Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Liputan Khusus

Ini yang Sebabkan Wanita Kalap Saat Lihat Barang Diskon

Arina Yulistara - wolipop
Jumat, 21 Jun 2013 12:37 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Detikfoto
Jakarta - Tidak semua wanita pintar dalam membelanjakan uang mereka. Banyak yang sering belanja berlebihan atau kalap, terutama saat sedang musim diskon. Berbicara soal diskon, Jakarta kini sedang mengadakan sale besar-besaran di beberapa mal yang diikuti oleh sederetan merek-merek ternama.

Hal ini tentu menarik para wanita untuk berburu diskon, padahal belum tentu yang ingin dibelanjakan merupakan kebutuhannya saat itu. Bahkan sebagian dari mereka belanja karena tertarik dengan diskonnya saja, bukan produk yang dibeli. Apa yang menyebabkan wanita sering 'kalap' saat sale?

Psikolog klinis dan forensik, Kasandra Putranto, menjelaskan, diskon menjadi ketertarikan sendiri buat wanita. Jika sebelumnya tidak ingin belanja, akhirnya memutuskan membeli barang yang diskon karena menganggap untung mendapatkan harga murah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena sale memberikan efek psikologis orang jadi pengen beli, lagi diskon beli satu dapat dua, padahal memang harga aslinya setengahnya," tutur Kasandra saat dihubungi wolipop melalui telepon, Rabu (20/6/2013).

Kasandra menuturkan, program Sale hanyalah sebuah teknik marketing untuk menarik para wanita berbelanja. Pemilik brand yang mengadakan program diskon biasanya memakai psikologi marketing supaya produknya laris di pasaran. Misalnya saja, belanja di salah satu brand akan dapat voucher senilai Rp 100 ribu. Padahal harga produk yang dijual tidak ada yang di bawah nilai voucher.

Hal ini kerap membuat wanita tergiur, terutama yang gemar belanja. Mereka merasa untung bila mendapat voucher tersebut karena jika berbelanja lagi bisa mendapat potongan harga. Wanita yang doyan belanja akan lupa kalau mereka harus mengeluarkan uang yang lebih besar demi menukarkan voucher dengan barang yang sebenarnya belum dibutuhkan.

"Sebenarnya itu hanya psikologi marketing. Terkadang kita tertarik dengan harga lebih murah tapi dapatnya banyak padahal dia lupa bahwa uang yang kita belanjakan juga lebih banyak," ujar psikolog lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu.

(ays/ays)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads