal dan bekerja keras, seseorang bisa lepas dari jerat kemiskinan. Tanpa terkecuali mereka yang ketika menikah sama-sama berasal dari keluarga tak mampu.

Seperti yang dialami sepasang suami-istri asal New England, Amerika Serikat, ini. Dilansir dari situs Grow pada 2018, sang istri yang seorang blogger menceritakan bagaimana perjalanan hidup mereka sehingga bisa menjadi pasangan dengan kekayaan bernilai US$ 2,2 juta atau Rp 32 miliar.


"Saya dan suami memulainya dari bawah. Saya dibesarkan oleh orangtua tunggal, sementara dia tumbuh di tengah keluarga buruh dengan keuangan yang sangat dibatasi. Kami bertemu saat sama-sama menjadi mahasiswa kere yang harus kerja sampingan," tulis perempuan yang tak mau menyebutkan namanya itu.


Lulus pada 2003, mereka mencoba peruntungan dengan masuk ke dunia teknologi setelah perekonomian di AS bergejolak karena 'dotcom crash'. Meski sudah lulus, pasangan tersebut masih memiliki utang US$ 65 ribu dari pinjaman uang kuliah.

Dengan penghasilan yang pas-pasan, mereka tetap bisa melunasi utang tersebut. Seiring berjalannya waktu, keuangan mereka terus membaik.

Kendati demikian, mereka tak tergiur dengan gaya hidup yang penuh kemewahan. "Setiap ada kenaikan gaji, kami meminimalkan pengeluaran sehingga selisihnya bisa kami investasikan untuk rencana pensiun dini dan rencana lainnya," kata perempuan 37 tahun tersebut.

Strategi investasi mereka sederhana, yakni berpegang pada pendanaan berindeks rendah biaya dan menjadi investor jangka panjang yang menghindari fluktuasi pasar. "Ini menolong kami meningkatkan kesejahteraan secara berkala," katanya.

Akhirnya, impian untuk memiliki rumah terwujud pada 2012. Mereka bahkan membelinya tanpa cicilan.

"Kekayaan kami sekitar US$ 2,2 juta," kata istri dari pria yang bekerja di sebuah perusahaan teknologi informasi itu.

Target utama mereka berikutnya adalah menjadi pensiunan di usia 40-an, menjual rumah, lalu berkeliling dunia.



Simak Video "Louis Partridge, Si Tewksbury yang Curi Perhatian di 'Enola Holmes'"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)