Saran dari Psikolog Agar Orangtua Tidak Terobsesi Mempopulerkan Anaknya

Rahmi Anjani - wolipop Senin, 02 Nov 2015 10:20 WIB
Dok. Thinkstock
Jakarta -

Orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Maka dari itu, banyak cara dilakukan mereka demi kesuksesan sang anak. Salah satunya adalah dengan mengikutsertakan anak pada kontes kecantikan, lomba unjuk bakat, casting iklan, atau menjadi pemeran figuran tayangan televisi.

Cara-cara 'instan' ini dilakukan orangtua semata-mata karena ingin anaknya menjadi terkenal berkat keahlian yang dimilikinya. Namun seperti yang dituturkan oleh psikolog Irma Gustiana M.Psi, bisa saja sang anak belum tentu senang menjalani hal tersebut karena itu bukanlah minat dan bakatnya. Berikut saran dari para psikolog agar orangtua tidak terobsesi menjadikan anaknya terkenal:

1. Pahami Bahwa Anak Bukan Mesin
Orangtua sebaiknya perlu menyadari bahwa anak bukanlah suatu mesin atau produk yang bisa 'dijual'. Seperti yang dipaparkan psikolog yang akrab disapa Irma ini, anak adalah individu yang memiliki akal dan perasaan. Semua aktivitas yang dilakukan anak harus didasari pada kepentingan dan kebutuhan anak.

2. Bersikap Realistis
Irma juga mengatakan orangtua perlu bersikap rasional dan realistis serta menyadari bahwa segala sesuatu yang dilakukan memerlukan proses dan waktu. "Jika anak tidak nyaman atau orangtua belum siap membuka wawasan anak secara positif, sebaiknya libatkan anak dalam diskusi. Bukannya justru memaksakan anak mengikuti kegiatan dengan bertujuan ingin terkenal," kata psikolog dua anak ini saat diwawancara Wolipop melalui e-mail, Selasa, (20/10/2015).

3. Tidak Menghakimi Anak
Psikolog Elizabeth Santosa M.Psi berpendapat, orangtua juga sebaiknya tidak bersikap menghakimi anak apabila ia menyenangi satu profesi tertentu. Biarkan ia mengeksplor hal-hal lain yang belum pernah dilakukan sebelumnya, bukan lantas 'menceburkan' sang anak ke dalam dunia yang belum tentu cocok dengannya.

"Si anak lebih senang main musik atau melukis. Tapi orangtuanya judgemental, 'Ngapain sih jadi pelukis nggak ada duitnya. Masa depan suram!', nah perkataan-perkataan seperti itu yang membuat anak merasa 'jatuh'," tutur Elizabeth saat dihubungi Wolipop, Selasa, (20/10/2015).

4. Kenalkan Variasi Profesi
Memang tidak ada salahnya memperkenalkan profesi yang diidamkan orangtua kepada anaknya, tetapi sebaiknya biarkan anak untuk memilih profesi apa saja yang disukainya. Menurut psikolog yang akrab disapa Lizzie ini, setiap profesi memiliki peluang kesempatan untuk menjadi terkenal. Tidak hanya terpatok kepada menjadi model atau pemain film saja.

5. Ketahui Bakat dan Minat Anak
Hal penting yang harus diketahui orangtua adalah pahami minat anak terlebih dahulu. Ibu tiga anak ini menjelaskan, adalah hal yang sia-sia jika orangtua yang terobsesi anaknya menjadi terkenal tetapi dia tidak punya talenta di bidang itu.

"Misalnya orangtua maunya anak jadi pemain film makanya diikutkan kelas akting. Tapi ternyata si anak nggak mau karena ternyata talentanya di olahraga. Kalau sudah seperti ini lebih baik mengarahkan bakat anak, pupuk minatnya, dan jangan memaksakan kehendak," ujar psikolog yang mengajar di Swiss German University Serpong ini.

6. Evaluasi Diri
kembali evaluasi keinginan saya atau anak saya. anaknya lbh banyak ditanya maunya apa. Kasih kesempatan untuk coba pilihannya dan mengarahkan minatnya.

Ditambahkan oleh psikolog Vera Itabiliana, ada baiknya juga orangtua kembali mengevaluasi dirinya sendiri. Tanyakan kepada diri sendiri apakah memang benar kegiatan yang dilakukan anak murni keinginan si anak ataukah ada unsur paksaan dari orangtua.

"Lebih banyak interaksi dengan anak, tanya maunya apa dan kasih kesempatan untuk mencoba pilihannya. Mengarahkan minat anak jauh lebih bagus daripada memaksa anak melakukan hari yang tidak disukainya," jelas Vera saat ditemui Wolipop di Conclave, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

(ami/ami)