Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Tergila-gila Barbie

Ini Penyebab Wanita Kecanduan Barbie Hingga Diet Ekstrem & Operasi Plastik

wolipop
Senin, 13 Okt 2014 16:40 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

ist.
Jakarta -

Barbie merupakan boneka yang didesain menyerupai wanita cantik, seksi, dan memiliki tubuh proporsional. Boneka yang dibuat oleh perusahaan Mattel Inc. itu banyak disukai oleh anak perempuan hingga wanita dewasa. Bahkan beberapa wanita terobsesi mirip seperti Barbie hingga melakukan diet ekstrem dan operasi plastik. Apa penyebab wanita bisa kecanduan boneka ikonik tersebut?

Psikolog anak, Ajeng Raviando, Psi., mengatakan bahwa penyebabnya harus dilihat kasus demi kasus. Namun biasanya rasa obsesi itu disebabkan oleh pola asuh orangtua saat mendidik dan mengajarinya dulu ketika masih kecil.

"Kenapa dia mengidolakan dan ingin seperti Barbie berarti mungkin pola asuh orangtua kepada anak berpengaruh. Jadi konsep dirinya sejak kecil tidak terbentuk dengan baik sehingga dia merasa dirinya ingin seperti Barbie. Mungkin saja dia juga tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup mengenai dirinya sendiri," ungkap Ajeng saat diwawancarai Wolipop di Mal Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (9/10/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penyebab lainnya mungkin adanya tekanan dari keluarga. Misalnya saja ketika masih kecil ia sering dibanding-bandingkan oleh orangtuanya. Sebagai contoh, wanita yang terobsesi dengan Barbie merasa tertekan setelah orangtuanya terus meminta dia untuk memiliki menguruskan badan.

Sebenarnya ia tidak menginginkan hal tersebut namun karena tekanan dari banyak pihak ia menjadi kurang percaya diri. Kemudian ia melihat Barbie sebagai sosok wanita cantik yang dapat menyenangkan banyak orang. Sejak saat itulah, rasa obsesi ingin memiliki tubuh seperti Barbie muncul yang kemudian melakukan berbagai cara demi menuntaskan obsesinya.

"Bisa jadi itu salah satu penyebabnya tapi bukan pasti semua orang sama penyebabnya, jangan dipukul rata tapi harus dilihat kasusnya, historical-nya, punya psychological problems seperti apa sebelumnya, dan alasan terobsesi dengan Barbie apa," tambah pendiri Konseling Teman Hati itu.

Oleh karena itu, agar anak tidak terobsesi dengan Barbie ketika dewasa nanti sebaiknya beri pengarahan sejak dini. Beritahukan bahwa Barbie bukanlah manusia melainkan sebuah boneka. Tekankan kepada si kecil kalau ia tidak bisa menjadi Barbie. Namun jangan batasi permaiannya.

Biarkan ia berimajinasi sesuai dengan keinginan dan harapannya. Sebagai orangtua, Ajeng menyarankan agar Anda mendampingi dan mengawasi saja untuk berjaga-jaga ketika anak sudah keluar batas.

(aln/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads