Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Suami Masih Sering Stalking Media Sosial Mantan, Harus Bagaimana?

wolipop
Senin, 22 Sep 2014 19:33 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

dok. Thinkstock
Jakarta - Meski sudah menikah, terkadang isu tentang mantan kekasih masih sering bergulir. Seperti cerita dari pembaca Wolipop yang mengirim surat konsultasi tentang kegalauannya saat ini karena suami masih sering stalking Facebook mantan kekasihnya.

"Suatu hari saya liat HP suami dan buka Facebooknya, yang saya temukan suami masih suka lihat Facebook mantan dan itu hampir dilakukan setiap hari. Dia bukan sekadar lihat Facebook tapi juga 'say hai' dengan mantannya tersebut," ungkap wanita bernama Dila.

Dari situ, Dila khawatir jika suaminya akan bertemu dengan mantannya lagi. Saat ini wanita 32 tahun itu jadi sering curiga dan mudah marah dengan suaminya ketika ia pergi keluar rumah. Ini jawaban dari psikolog Ratih Ibrahim perihal kasus suami yang masih sering mengecek media sosial mantannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Jangan Langsung Menuduh
Terkadang batasan antara cemburu dan cemburu buta memang kecil, apalagi perasaan sudah dipenuhi dengan emosi. Meski begitu, psikolog Ratih Ibrahim mengatakan bahwa cemburu seringkali menjadi rancu padahal belum ada bukti yang mengarah ke sana. "Situasi ini pada akhirnya membuat diri dan kondisi pernikahan menjadi buruk karena situasi rumah menjadi 'panas', terjadi pertengkaran, curiga dan kemarahan," ungkap Ratih.

 Untuk itu, sebaiknya jangan langsung menuduhnya. Daripada pikiran dikuasi oleh hal-hal negatif, sebaiknya tumbuhkan perasaan percaya padanya.

2. Fokus Pada Hal Positif
"Berfokus pada hal-hal positif yang dapat kamu lakukan dibandingkan berfokus pada hal-hal negatif yang tidak pasti terjadi atau belum terjadi. Misalnya, sederhana saja, tingkatkan kualitas diri kamu, dengan memperhatikan kesehatan, kerapihan, kebersihan diri dan penampilan diri," saran psikolog dan Pendiri Conseling and Development Center PT Personal Growth.

Dengan melakukan hal-hal yang dapat memajukan diri sendiri, seperti memperluas wawasan, memberikan inspirasi dan mengundang perasaan positif terhadap diri kamu sendiri, maka Anda tidak sempat memikirkan hal-hal negatif. Ratih menambahkan, mengurus anak, memberikan afeksi dan kasih sayang yang penuh, membentuk attachment dengan anak juga membantu Anda untuk berpikiran positif.

3. Jelaskan Tentang Konsekuensi
Untuk suami, berikanlah dia kebebasan yang bertanggungjawab. Setiap manusia akan tidak nyaman jika selalu diawasi. "Kenyataannya diawasi sekalipun bila memang niatnya tidak baik, ia akan dapat mencuri waktu," tegas psikolog berambut pendek itu.

Untuk itu, Ratih menyarankan agar memberikan berikan penekanan terhadap pentingnya menjaga kepercayaan yang selama ini sudah terbentuk dan ungkapkan konsekuensi yang harus dijalaninya bila rasa percaya tersebut hilang akibat ia jelas-jelas berselingkuh dengan orang lain, seperti kehilangan kepercayaan, rasa sayang dan rasa hormat dari Anda.

4. Dukung Suami Beraktivitas
Daripada mengekangnya, lebih baik buat suami nyaman ketika ia melakukan aktivitas yang memang ia sukai. "Banyak waktu luang di rumah tanpa melakukan kegiatan yang bermanfaat dan menghasilkan seringkali membuat orang berpikiran untuk mencoba atay melakukan hal-hal yang menyimpang. Selain itu juga dapat membuat seseorang merasa rendah diri dan menjadi lebih sensitif," ujar Ratih.

Oleh karena itu bicarakan bersama dan dukung suami untuk beraktivitas, bekerja, mengaktualisasikan dirinya sesuai dengan kemampuan dan keahliannya. Ingatkan suami juga bahwa sosoknya sangat dikagumi oleh Anda dan anak-anak, dengan begitu ia akan lebih ingat dengan anak serta istrinya dan menghindari hal-hal menyimpang.

(kik/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads