Perlukah Faktor Ekonomi Jadi Pertimbangan Pilih Calon Suami?
Ratih Ibrahim - wolipop
Kamis, 06 Feb 2014 09:13 WIB
Jakarta
-
Dear Mba Ratih, saya sedang bingung mengambil keputusan untuk melanjutkan hubungan dengan seorang pria yang bisa dibilang kurang dari segi ekonomi. Selama dua tahun ini saya merasa nyaman ngobrol dengannya karena dia bisa mengerti saya dan bisa menenangkan saya sekalipun jarak jauh dan berbeda suku. Saya merasa hubungan kami perlu dimantapkan ke jenjang pernikahan sehingga saya beranikan diri untuk menemuinya ke luar pulau. Dia punya pribadi yang baik & penuh perhatian, secara fisik saya tertarik kepadanya sekalipun kami terpaut usia 8 tahun lebih tua dari saya.
Yang jadi permasalahannya, setelah pertemuan itu, saya jadi ragu untuk menikahinya mengingat usianya, keadaan keluarganya (dia anak tunggal, ibu sudah tiada), keuangannya & yang paling utama, saya tidak punya keluarga di daerah itu. Saya minta pencerahan Mba tentang kebingungan saya, saya pribadi sangat sayang sama pria itu, mengingat usia saya juga sudah tidak muda lagi, saya ingin serius. Terima kasih banyak buat solusinya Mba.
(Frida, 30 Tahun)
Jawab:
Dear Frida,
Kamu cukup bijak dalam mempertimbangkan faktor ekonomi. Memang dalam kenyataannya kehidupan pernikahan tidak terlepas dari faktor ekonomi. Yang perlu kamu cermati disini adalah mengapa kehidupan ekonominya masih kurang di usianya yang sudah terbilang cukup matang, yakni 38 tahun. Bagaimana dengan pekerjaannya selama ini? Bagaimana pula dengan pengaturan keuangan yang selama ini dilakukannya?
Cara seseorang mengatur keuangan itu juga dapat menunjukkan bagaimana ia mengatur kehidupannya. Bila seseorang tidak mampu menyeimbangkan pemasukan dengan pengeluaran hingga selama ini selalu lebih besar pasak daripada tiang, atau uang yang didapatkan selalu habis tanpa bisa menabung untuk masa depan, hal ini menunjukkan kurangnya kemampuan dalam mengendalikan diri dan merencanakan hidup yang mapan. Padahal ia masih sendiri, dalam artian belum beristri dan berkeluarga. Bagaimana bila ia sudah berkeluarga? Silahkan Frida menimbang-nimbang kembali dengan matang apakah siap menjalani sisa hidup bersama dengannya. Salam hangat Frida.
(eny/eny)
Yang jadi permasalahannya, setelah pertemuan itu, saya jadi ragu untuk menikahinya mengingat usianya, keadaan keluarganya (dia anak tunggal, ibu sudah tiada), keuangannya & yang paling utama, saya tidak punya keluarga di daerah itu. Saya minta pencerahan Mba tentang kebingungan saya, saya pribadi sangat sayang sama pria itu, mengingat usia saya juga sudah tidak muda lagi, saya ingin serius. Terima kasih banyak buat solusinya Mba.
(Frida, 30 Tahun)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dear Frida,
Kamu cukup bijak dalam mempertimbangkan faktor ekonomi. Memang dalam kenyataannya kehidupan pernikahan tidak terlepas dari faktor ekonomi. Yang perlu kamu cermati disini adalah mengapa kehidupan ekonominya masih kurang di usianya yang sudah terbilang cukup matang, yakni 38 tahun. Bagaimana dengan pekerjaannya selama ini? Bagaimana pula dengan pengaturan keuangan yang selama ini dilakukannya?
Cara seseorang mengatur keuangan itu juga dapat menunjukkan bagaimana ia mengatur kehidupannya. Bila seseorang tidak mampu menyeimbangkan pemasukan dengan pengeluaran hingga selama ini selalu lebih besar pasak daripada tiang, atau uang yang didapatkan selalu habis tanpa bisa menabung untuk masa depan, hal ini menunjukkan kurangnya kemampuan dalam mengendalikan diri dan merencanakan hidup yang mapan. Padahal ia masih sendiri, dalam artian belum beristri dan berkeluarga. Bagaimana bila ia sudah berkeluarga? Silahkan Frida menimbang-nimbang kembali dengan matang apakah siap menjalani sisa hidup bersama dengannya. Salam hangat Frida.
(eny/eny)











































