Viral Pria Lamar Wanita Bugis dengan Uang Panai Rp 3 M, Apa Itu Uang Panai?

Eny Kartikawati - wolipop Selasa, 11 Feb 2020 16:00 WIB
Acara prosesi lamaran khas gadis Bugis di Soppeng, Sulsel, Aqila Nadya viral di medsos karena uang panainya disebut-sebut senilai Rp 3 miliar. Begini potret lamarannya. Lamaran pria dan wanita Bugis, Makassar, viral karena uang panai Rp 3 miliar. Foto: Instagram
Jakarta -

Prosesi lamaran atau tunangan wanita Bugis dengan nama Aqilla Nadya dan pria asal Gowa, Omar Muhammad Sahar tengah viral. Penyebabnya Omar memberikan uang panai sebesar Rp 3 miliar saat melamar Aqila.

"UANG PANAI 3 Milyar gaeeees...😁😁😁 #lokasi cabbenge , kab shoppeng , sulsel. H omar sahar ( bos minyak / spbu ) dengan Aqilla nadya ( bu dokter)," demikian postingan di Facebook yang mengabarkan lamaran Aqila dan Omar yang kini viral.

"Uang Panai 3 Milyard... Dan mobil,berlian serta Rumah," tulis akun Facebook lainnya yang postingan tersebut hingga kini sudah dibagikan ulang hingga 5 ribu kali.

Selain ribuan kali dibagikan ulang, postingan Facebook mengenai lamaran pasangan yang digelar di Soppeng, Sulawesi Selatan, pada Senin (10/2/2020) itu juga dibanjiri komentar. Tak sedikit netizen yang berkomentar bertanya apa sebenarnya uang panai.



Secara umum yang orang ketahui, uang panai, sering juga ditulis panai' atau panaik, merupakan uang yang wajib diserahkan pihak pria ke keluarga pihak wanita yang akan menjadi istrinya. Uang panai ini berbeda dengan mahar ataupun seserahan. Ketika sudah diberikan pada pihak calon istri, uang panai sepenuhnya untuk keluarga pihak wanita.

Sosiolog dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Rahmat Muhammad, mengatakan uang panai yang dikenal dalam tradisi pernikahan masyarakat Bugis-Makassar ini sejatinya, merupakan perlambang penghormatan terhadap kaum wanita atau secara spesifik sebagai penghormatan calon suami terhadap calon istri.

"Uang panai juga merupakan siri, atau kewibawaan-harga diri dalam budaya Bugis-Makassar," kata Rahmat seperti dikutip dari detikNews.

Sosiolog Unhas lainnya yaitu Ramli AT menjelaskan dalam tradisi masyarakat Bugis-Makassar, pria yang hendak menikah harus punya kemampuan finansial yang cukup. Kenapa demikian?



"Laki-laki yang menikah itu istilahnya harus mampu 'mengelilingi dapur sebanyak tujuh kali', artinya punya kemampuan kemandirian ekonomi," kata Rahmat.

Nominal uang panai bermacam-macam. Menurut Rahmat Muhammad uang panai umumnya berkisar antara jutaan hingga ratusan juta Rupiah. Jumlah uang panai ini biasanya akan diumumkan saat prosesi lamaran atau tunangan. Pengumuman ini lah yang membuat uang panai jadi lambang prestise di kalangan masyarakat Bugis-Makassar.

"Dalam perkembangannya, angka itu menjadi simbol gengsi karena angka itu dipublish. Misalnya, seorang perempuan dilamar dengan uang panai sekian ratus juta Rupiah, itu menjadi simbol bahwa yang terlibat dalam pernikahan ini adalah orang mampu. Memang jumlah panai harus diumumkan," kata Rahmat.

Rupanya jumlah uang panai juga tak melulu soal prestise. Uang panai yang tinggi juga bisa menjadi tanda bahwa pihak calon mertua menolak calon suami anaknya. Oleh karena itulah keluarga wanita akan menetapkan nominal uang panai yang tinggi agar si pria urung menikahi calon istrinya.

"Cara keluarga wanita menolak laki-laki adalah menaikkan uang panai menjadi sangat tinggi. Kalau sudah tidak masuk akal, tidak memungkinkan dilihat kemampuan laki-laki, biasanya itu maksudnya adalah penolakan," tutur Ramli AT.





Simak Video "Viral! Wanita Ini Bicara Bahasa Bugis dengan Logat Korea"
[Gambas:Video 20detik]
(eny/eny)