Ini yang Perlu Dilakukan Jika Keinginan Nikah Terhalang Mitos Jawa

Anggi Mayasari - wolipop Rabu, 14 Agu 2019 17:15 WIB
Ilustrasi gagal menikah karena mitos. Foto: Dok. iStock Ilustrasi gagal menikah karena mitos. Foto: Dok. iStock

Jakarta - Putus cinta dan gagal menikah karena mitos budaya Jawa masih terjadi di Indonesia. Belum lama ini, seorang wanita jadi viral karena menceritakan kisah cintanya yang kandas setelah lima tahun berpacaran karena weton, ramalan perayaan hari kelahiran berdasarkan hitungan dalam kalender Jawa.

Selain itu, seorang wanita asal Yogyakarta juga mengalami nasib serupa. Ia gagal menikah karena rumah sang kekasih menghadap ke utara. Menurut budaya Jawa, posisi rumah yang menghadap ke utara dapat mendatangkan kemalangan dan dianggap tak baik.

Tak bisa dipungkiri bahwa fenomena putus cinta atau gagal menikah karena mitos sesuai kepercayaan budaya yang dianut ini masih kerap dialami oleh beberapa pasangan. Lalu, bagaimana cara menanggapinya jika pasangan yang ingin menikah terhalang dengan weton atau mitos Jawa lainnya?

Menurut psikolog klinis dewasa, Sri Juwita Kusumawardhani, jika hal tersebut terjadi ada beberapa yang perlu dilakukan baik sebagai anak dan orangtua. Komunikasi dan kematangan emosi menjadi kunci untuk bisa mempertahankan hubungan cinta, karena masalah mitos yang belum tentu terjadi.

"Coba tanyakan baik-baik apakah tidak ada cara lain untuk menangkal atau menolak dampak negatifnya, alih-alih langsung marah karena menganggap hal tersebut tidak masuk akal," kata psikolog yang akrab disapa Wita ini saat dihubungi Wolipop, Selasa (13/8/2019).



Untuk meluluhkan hati kepercayaan budaya yang dianut oleh orangtua, menunjukkan kualitas positif pasangan juga perlu dilakukan. "Artinya, memperjuangkan pasangan memang harus jelas bahwa dia layak untuk diperjuangkan ya," jelas psikolah dari Tiga Generasi @ Brawijaya Clinic.

Sementara itu, sebagai orangtua perlu juga memikirkan jalan untuk kompromi demi kebahagiaan anak. Menurut Wita, jika calon mantu memang terbukti layak untuk diperjuangkan, orangtua perlu mempertimbangkan kembali meskipun ada nilai-nilai yang dianut.

"Ingat, bahwa kebahagiaan anak menjadi hal yang paling penting. Tentunya, jika mereka sudah menunjukkan kedewasaan dan kemandirian secara psikologis untuk menikah. Artinya, nanti mereka juga yang bertanggungjawab akan pilihannya. Kalau nanti orangtua yang campur tangan, jika ada dampak negatif di kemudian hari, harus siap menanggung akibatnya juga yakni anak menjadi menyalahkan," ungkap Wita.



Simak Video "Koleksi Sneakers, Investasi Kekinian Anak Muda"
[Gambas:Video 20detik]
(agm/eny)