Liputan Khusus
Ini Cara Louis Vuitton Mengatasi Peredaran Tas Palsu
Dengan banyaknya tas KW yang beredar di pasaran, upaya apakah yang dilakukan oleh pihak brand yang dirugikan? Wolipop bertanya kepada Louis Vuitton Indonesia akan hal ini, dan ternyata pemalsuan tas telah berlangsung sejak LV mendulang kesuksesan pertama kali.
Tas LV Monogram Canvas pertama kali diciptakan tahun 1896, dan sejak saat itu sudah banyak yang meniru bahkan memalsukannya. Hingga saat ini, LV tetap menjadi pilihan nomor satu bagi para pembajak untuk meraih keuntungan, mengingat permintaan pasar yang sangat tinggi akan tas palsu merek tersebut.
Dalam pernyataan resminya kepada wolipop melalui email Selasa (17/4/2012), LV mengakui untuk mengatasi pembajakan membutuhkan usaha bersama dan dana yang tidak sedikit. Mereka memulainya dengan membentuk Louis Vuitton's Intellectual Property Department, 20 tahun lalu untuk mengatur hak cipta. Hingga saat ini, sudah ada agen hak cipta sebanyak 250 orang di seluruh dunia untuk memantau pembajakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain kerugian hak cipta, LV melihat hal lain yang lebih menyedihkan, yakni banyaknya anak kecil yang dipekerjakan di China untuk membuat tas palsu tersebut. Mereka yang tidak memiliki biaya untuk sekolah akan memilih bekerja di pabrik tas palsu dan jika tidak bisa membuat tas yang bagus, mereka mungkin akan mengalami kekerasan fisik.
Menyikapinya, LV membentuk asosiasi perlindungan anak dengan SOS Children Village, bulan Juni 2011 lalu. "Melalui hubungan kami dengan SOS Children Village, kami ingin membantu pendidikan anak dan pengembangan kreatif mereka," ujar pemilik dan CEO Louis Vuitton, Yves Carcelle.
(fer/eny)











































