Liputan Khusus <i>Stay Home Dad</i>
Siap atau Tidak Jadi Bapak Rumah Tangga? Maskulinitas Pria Menentukannya
wolipop
Jumat, 25 Apr 2014 18:50 WIB
Jakarta
-
Istilah bapak rumah tangga mungkin masih terdengar asing di telinga Anda. Ketika seorang pria menjadi bapak rumah tangga, perannya akan seperti ketika istri menjadi ibu rumah tangga. Si pria harus mengerjakan tugas rumah tangga mulai dari membersihkan rumah, mencuci pakaian, menyediakan dan mengatur semua keperluan anak-anak.
Belum umumnya 'profesi' bapak rumah tangga ini tidak jarang membuat peran ini dipandang sebelah mata di Indonesia. Banyak masyarakat menilai bahwa suami yang baik adalah suami yang mau bekerja dan berjuang untuk mencari nafkah demi masa depan keluarga, bukan berada di rumah.
Menurut psikolog Anna Surti Ariani, Psi menjadi bapak rumah tangga bukanlah hal mudah, semua tergantung pada maskulinitas yang ada pada diri pria tersebut. Ada beberapa pria yang memiliki maskulinitas tradisional dan maskulinitas non tradisional.
Pria yang memiliki maskulinitas tradisional, akan lebih cenderung memiliki pandangan bahwa menjadi bapak yang tidak memiliki pekerjaan dan diam di rumah adalah bapak yang tidak berguna. Biasanya bapak rumah tangga yang memiliki maskulinitas tradisional adalah pria yang terpaksa beralih peran, karena kondisi-kondisi tertentu. Salah satunya karena dipecat dan belum mendapatkan pekerjaan baru. Tak jarang kondisi ini dapat menimbulkan depresi.
"Untuk Anda yang ingin menjadi bapak rumah tangga dengan maskulinitas tradisional, coba cari dukungan dari sesama pria yang menjadi bapak rumah tangga atau bantuan psikolog atau ahli dibidangnya, agar dapat menemukan apa yang terbaik," ujar psikolog lulusan Universitas Indonesia itu saat wawancara bersama Wolipop di Universitas Indonesia, pada Senin (14/04/2014).
Sedangkan untuk maskulinitas non tradisional, pria ini akan memiliki pandangan bahwa menjadi bapak rumah tangga adalah suatu pekerjaan yang mulia dengan menggantikan peran ibu. Waktu luang di rumah yang banyak juga dianggap dapat memberikan kesempatan untuk lebih mendekatkan diri dengan anak-anak maupun keluarga.
Persiapan mental menjadi hal yang paling utama ketika memutuskan atau terpaksa menjadi bapak rumah tangga. Coba pikirkan kembali apakah menjadi bapak rumah tangga, dengan mengurus pekerjaan rumah dan merawat anak-anak adalah peran yang dapat Anda jalani. Lalu pertimbangkan kembali apa yang menjadi untung dan rugi setelah Anda memutuskan menjadi bapak rumah tangga.
(mrt/eny)
Belum umumnya 'profesi' bapak rumah tangga ini tidak jarang membuat peran ini dipandang sebelah mata di Indonesia. Banyak masyarakat menilai bahwa suami yang baik adalah suami yang mau bekerja dan berjuang untuk mencari nafkah demi masa depan keluarga, bukan berada di rumah.
Menurut psikolog Anna Surti Ariani, Psi menjadi bapak rumah tangga bukanlah hal mudah, semua tergantung pada maskulinitas yang ada pada diri pria tersebut. Ada beberapa pria yang memiliki maskulinitas tradisional dan maskulinitas non tradisional.
Pria yang memiliki maskulinitas tradisional, akan lebih cenderung memiliki pandangan bahwa menjadi bapak yang tidak memiliki pekerjaan dan diam di rumah adalah bapak yang tidak berguna. Biasanya bapak rumah tangga yang memiliki maskulinitas tradisional adalah pria yang terpaksa beralih peran, karena kondisi-kondisi tertentu. Salah satunya karena dipecat dan belum mendapatkan pekerjaan baru. Tak jarang kondisi ini dapat menimbulkan depresi.
"Untuk Anda yang ingin menjadi bapak rumah tangga dengan maskulinitas tradisional, coba cari dukungan dari sesama pria yang menjadi bapak rumah tangga atau bantuan psikolog atau ahli dibidangnya, agar dapat menemukan apa yang terbaik," ujar psikolog lulusan Universitas Indonesia itu saat wawancara bersama Wolipop di Universitas Indonesia, pada Senin (14/04/2014).
Sedangkan untuk maskulinitas non tradisional, pria ini akan memiliki pandangan bahwa menjadi bapak rumah tangga adalah suatu pekerjaan yang mulia dengan menggantikan peran ibu. Waktu luang di rumah yang banyak juga dianggap dapat memberikan kesempatan untuk lebih mendekatkan diri dengan anak-anak maupun keluarga.
Persiapan mental menjadi hal yang paling utama ketika memutuskan atau terpaksa menjadi bapak rumah tangga. Coba pikirkan kembali apakah menjadi bapak rumah tangga, dengan mengurus pekerjaan rumah dan merawat anak-anak adalah peran yang dapat Anda jalani. Lalu pertimbangkan kembali apa yang menjadi untung dan rugi setelah Anda memutuskan menjadi bapak rumah tangga.
(mrt/eny)
Home & Living
Sekali Coba Susah Balik! Handuk Premium Ini Harus Kamu Punya, Cek Alasannya
Home & Living
Satu Set Alat Ini Memudahkan Pekerjaan Kamu! TEKIRO Socket Set Harus Kamu Miliki di Rumah
Home & Living
Nggak Perlu Capek Bersihin WC! Notale Spin Scrubber Ini Memudahkan Pekerjaan, Harus Ada di Rumah
Home & Living
Cari Dudukan Santai yang Empuk dan Estetik? Pilihan Bean Bag Ini Layak Jadi Andalan
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Semua Bunda Dirayakan
Morinaga Ajak Bunda & Anak Bernyanyi Bersama di PIK 2, Yuk Ikutan!
YAYAYA Fest 2025: Bunda Senang, Si Kecil Pun Girang
Kinderflix dan Morinaga Berbagi Keseruan di YAYAYA Fest 2025
5 Rekomendasi Hadiah Istimewa, Tanda Kasih untuk Ibu Mertua
Seru-seruan Bareng Anak di LazMall Daily Bundafest, Banyak Lomba Menarik!
Most Popular
1
Rebutan Uang Duka, Konflik Menantu dan Mertua Berujung Tragis
2
5 Makanan Terbaik untuk Buka Puasa Diet IF, Kenyang Lebih Lama dan BB Turun
3
8 Foto Alyssa Daguise Liburan ke London, Bumil Tampil Stylish Pakai Coat Bulu
4
Bikin Baper! Aksi Lamar Kekasih di Waterfront Danau Toba Ini Viral
5
Niat Cantik Berujung Maut, Ibu 2 Anak Meninggal Usai Oplas Bokong & Perut
MOST COMMENTED











































