3 Hal Yang Mempersulit Adaptasi Dalam Pernikahan
wolipop
Jumat, 01 Okt 2010 14:32 WIB
Jakarta
-
Di awal pernikahan, adaptasi merupakan hal yang penting untuk dilakukan. Menyatukan dua sosok manusia berbeda budaya, visi, misi dan pikiran tentu tidak mudah.
Namun ada beberapa hal yang membuat adaptasi berjalan kurang lancar. Anda pun perlu mengetahuinya sehingga bisa menghindari hal tersebut. Demikian hal-hal yang perlu Anda waspadai seperti dikutip dari Helium.
1. Berprasangka buruk
Anda tak pernah berbicara dari hati ke hati dengan pasangan. Sebaliknya Anda malah berprasangka buruk padanya. Hal ini akan semakin buruk jika Anda dan pasangan memiliki budaya yang berbeda. Misalnya suami Anda berasal dari Sumatera yang biasa berbicara
dengan suara keras, sedangkan Anda dari Jawa yang cenderung memiliki intonasi bicara yang lembut. Suara keras suami akan selalu Anda anggap sebagai kemarahan, padahal tak selalu begitu.
Untuk itu bukalah hati Anda untuk berkomunikasi dengan pasangan. Jangan juga mengesampingkan budayanya. Yang Anda harus lakukan adalah melihat sisi positif dari suami, bukannya berprasangka buruk.
2. Campur tangan orang tua
Campur tangan orang tua tak selalu berakibat baik bagi pernikahan Anda. Apalagi jika orang tua justru membuat perseteruan Anda dan suami semakin 'panas'. Sebisa mungkin selesaikan masalah Anda dan suami berdua saja, tanpa campur tangan siapapun. Karena Anda berdua adalah orang yang paling mengenal jalannya pernikahan.
3. Menyinggung budaya
Separah apapun Anda berseteru, jangan pernah menyinggung latar belakang keluarga serta budayanya. Karena hal itu akan membuat pasangan sakit hati. Selain itu Anda juga berarti membuka jalur perseteruan tidak hanya dengan suami, tapi juga dengan seluruh keluarganya. Keharmonisan rumah tangga pun akan menjadi taruhannya.
(kee/kee)
Namun ada beberapa hal yang membuat adaptasi berjalan kurang lancar. Anda pun perlu mengetahuinya sehingga bisa menghindari hal tersebut. Demikian hal-hal yang perlu Anda waspadai seperti dikutip dari Helium.
1. Berprasangka buruk
Anda tak pernah berbicara dari hati ke hati dengan pasangan. Sebaliknya Anda malah berprasangka buruk padanya. Hal ini akan semakin buruk jika Anda dan pasangan memiliki budaya yang berbeda. Misalnya suami Anda berasal dari Sumatera yang biasa berbicara
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu bukalah hati Anda untuk berkomunikasi dengan pasangan. Jangan juga mengesampingkan budayanya. Yang Anda harus lakukan adalah melihat sisi positif dari suami, bukannya berprasangka buruk.
2. Campur tangan orang tua
Campur tangan orang tua tak selalu berakibat baik bagi pernikahan Anda. Apalagi jika orang tua justru membuat perseteruan Anda dan suami semakin 'panas'. Sebisa mungkin selesaikan masalah Anda dan suami berdua saja, tanpa campur tangan siapapun. Karena Anda berdua adalah orang yang paling mengenal jalannya pernikahan.
3. Menyinggung budaya
Separah apapun Anda berseteru, jangan pernah menyinggung latar belakang keluarga serta budayanya. Karena hal itu akan membuat pasangan sakit hati. Selain itu Anda juga berarti membuka jalur perseteruan tidak hanya dengan suami, tapi juga dengan seluruh keluarganya. Keharmonisan rumah tangga pun akan menjadi taruhannya.
(kee/kee)











































