Fakta-fakta BDSM yang Jadi Kontroversi di Draf RUU Ketahanan Keluarga

Hestianingsih - wolipop Rabu, 19 Feb 2020 13:13 WIB
Blindfolded woman with red lip on black background Fakta-fakta BDSM. Foto: iStock
Jakarta -

Draf RUU tentang Ketahanan Keluarga menuai kritik. Salah satunya karena RUU ini mewajibkan pelaku BDSM (bondage, dominance, sadism, masochism) untuk direhabilitasi.

Pada Pasal 85, RUU itu berbunyi:

Badan yang menangani Ketahanan Keluarga wajib melaksanakan penanganan krisis keluarga karena penyimpangan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 ayat (3) huruf f berupa:
a. rehabilitasi sosial;
b. rehabilitasi psikologis;
c. bimbingan rohani; dan/atau
d. rehabilitasi medis.


BDSM dalam RUU Ketahanan Keluarga dinilai sebagai masalah krisis keluarga. Seperti tertuang dalam Pasal 74, seperti dikutip dari detiknews, RUU mewajibkan pemerintah pusat dan pemerintah daerah melaksanakan penanganan kerentanan keluarga.

Adapun masalah krisis keluarga yang dimaksud sebagai berikut:
a. masalah ekonomi;
b. tuntutan pekerjaan;
c. perceraian;
d. penyakit kronis;
e. kematian anggota Keluarga; dan
f. penyimpangan seksual.

Fakta-fakta BDSM yang Jadi Kontroversi di Draf RUU Ketahanan KeluargaFakta-fakta BDSM. Foto: iStock


Mengapa BDSM sampai diatur dalam draf RUU Ketahanan Keluarga? Apakah benar BDSM merupakan perilaku penyimpangan seksual? Berikut ini fakta-fakta BDSM yang perlu kamu ketahui.

1. Definisi BDSM

Seperti dikutip dari Everyday Health, BDSM merupakan praktik seksual yang melibatkan kontrol fisik, penguasaan psikologis atau kekerasan. Biasanya memasukkan komponen yang melibatkan pengontrolan seperti jeratan atau pendisiplinan misalnya pihak yang berperan dominan memberikan hukuman kepada pasangan submisif ketika dia melanggar aturan (Dominance dan Submission).


2. Sadomasokis dalam Praktik BDSM

Masokis termasuk dalam praktik BDSM. Ditunjukkan dengan perilaku di mana seseorang mendapatkan rangsangan atau kepuasan seksual ketika dia merasakan sakit atau dipermalukan. Adapun sadism, adalah sebutan bagi seseorang yang terangsang secara seksual ketika memberikan rasa sakit atau hukuman.

Fakta-fakta BDSM yang Jadi Kontroversi di Draf RUU Ketahanan KeluargaFakta-fakta BDSM. Foto: ilustrasi/thinkstock


3. BDSM Tidak Selalu Berkaitan dengan Seks

Dilansir dari Cosmopolitan, BDSM tidak selalu berkaitan dengan seks tapi bisa juga berupa aktivitas mental. Seperti permainan pikiran dan interaksi mental antara si dominan dan submisif. Tidak juga harus selalu melibatkan alat-alat seperti cambuk, borgol, tali dan rasa sakit.


4. Perilaku BDSM Bisa Berbahaya, Jika...

Jika dilakukan tidak berdasarkan batasan konsensual masing-masing pasangan, BDSM bisa jadi perilaku berbahaya yang berisiko. Maka dari itu diperlukan komunikasi dan diskusi mendalam untuk mengetahui batasan-batasan tentang apa yang membuat pasangan nyaman atau justru terganggu. Jika ingin 'bermain' BDSM, pastikan dilakukan dengan orang yang tepat dan sudah tahu batasan.

5. BDSM Tidak Boleh Dipaksakan

BDSM umumnya mengandung unsur-unsur tidak manusiawi atau bahkan kekerasan seksual. Namun praktik BDSM tidak bisa dilakukan jika tak ada kesepakatan antara kedua belah pihak.

Fakta-fakta BDSM yang Jadi Kontroversi di Draf RUU Ketahanan KeluargaFakta-fakta BDSM. Foto: iStock


6. Pelaku Sadomasokis Lebih Banyak Pria

Berdasarkan studi yang dilakukan Johnson Masters dari American Psychiatric Association, pria lebih cenderung berperilaku sadomasokis ketimbang wanita dengan rasio 20 : 1.

7. BDSM Gangguan Perilaku Seksual, Tapi...

Kamus panduan diagnosis gangguan mental menyebut BDSM adalah sebuah gangguan, terutama jika mengakibatkan stres atau penurunan fungsi pada pelaku. Namun jika dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama dan kedua belah pihak tidak ada yang merasa dirugikan atau tersiksa, menurut psikolog justru bisa menyehatkan secara kejiwaan.

Dr Andreas Wismeijer, psikolog dari Tilburg University mengatakan penganut BDSM cenderung lebih ekstrovert, lebih terbuka sehingga jarang stres. Kecenderungan lainnya adalah jarang mengeluh, atau dalam psikologi sering disebut sebagai gangguan neurotik.



Simak Video "Dikritik Netizen Soal Pakaian, Ini Kata Tim Indonesia di WSDC 2017"
[Gambas:Video 20detik]
(hst/hst)