Liputan Khusus
3 Langkah Agar Terbebas dari Kecanduan Belanja
Hestianingsih - wolipop
Jumat, 25 Mei 2012 16:33 WIB
Jakarta
-
Belanja merupakan kegiatan yang sangat digemari para wanita. Tak sedikit yang dijuluki sebagai shopaholic karena memiliki kebiasaan belanja yang berlebihan.
Seperti dikutip dari eHow, kebiasaan belanja kompulsif dikenal dengan obsesi aktivitas belanja dan membeli. Perilaku ini mendorong si pembeli untuk membelanjakan uang yang dimilikinya atau bisa juga dengan uang yang belum dipunya (dengan kartu kredit atau meminjam uang ke orang lain).
Perilaku ini bisa menjadi masalah ketika shopaholic mengalami perasaan gembira yang berlebihan. Namun setelah itu mereka mengalami kekecewaan, selalu merasa tidak puas bahkan bisa depresi.
Menurut Psikolog Roslina Verauli, ada beberapa cara untuk mengatasi kecanduan belanja ini. Pertama, adalah mempelajari semua belanjaan yang rata-rata mereka beli, adakah kesamaan?
"Tiap orang bisa berbeda. Ada yang compulsive buyer untuk barang-barang printilan (pernak-pernik), sebagai gaya hidup atau beli buku. Ada pula orang yang senangnya cuma beli peralatan rumah tangga, bahan-bahan masak baru, khusus barang yang dipasarkan online atau tas branded," jelas Vera, begitu sapaan akrabnya saat dihubungi wolipop, Rabu (23/5/2012).
Dengan mengenali kecenderungan barang yang dibeli, akan memudahkan orang untuk lebih bisa memilah. Mana barang yang sebenarnya diperlukan dan apa yang kurang perlu.
Kedua, mengetahui kebutuhan emosi yang harus dipenuhi. Sebagai contoh, apakah dia belanja karena merasa kesepian, perlu pengakuan diri, ingin diperhatikan orang lain atau sekadar mencari kesenangan?
Setelah tahu penyebabnya, yang ketiga adalah menemukan solusi atas pemenuhan kebutuhan emosi yang kurang. Jika seseorang berbelanja karena merasa kesepian maka ia akan disarankan untuk membangun hubungan dekat dan lebih banyak bersosialisasi.
Bila pengakuan akan eksistensi diri, maka ubahlah diri Anda jadi seorang yang produktif. Caranya bisa dengan berkarya, membentuk suatu organisasi yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain (ikut kegiatan sosial, aktif dalam komunitas hobi, dan sebagainya).
Ketika rasa senang yang ia cari, bisa mengalihkannya sesuatu yang lain. Kesenangan tidak harus dipenuhi dengan berbelanja. Masih banyak kegiatan lain yang lebih bermanfaat dari sekadar membeli berpotong-potong pakaian, makan di restoran mahal atau belanja peralatan masak yang sebenarnya tidak diperlukan.
"Penuhi kebutuhan emosional dengan cara yang lebih tepat. Bina hubungan yang lebih berkualitas jika sudah memiliki pasangan. Hindari tempat-tempat belanja, kurangi frekuensi main dengan teman. Jika segala cara sudah dilakukan namun tetap gagal, maka Anda bisa berkonsultasi dengan psikolog," ujar lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.
(hst/hst)
Seperti dikutip dari eHow, kebiasaan belanja kompulsif dikenal dengan obsesi aktivitas belanja dan membeli. Perilaku ini mendorong si pembeli untuk membelanjakan uang yang dimilikinya atau bisa juga dengan uang yang belum dipunya (dengan kartu kredit atau meminjam uang ke orang lain).
Perilaku ini bisa menjadi masalah ketika shopaholic mengalami perasaan gembira yang berlebihan. Namun setelah itu mereka mengalami kekecewaan, selalu merasa tidak puas bahkan bisa depresi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tiap orang bisa berbeda. Ada yang compulsive buyer untuk barang-barang printilan (pernak-pernik), sebagai gaya hidup atau beli buku. Ada pula orang yang senangnya cuma beli peralatan rumah tangga, bahan-bahan masak baru, khusus barang yang dipasarkan online atau tas branded," jelas Vera, begitu sapaan akrabnya saat dihubungi wolipop, Rabu (23/5/2012).
Dengan mengenali kecenderungan barang yang dibeli, akan memudahkan orang untuk lebih bisa memilah. Mana barang yang sebenarnya diperlukan dan apa yang kurang perlu.
Kedua, mengetahui kebutuhan emosi yang harus dipenuhi. Sebagai contoh, apakah dia belanja karena merasa kesepian, perlu pengakuan diri, ingin diperhatikan orang lain atau sekadar mencari kesenangan?
Setelah tahu penyebabnya, yang ketiga adalah menemukan solusi atas pemenuhan kebutuhan emosi yang kurang. Jika seseorang berbelanja karena merasa kesepian maka ia akan disarankan untuk membangun hubungan dekat dan lebih banyak bersosialisasi.
Bila pengakuan akan eksistensi diri, maka ubahlah diri Anda jadi seorang yang produktif. Caranya bisa dengan berkarya, membentuk suatu organisasi yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain (ikut kegiatan sosial, aktif dalam komunitas hobi, dan sebagainya).
Ketika rasa senang yang ia cari, bisa mengalihkannya sesuatu yang lain. Kesenangan tidak harus dipenuhi dengan berbelanja. Masih banyak kegiatan lain yang lebih bermanfaat dari sekadar membeli berpotong-potong pakaian, makan di restoran mahal atau belanja peralatan masak yang sebenarnya tidak diperlukan.
"Penuhi kebutuhan emosional dengan cara yang lebih tepat. Bina hubungan yang lebih berkualitas jika sudah memiliki pasangan. Hindari tempat-tempat belanja, kurangi frekuensi main dengan teman. Jika segala cara sudah dilakukan namun tetap gagal, maka Anda bisa berkonsultasi dengan psikolog," ujar lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.
(hst/hst)
Kesehatan
Minuman Ungu yang Bermanfaat! Review Lengkap BITOVIN Cuka Buah Bit untuk Jantung & Penambah Darah
Perawatan dan Kecantikan
Cuma Pakai Alat Ini, Bulu Mata Bisa Terlihat Lebih Panjang dan Terangkat
Perawatan dan Kecantikan
Rahasia Kulit Glowing dari Toner Beras! Dua Produk Ini Lagi Banyak Dicari
Perawatan dan Kecantikan
Bulu Mata Badai untuk Bukber! 3 Fake Lashes Ini Bikin Tatapan Auto On Point
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Tren Mukena Lebaran 2026: Premium Bordir Cantik dan Travel Praktis Lagi Hits
Tren Baju Lebaran Pria di Tanah Abang, Jasko Premium Hingga Celana Sirwal
Pop Up Booth SYNC Hadirkan Pengalaman Smart Home-Ragam Promo Menarik
Promo Payday Makin Hemat! Ngabuburit Seru Maksimal di Trans Studio Cibubur
Viral Punch the Monkey, Boneka Orangutan IKEA Langsung Ludes
Most Popular
1
Tren Mukena Lebaran 2026: Premium Bordir Cantik dan Travel Praktis Lagi Hits
2
Sosialita Petra Ecclestone Syok, Ungkap Detik-Detik Rudal Iran Hantam Dubai
3
Ramalan Zodiak 2 Maret: Capricorn Jangan Spekulasi, Pisces Hindari Kebohongan
4
7 Alasan Makan Kurma Saat Sahur Bikin Nggak Mudah Lemas
5
Model Ini Diburu Anggota Kartel Setelah Kematian Gembong Narkoba El Mencho
MOST COMMENTED











































