Dilema karena Kekasih Ancam Bunuh Diri Saat Tak Mau Diputusin
Ratih Ibrahim - wolipop
Jumat, 09 Nov 2012 14:26 WIB
Jakarta
-
Saya jadian dengan pacar saya seminggu setelah berkenalan dengannya. Awal hubungan kami sangat menyenangkan. Tapi setelah empat bulan, dia mulai jujur kalau sudah memiliki istri dan satu anak. Medengar hal itu saya menangis histeri, mengamuk dan minta putus. Tapi pacar saya mengancam bunuh diri jika saya ngotot minta putus.
Akhirnya saya mengalah, tapi saya menjadi wanita yang galak dan mudah tersinggung. Setiap ada pertengkaran kecil saya selalu ngamuk dan minta putus tapi selau kalah dengan ancaman bunuh dirinya. Mau nggak mau saya harus bertahan dalam hubungan ini.
Setelah hubungan kami sudah satu tahun, dia memutuskan bercerai dengan istrinya dan melanjutkan hubungan dengan saya. Mengetahui hal itu ada perasaan takut dalam diri saya kalau ada karma menimpa saya di kemudian hari. Sekarang hubungan kami sudah dua tahun, apakah hubungan ini sebaiknya dilanjutkan ke jenjang pernikahan, mengingat hubungan ini dimulai dengan tidak baik?
(Anis, 22 Tahun)
Jawab:
Hallo Anis! Kalau dari cerita yang disampaikan, Anda tetap bersedia menjalin hubungan dengan pasangan hingga saat ini walaupun tahu bahwa dia adalah laki-laki yang punya sejarah tidak berkata jujur. Pertama perilakunya yang tidak setia dan tidak jujur kepada istri pertama, kedua tidak jujur kepada Anda. Bertahannya Anda dengan pasangan, apakah benar-benar karena mencintai dia dengan berbagai kualitas potitifnya? Atau semata-mata karena ancaman bunuh diri? Wajar adanya jika kita takut ketika seseorang mengancam akan bunuh diri karena perilaku yang kita lakukan. Tapi penting untuk diketahui bahwa bukan tanggung jawab siapa pun jika seseorang commit suicide. Seseorang bunuh diri karena kemauan sendiri, bukan karena disuruh. Tidak seorang pun yang harus bertanggung jawab atas tindakannya (take the blame of it).
Tapi yang lebih penting, Anda MAU atau tidak menjalani rumah tangga bersama dia? Harus bisa jujur pada diri sendiri. Karena kalau memang MAU, ya harus punya komitmen sehingga kendala apapun yang ada nantinya, akan dihadapi dan berusaha untuk diatasi. Terkait dengan ketakutan akan karma dan awal yang tidak baik, apakah sesuatu yang dimulai dengan tidak baik, pasti akan berakhir dengan tidak baik? Belum tentu. Okelah karma, tapi pasti ada suatu usaha yang bisa dilakukan untuk membuat baik suasana kan?
(eny/eny)
Akhirnya saya mengalah, tapi saya menjadi wanita yang galak dan mudah tersinggung. Setiap ada pertengkaran kecil saya selalu ngamuk dan minta putus tapi selau kalah dengan ancaman bunuh dirinya. Mau nggak mau saya harus bertahan dalam hubungan ini.
Setelah hubungan kami sudah satu tahun, dia memutuskan bercerai dengan istrinya dan melanjutkan hubungan dengan saya. Mengetahui hal itu ada perasaan takut dalam diri saya kalau ada karma menimpa saya di kemudian hari. Sekarang hubungan kami sudah dua tahun, apakah hubungan ini sebaiknya dilanjutkan ke jenjang pernikahan, mengingat hubungan ini dimulai dengan tidak baik?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jawab:
Hallo Anis! Kalau dari cerita yang disampaikan, Anda tetap bersedia menjalin hubungan dengan pasangan hingga saat ini walaupun tahu bahwa dia adalah laki-laki yang punya sejarah tidak berkata jujur. Pertama perilakunya yang tidak setia dan tidak jujur kepada istri pertama, kedua tidak jujur kepada Anda. Bertahannya Anda dengan pasangan, apakah benar-benar karena mencintai dia dengan berbagai kualitas potitifnya? Atau semata-mata karena ancaman bunuh diri? Wajar adanya jika kita takut ketika seseorang mengancam akan bunuh diri karena perilaku yang kita lakukan. Tapi penting untuk diketahui bahwa bukan tanggung jawab siapa pun jika seseorang commit suicide. Seseorang bunuh diri karena kemauan sendiri, bukan karena disuruh. Tidak seorang pun yang harus bertanggung jawab atas tindakannya (take the blame of it).
Tapi yang lebih penting, Anda MAU atau tidak menjalani rumah tangga bersama dia? Harus bisa jujur pada diri sendiri. Karena kalau memang MAU, ya harus punya komitmen sehingga kendala apapun yang ada nantinya, akan dihadapi dan berusaha untuk diatasi. Terkait dengan ketakutan akan karma dan awal yang tidak baik, apakah sesuatu yang dimulai dengan tidak baik, pasti akan berakhir dengan tidak baik? Belum tentu. Okelah karma, tapi pasti ada suatu usaha yang bisa dilakukan untuk membuat baik suasana kan?
(eny/eny)











































