Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Dibandingkan Suami dengan Wanita Lain, Haruskah Cerai?

Ratih Ibrahim - wolipop
Rabu, 27 Mei 2015 09:42 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

dok. Thinkstock
Jakarta -

Saya istri dengan dua anak hendak meminta pandangan terhadap masalah yang saat ini saya hadapi. Dulu setelah kejadian tertentu, saya pernah meminta komitmen suami untuk jangan pernah menghubungi teman lama wanitanya, sebut saja Rina. Tentu saja ada alasan yang menurut saya sangat dapat diterima oleh akal sehat dan perasaan saya. Maksudnya saya sudah memikirkan secara matang. Dan Suami pada saat itu sepakat untuk itu.

Namun saat ini saya mengetahui kalau suami saya itu mencari tahu kembali dan menjalin "komunikasi" apapun bentuknya dengan Rina tersebut. Suami mengelak kalau dikatakan mereka berkomunikasi dan cenderung untuk terus berbohong tentang hal itu dan di akhir pembelaannya dia mengatakan bahwa dibanding kenal dengan saya dia lebih mengenal wanita itu.

Saya merasa terhina dan tentunya sangat sedih. Mendadak saya merasa tidak kenal dengan suami saya dan menjadi sangat tidak peduli. Saya juga schock, ternyata peristiwa seperti ini saja dapat menghancurkan perasaan saya terhadap suami. Saya mencoba menenangkan diri, namun ternyata sulit bagi saya untuk bisa menerima hal itu. Kalau saja tidak karena anak, mungkin saya inginkan berpisah saja.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Boleh dibilang saya tidak pernah meminta apa apapun darinya. Dengan kejadian ini, apakah saya berlebihan kalau menganggap pernikahan ini tidak akan memberikan kebahagian buat saya...(selain kecuali kedua anak saya). Karena menurut saya yang diberikan oleh suami kepada saya sangat minim dan komitmen yang sebenarnya menurut saya mudah untuk dia lakukan dia langgar. Kecuali kalau dia sebenarnya sangat mencintai temannya itu. Dan saya tidak ingin menghabiskan waktu sia-sia dengannya kalau memang demikian.

Kirana, 34 Tahun

Jawab:
 
Dear Kirana,
 
Setiap manusia mencari kebahagiaan dan tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Tolak ukur kebahagiaan setiap orang dapat berbeda. Pastikan fokus pada kebahagiaan yang bersifat kekal bukan hanya pada kebahagiaan yang bersifat semu ataupun sementara. Dan ingat bahwa kebahagiaan bukan ditunggu melainkan diciptakan oleh diri kita sendiri.
 
Diskusilah dengan suami kamu, apa yang diinginkan, diharapkannya dalam pernikahan kalian dan kelanjutan pernikahan kalian. Demikian juga kemukakan apa yang menjadi harapan dan keinginan kamu dalam pernikahan kalian. Pertimbangkan pula kesejahteraan dan kesehatan (baik psikologis maupun fisik/biologis), serta masa depan anak dalam bahasan kamu dan suami. Oleh karena anak merupakan tanggung jawab kalian berdua baik kalian tetap menikah ataupun tidak.
 
Fokuslah pada bahasan mengenai pernikahan kalian dan bukan mengenai teman wanitanya tersebut. Tentukan solusi kalian bersama mengenai persoalan pernikahan yang kalian hadapi. Larangan ataupun pemaksakan kehendak tidak akan menjadi solusi yang tepat kecuali hal tersebut datang dari niatan sendiri.
 
Manusia memang memiliki pilihan bebas untuk memutuskan, bersikap ataupun berperilaku. Namun, selalu akan ada konsekuensi yang mengikuti setiap pilihan yang kita ambil. Oleh karena itu apapun yang akan menjadi pilihan kamu dan suami, pastikan kalian mampu bertanggung jawab terhadap konsekuensi pilihan tersebut. Salam hangat Kirana.

(eny/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads