5 Fakta Kehidupan di Korea Selatan, Tak Selalu Manis seperti Drakor Romantis

R Chairini Putong - wolipop Senin, 09 Agu 2021 11:12 WIB
IU saat berperan dalam drama Korea My Mister IU dalam drama Korea My Mister. Foto: dok. tvN
Jakarta -

Penggemar drama Korea pasti pernah berandai-andai untuk tinggal di Korea Selatan. Pasalnya, drama Korea menampilkan pemandangan indah yang memikat turis setiap tahunnya.

Ketampanan aktor Korea dapat menyihir para wanita hingga berharap akan berjodoh dengan pria asal Korea Selatan. Namun, kehidupan di Korea Selatan tak selalu manis seperti drama Korea romantis.

Beberapa drama Korea menggambarkan kehidupan pahit yang dihadapi warga Korea Selatan. Seperti kehidupan siswa SMA yang mendapat tekanan untuk masuk universitas bergengsi.

Berikut 5 fakta kehidupan di Korea Selatan yang tidak semulus drakor romantis:

1. Persaingan Masuk Universitas Bergengsi

Drama Korea SKY Castle menggambarkan persaingan ketat yang dihadapi siswa SMA hingga menderita depresi. Para orang tua rela melakukan apa pun agar anaknya masuk universitas kenamaan.

Fakta Kehidupan di Korea SelatanSKY Castle Foto: dok. JTBC

SKY sendiri merupakan singkatan dari tiga universitas paling bergengsi di Korea Selatan, yaitu Universitas Nasional Seoul, Universitas Korea, dan Universitas Yonsei.

Dilansir dari New York Times, masuk ke salah satu universitas SKY dianggap sebagai penentu karier dan status sosial seseorang di Korea Selatan. Ketiga universitas telah melahirkan politisi hingga birokrat paling berpengaruh di Korea Selatan.

2. Standar Kecantikan Tidak Realistis

Korea Selatan dikenal dengan standar kecantikan yang tidak realistis. Seseorang dikatakan sempurna bila memiliki tubuh langsing, wajah kecil, rahang berbentuk v, kulit pulit pucat, alis lurus, kulit mulus, dan mata yang lebih besar.

Fakta Kehidupan di Korea SelatanGangnam Beauty Foto: dok. JTBC

Hal ini digambarkan dalam drama Korea My ID is Gangnam Beauty, di mana karakter utama di-bully karena penampilannya. Ia memutuskan untuk melakukan operasi plastik demi membuka lembaran baru, namun mendapat julukan karena hasil oplas terlihat.

Prosedur operasi plastik sudah menjadi hal lumrah di Korea Selatan, bahkan ditanggung oleh sistem asuransi kesehatan. Pada 2015, International Society of Aesthetic Plastic Surgery menempatkan Korea Selatan sebagai negara dengan tingkat oplas tertinggi pada urutan ke-10.

3. Senioritas dan Bullying Marak di Sekolah

Netizen Korea Selatan menjunjung tinggi budaya untuk menghormati seseorang yang lebih tua. Namun, senioritas kerap disalahgunakan dan memunculkan kasus bullying di sekolah.

Fakta Kehidupan di Korea SelatanWho Are You: School 2015 Foto: dok. KBS2

Drama Korea Who Are You: School 2015 menggambarkan bullying yang dilakukan sekelompok siswa SMA di Korea Selatan. Para guru menutup mata, sementara siswa SMA lainnya tidak berani untuk melawan pelaku bully.

Beberapa artis Korea pun terseret skandal bullying hingga berimbas pada kariernya. Seperti Ji Soo, yang meminta maaf pada korban bully yang dilakukannya semasa SMP dan didepak dari drama Korea River Where The Moon Rises.

4. Tingkat Bunuh Diri yang Tinggi

Pada 2017, WHO menempatkan Korea Selatan sebagai negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi pada urutan ke-10. Tingkat bunuh diri diperparah dengan tingginya angka bunuh diri lansia.

Menurut Korea Expose, salah satu faktor bunuh diri di kalangan lansia adalah kemiskinan. Masalah kesehatan seperti depresi pun menjadi faktor yang membuat seseorang mengakhiri hidup.

Di tahun yang sama, industri Korea Selatan kehilangan Jonghyun SHINee yang bunuh diri di kamar hotel. Ia menuliskan catatan bunuh diri yang menyoroti perjuangannya dengan depresi.

5. Kesenjangan Pendapatan Kaya dan Miskin

Meskipun tak dapat membeli kebahagiaan, uang menjadi sarana penting untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik. Menurut OECD Better Life Index, terdapat kesenjangan yang cukup tinggi di antara orang kaya dan miskin Korea Selatan.

At A Distance Spring Is GreenAt A Distance Spring Is Green Foto: dok. KBS2

Sebanyak 20 persen populasi terkaya memiliki penghasilan lima kali lipat lebih tinggi dari 20 persen termiskin. Sementara itu, Korea Selatan telah menetapkan tingkat upah minimum per jam sebesar 9,160 won atau sekitar Rp 115 ribu di tahun 2022.

Kesenjangan pendapatan di Korea Selatan tergambar dalam drama Korea At a Distance Spring Is Green. Karakter Bae In Hyuk harus mengambil sejumlah pekerjaan paruh waktu untuk menafkahi kehidupannya. Sementara, karakter Park Ji Hoon tak banyak berpikir saat menghabiskan uang.



Simak Video "Hanya 27,6% Wanita Korsel yang Berpikir Lingkungannya Aman"
[Gambas:Video 20detik]
(rcp/rcp)