5 Fase Dalam Pernikahan yang Bisa Bahayakan Hubungan
Eya Ekasari - wolipop
Senin, 02 Apr 2012 17:10 WIB
Jakarta
-
Para peneliti dari Australia percaya ada lima fase paling krisis yang akan dialami tiap pasangan menikah. Sayangnya, kebanyakan pasangan justru tidak sadar bahwa mereka tengah berada dalam fase yang membahayakan dalam pernikahannya.
Tujuan para peneliti mengeluarkan daftar ini juga bukan bertujuan untuk menakut-nakuti setiap pasangan yang menikah. Mereka berharap, hasil penelitian ini dapat membuat para pasangan lebih mengerti dan bisa mencegah krisis yang tengah mereka hadapi.
Masih menurut penelitian, sebanyak 20 persen pasangan biasanya tidak berhasil melewati ke lima krisis tersebut sehingga mengakhiri pernikahannya. Berikut fase-fase krisis yang akan dihadapi tiap pasangan, seperti yang dikutip dari Genius Beauty.
1. Pasca bulan madu
Fase ini adalah saat pasangan mulai kembali ke 'dunia nyata'. Mereka biasanya terkejut dengan kenyataan bahwa kisah cinta mereka tak sesempurna saat bulan madu. Hal ini adalah saat yang paling tepat untuk masa penyesuaian.
2. Pasca melahirkan
Kedatangan sang buah hati bisa memutarbalikkan keadaan rumah tangga. Peran baru sebagai orang tua seringkali menimbulkan percekcokan di sana-sini.
3. Masalah keuangan
Semakin tua umur pernikahan, maka semakin banyak pula kebutuhan Anda. Terkadang kebutuhan yang tak sesuai dengan pemasukan menjadi masalah yang cukup runcing. Ada baiknya untuk membicarakan masalah pengaturan keuangan dengan pasangan sejak dini.
4. Pergantian pekerjaan
Pergantian pekerjaan akan membuat kondisi fisik dan mental seseorang menjadi tidak stabil. Perubahan kebiasaan, waktu serta tekanan kerja dapat juga mempengaruhi rumah tangga seseorang. Jangan biarkan diri Anda dan pasangan terlena dengan kesibukan pekerjaan. Jangan sampai pernikahan Anda menjadi korban.
5. Pensiun
Pensiun juga dapat mempengaruh mental seseorang. Perasaan tidak berharga dan berguna akan mempengaruhi sisi emosional. Jika hal ini terjadi pada Anda dan pasangan, yang harus dilakukan adalah saling membimbing. Tanamkan pada diri Anda dan pasangan, bahwa rasa cinta dan saling menghargai, akan tetap bertahan dalam keadaan terburuk sekalipun.
(eya/eya)
Tujuan para peneliti mengeluarkan daftar ini juga bukan bertujuan untuk menakut-nakuti setiap pasangan yang menikah. Mereka berharap, hasil penelitian ini dapat membuat para pasangan lebih mengerti dan bisa mencegah krisis yang tengah mereka hadapi.
Masih menurut penelitian, sebanyak 20 persen pasangan biasanya tidak berhasil melewati ke lima krisis tersebut sehingga mengakhiri pernikahannya. Berikut fase-fase krisis yang akan dihadapi tiap pasangan, seperti yang dikutip dari Genius Beauty.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fase ini adalah saat pasangan mulai kembali ke 'dunia nyata'. Mereka biasanya terkejut dengan kenyataan bahwa kisah cinta mereka tak sesempurna saat bulan madu. Hal ini adalah saat yang paling tepat untuk masa penyesuaian.
2. Pasca melahirkan
Kedatangan sang buah hati bisa memutarbalikkan keadaan rumah tangga. Peran baru sebagai orang tua seringkali menimbulkan percekcokan di sana-sini.
3. Masalah keuangan
Semakin tua umur pernikahan, maka semakin banyak pula kebutuhan Anda. Terkadang kebutuhan yang tak sesuai dengan pemasukan menjadi masalah yang cukup runcing. Ada baiknya untuk membicarakan masalah pengaturan keuangan dengan pasangan sejak dini.
4. Pergantian pekerjaan
Pergantian pekerjaan akan membuat kondisi fisik dan mental seseorang menjadi tidak stabil. Perubahan kebiasaan, waktu serta tekanan kerja dapat juga mempengaruhi rumah tangga seseorang. Jangan biarkan diri Anda dan pasangan terlena dengan kesibukan pekerjaan. Jangan sampai pernikahan Anda menjadi korban.
5. Pensiun
Pensiun juga dapat mempengaruh mental seseorang. Perasaan tidak berharga dan berguna akan mempengaruhi sisi emosional. Jika hal ini terjadi pada Anda dan pasangan, yang harus dilakukan adalah saling membimbing. Tanamkan pada diri Anda dan pasangan, bahwa rasa cinta dan saling menghargai, akan tetap bertahan dalam keadaan terburuk sekalipun.
(eya/eya)











































