Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Siapa Bilang ke Mal Buat Anak Jadi Konsumtif? Ini 4 Dampak Positifnya

Hestianingsih Hestianingsih - wolipop
Jumat, 10 Okt 2014 15:33 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Getty Images
Jakarta - Kesibukan di kantor dari Senin hingga Jumat, kerap membuat waktu orangtua menikmati kebersamaan dengan anak-anak tersayang sangat terbatas. Belum lagi jika harus lembur dan pulang malam. Maka di akhir pekan, sudah seharusnya dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meluangkan waktu dengan anak.

Tak perlu pusing memikirkan rencana liburan ke luar kota atau ke taman hiburan setiap minggunya. Cukup dengan pergi ke mal, ikatan emosional antara orangtua dan anak pun bisa terjalin secara efektif.

"Di mal biasanya yang kita lakukan makan bersama, main bersama, belanja bersama. Ini bisa dimanfaatkan untuk menjalin komunikasi antara orangtua dan anak," jelas Psikolog Ajeng Raviando, saat acara peluncuran Club Mom & Baby di Transmart Carrefour Super Center, Cikokol, Tangerang, Jumat (10/10/2014).

Ini beberapa contoh kegiatan di mal yang bermanfaat membantu tumbuh kembang anak, seperti dijelaskan oleh Ajeng:

1. Mengajarkan Makan Sehat
Sambil makan bersama, orangtua bisa menjelaskan tentang makanan sehat kepada anak. Saat di mal, waktunya lebih santai dan mood sang anak pun lebih baik sehingga ia bisa lebih mendengarkan ucapan orangtua. Pilih restoran dengan konsep made to order, bukan junk food atau fast food. Pesanlah makanan sehat dan lengkap gizi mulai dari karbohidrat, lauk, serta sayur mayur.

"Saat makan orangtua bisa menerangkan baiknya makan sayuran, makanan yang mengandung vitamin serta menjelaskan sisi makanan sehat yang dipesan," tutur psikolog yang mengaku juga sering mengajak keluarganya ke mal tiap akhir pekan ini.

2. Mengajarkan Etiket
Orangtua memiliki kewajiban mengajarkan soal fungsi sosial sebagai anggota masyarakat kepada anak-anaknya sejak dini. Hal itu juga bisa dilakukan di mal dengan cara yang lebih santai.

"Jalan di mal, bukan berarti kita bisa membiarkan anak melakukan segala sesuatu tanpa pengawasan. Ajarkanlah etiket," ujar wanita lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Fungsi sosial bisa diajarkan dengan mengenalkannya pada etiket terlebih dahulu. Misalnya ketika akan menaiki lift dan ada orang lain di depannya, maka orangtua bisa meminta anak untuk mengucap 'permisi' atau menunggu antrean untuk turun/naik eskalator jika kondisinya sedang ramai.

3. Belajar Bersosialisasi
Banyak mal yang menyediakan arena bermain untuk anak. Dengan mengikutkan anak bermain di arena tersebut, ia bisa belajar bersosialisasi dengan anak lain yang seusianya. Saat bermain, tentunya orangtua juga tetap harus mengawasi gerak-gerik anak untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya anak terjatuh atau berkelahi dengan anak lainnya.

4. Membiasakan Orangtua Berbagi Peran Mengasuh Anak
Peran ayah dan ibu dalam mengasuh anak bisa diterapkan saat ke mal, yang nantinya juga bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Ayah bisa menemani anak ke toko buku atau tempat mainan, sementara ibu bisa berbelanja keperluan harian.

"Di mal, ayah jadi tahu gimana menjaga anak-anak. Kalau punya anak lebih dari satu, misalnya anak laki-laki bisa dibawa ke toko mainan. Sementara ibu ajak anak perempuan belanja. Di sini kita juga bisa mengajarkan untuk belanja hemat dan menghargai uang," terang Ajeng.

Saat bersama anak, belanjalah keperluan rumah tangga seperlunya. Tanamkan sejak dini kepada anak mengenai nilai uang. Bagaimana menghargai uang yang telah susah payah dikumpulkan orangtuanya. Dalam hal ini, jangan selalu menuruti permintaan anak meskipun ia memaksa hingga menjadi tantrum.

(hst/asf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads