Saat Terpaksa Ngutang untuk Resepsi Pernikahan, Ini yang Harus Dilakukan

Gresnia Arela Febriani - wolipop Minggu, 17 Nov 2019 10:07 WIB
Ilustrasi pasangan ngutang demi pesta pernikahan. Foto: iStock Ilustrasi pasangan ngutang demi pesta pernikahan. Foto: iStock

Jakarta - Demi mewujudkan pernikahan impian, tak sedikit calon pengantin yang akan melakukan apa saja, termasuk meminjam uang melalui penyedia jasa keuangan. Hingga akhirnya sang pengantin baru menanggung utang pernikahan dalam waktu lama. Apakah kamu termasuk yang berutang demi menggelar resepsi pernikahan meriah dengan banyak tamu undangan?

Menurut perencanaan keuangan, Bareyn Mochaddin jika calon pengantin sudah terlanjur mengutang, yang pertama harus dilakukan adalah komunikasi dan diskusi dengan pasangan. Jangan rahasiakan beban utang itu dari suami atau istri.

"Karena permasalahan keuangan rumah tangga itu kalau tidak akan selesai jika tidak didiskusi dan tanpa dukungan dari pasangan. Dua-duanya harus sama-sama saling tahu," jelas Bareyn berbincang dengan Wolipop di Pacific Place, Jakarta Selatan, Rabu (13/11/2019).



Kedua calon pengantin, ditegaskan Bareyn, harus saling terbuka dengan kondisi keuangan masing-masing. "Kita harus tau gajinya berapa, dia punya asuransi, dia punya aset di mana aja? Dia punya utang atau nggak. Jangan-jangan dia menyembunyikan hal itu. Kelihatannya banyak duit ternyata dia menyembunyikan hal itu. Ketahuan pas penikahan dan banyak utang," katanya.

Saat Terpaksa Ngutang untuk Resepsi Pernikahan, Ini yang Harus Dilakukanperencanaan keuangan, Bareyn Mochaddin. Foto: gresnia/wolipop


CEO dari Rizkanna Financial Plan ini menyebutkan hal berikutnya yang bisa dilakukan pasangan muda saat terlanjur utang untuk membuat pesta pernikahan adalah dengan segera melunasinya atau mengajukan permintaan untuk memundurkan pembayaran kepada pihak yang memberikan utang. Permintaan memundurkan bayar ini bisa dilakukan asalkan sang pengantin memiliki pinjaman.

"Pinjaman yang berupa jaminan biasnaya bunganya lebih rendah. Dibandingkan dengan bunga non jaminan. Kalau jaminan bisa lebih mudha dikomunikasikan ke banknya. Jika belum bisa membayar, bisa disesuaikan cicilannya diperkecil tetapi pembayarannya lebih panjang masa pembayarannya," jelas Bareyn.



Bareyn menyarankan pengantin untuk mengajukan pinjaman dengan jaminan agar tidak terus digulung bunga. "Lembaga keuangan ada risiko bunga yang menyebabkan menggulung pembayarannya. Sehingga kalau tidak bisa membayar akan diblacklist jadi sulit untuk mengajukan KPR, kredit mobil dan itu akan mengganggu kehidupan ke depannya," ucap financial planer 29 tahun itu.

Bareyn sendiri kantornya pernah kedatangan klien yang terjebak utang pesta pernikahan. Pasangan itu mengadakan pesta pernikahan mewah bahkan berbulan madu keliling Eropa. Namun mirisnya, uang yang dikeluarkan untuk pesta pernikahan dan bulan madu itu merupakan utang dari lembaga keuangan dengan sistem KTA (Kredit Tanpa Agunan).

"Hingga akhirnya mereka pulang ke Indonesia dan pusing dengan cicilannya," ujar Bareyn.

Pasangan itu cukup beruntung mendapatkan uang angpau atau uang kondangan dari para tamu dalam jumlah banyak. Mereka juga memiliki beberapa aset yang bisa dijual.

"Akhirnya mereka harus merelakan sesuatu yang sudah dipunya untuk menutupi sesuatu yang sudah mereka nikmati. Kan sayang sebenarnya," ucap Bareyn.

Sebagai penutup Bareyn menegaskan berutang demi mengadakan pesta pernikahan mewah atau meriah bukanlah pilihan ideal. Saat utang jadi pilihan, pasangan tersebut harus menghadapi risiko jangka panjang maupun pendek.

"Setelah selesai dia menyelenggarakan pernikahannya tesebut, bulan depan dia harus membayar cicilannya. Masalah duit ini erat kaitannya dengan kondisi psikologi seseorang. Baru juga memulai kehidupan baru sudah ada beban yang lain. Beban cicilan dan bunganya," pungkasnya.

Simak Video "Mantap! Limbah Paralon Disulap Jadi Miniatur Kereta"
[Gambas:Video 20detik]
(gaf/eny)