Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Perbedaan Sifat Buat Pernikahan Langgeng, Mitos atau Fakta?

Eny Kartikawati - wolipop
Rabu, 04 Apr 2012 07:32 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta - Ada banyak mitos soal pernikahan yang jika dipercaya bisa membuat seseorang jadi ragu naik pelaminan. Mitos-mitos ini makin berkembang karena kerap dimuat dan ditampilkan media. Misalnya berita soal perceraian selebriti yang belakangan semakin banyak saja.

Seperti dikutip dari psychology today, Profesor Psikologi dari University of Massachusetts Amherst melalui bukunya 'The Search for Fulfillment' mengungkap berbagai mitos seputar pernikahan. Apa saja mitos tersebut?

1. Pasangan yang punya sifat berbeda pernikahannya lebih langgeng ketimbang yang sifatnya sama

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Memang orang akan cenderung tertarik pada lawan jenis yang sifatnya berbeda. Perbedaan sifat membuat pasangan lebih tertantang untuk mengenal satu sama lain. Apakah pasangan yang punya sifat berbeda ini akan sukses ketika menjalani pernikahan? Menurut Susan, berdasarkan penelitian, pernikahan justru akan langgeng ketika pasangan memiliki kesamaan sifat dan cara berpikir. Ketika usia pernikahan sudah berjalan-jalan bertahun-tahun lamanya, pasangan ini akan merasa nyaman dan seperti hidup dengan sahabat.

2. Makin banyak pernikahan berakhir cerai

Sekarang ini rasanya semakin sering saja melihat pernikahan yang berakhir dengan perceraiaan. Apakah memang kini makin banyak saja pasangan yang bercerai? Faktanya, di Indonesia, berdasarkan data Badan Urusan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung (MA), selama periode 2005 hingga 2010 terjadi peningkatan perceraian hingga 70 persen.

3. Kehadiran anak bisa menyebabkan pernikahan retak

Beberapa penelitian menunjukkan kebahagian pasangan umumnya menurun setiap memiliki seorang anak. Ini bukan berarti cinta Anda berdua semakin berkurang atau kehadiran anak kurang menyatukan Anda. Yang sesungguhnya terjadi adalah tantangan yang semakin bertambah dan hubungan yang semakin rumit. Sebagai pasangan, Anda harus realistis tentang kapan momen yang tepat untuk memiliki anak. Jangan pernah menganggap memiliki anak adalah solusi untuk meredam konflik Anda dengan pasangan. Hidup Anda akan banyak berubah setelah memiliki anak. Sebaiknya kuatkan dulu hubungan dan komunikasi Anda dengan pasangan sebelum mencoba memiliki tanggungjawab yang lebih besar dengan memiliki anak.

4. Tidak perlu berkonsultasi dengan ahli saat pernikahan memburuk

Jika Anda dan pasangan sudah tidak mampu mengatasi sendiri masalah Anda, tak ada salahnya berkonsultasi dengan ahli. Tak perlu menunggu hubungan Anda di ambang perceraian sebelum berkonsultasi dengan ahli. Semakin lama Anda tunggu, semakin parah masalah yang mendera Anda berdua. Terapi konsultasi pasangan lebih efektif jika dilakukan untuk mencegah dan pada tahap awal ketimbang jika dilakukan pada saat hubungan sudah di ujung perceraian.

5. Lebih baik tidak usah memberitahu pasangan saat Anda marah atau kecewa

Jika Anda memilih tidak meluapkan kemarahan demi menghindari pertengkaran, ini tentu tidak sehat untuk Anda sendiri. Sesungguhnya yang bisa merusak pernikahan adalah tidak menyelesaikan konflik atau pertengkaran Anda. Pertengkaran merupakan suatu komunikasi penting dan bisa membantu menyelesaikan konflik. Usahakan pertengkaran Anda selalu berakhir pada solusi. Perlahan-lahan turunkan emosi agar bisa menemukan ujung dari pertengkaran Anda. Jangan menggunakan kata-kata kasar pada saat bertengkar. Katakan saja apa yang ada di perasaan Anda dan hindari tuduhan serta prasangka yang tidak berdasar. Fokus pada masalah yang diperdebatkan dan jangan mengungkit hal-hal lain apalagi kesalahan masa lalu.

(eny/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads