Ini Sejarahnya Mengapa Pengiring Pengantin Wanita Pakai Baju Kompak
Rahmi Anjani - wolipop
Kamis, 17 Mar 2016 10:14 WIB
Jakarta
-
Menghadirkan bridesmaid atau pengiring pengantin wanita sudah menjadi tradisi dalam pernikahan. Kebiasaan tersebut juga banyak diadopsi tak sedikit pasangan di Indonesia. Umumnya para bridesmaid memakai baju dengan warna yang sama sehingga terlihat kompak saat hari bahagia sahabat atau keluarganya.
Tradisi tersebut ternyata memiliki sejarahnya sendiri. Adanya pengiring pengantin berasal dari era Romawi kuno ketika pesta perayaan pernikahan mulai populer. Kala itu, mereka tidak hanya diwajibkan untuk memakai busana serupa dengan sesama bridemaids namun juga sang pengantin.
Mereka hadir di altar dengan tampilan yang hampir serupa. Tujuannya kala itu bukan untuk memberikan dukungan untuk sahabat dan anggota keluarga terdekat. Para pengiring berpakaian sama tersebut ternyata dimaksudkan untuk menjadi umpan untuk mengusir setan.
Zaman dahulu ternyata para pengantin tidak hanya dipusingkan dengan biaya atau konsep pernikahan. Kedua mempelai juga harus mengkhawatirkan kedatangan roh-roh jahat di hari bahagia mereka. Untuk itu, pengiring pengantin pria dan wanita dihadirkan untuk mengusir setan dan kemarahan.
Demi keselamatan pasangan, mereka pun berbusana kompak. Dengan begitu, diharapkan roh-roh jahat akan bingung dengan waktu yang lama sehingga kedua mempelai bisa sampai menguncapkan janji pernikahan.
Ancaman kedatangan roh-roh jahat pun mulai luntur di era Victoria. Para pengiring pengatin pria dan wanita mulai melepaskan protokol dan mengalternatifkan busana dengan pengantin. Mereka juga sering berpakaian lebih rumit dari pada mempelai itu sendiri. (sra/sra)
Tradisi tersebut ternyata memiliki sejarahnya sendiri. Adanya pengiring pengantin berasal dari era Romawi kuno ketika pesta perayaan pernikahan mulai populer. Kala itu, mereka tidak hanya diwajibkan untuk memakai busana serupa dengan sesama bridemaids namun juga sang pengantin.
Mereka hadir di altar dengan tampilan yang hampir serupa. Tujuannya kala itu bukan untuk memberikan dukungan untuk sahabat dan anggota keluarga terdekat. Para pengiring berpakaian sama tersebut ternyata dimaksudkan untuk menjadi umpan untuk mengusir setan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Demi keselamatan pasangan, mereka pun berbusana kompak. Dengan begitu, diharapkan roh-roh jahat akan bingung dengan waktu yang lama sehingga kedua mempelai bisa sampai menguncapkan janji pernikahan.
Ancaman kedatangan roh-roh jahat pun mulai luntur di era Victoria. Para pengiring pengatin pria dan wanita mulai melepaskan protokol dan mengalternatifkan busana dengan pengantin. Mereka juga sering berpakaian lebih rumit dari pada mempelai itu sendiri. (sra/sra)










































