Dear Ayah dan Ibu, Jangan Gengsi Saat Main Bareng Anak
wolipop
Selasa, 19 Nov 2013 14:35 WIB
Jakarta
-
Seberapa sering Anda ikut menemani anak bermain? Psikolog anak Tika Bisono melihat, orangtua masa kini lebih sering jaim dan gengsi saat ikut bermain bersama anak.
Tika melihat sendiri bagamana orangtua cenderung membiarkan anaknya bermain sendirian. Dia banyak menjumpai kondisi ini ketika anak berada di area bermain di bioskop atau mall.
"Anak-anaknya dibiarkan main sendiri. Kalaupun ada yang nemenin, ayah-ayahnya. Ibu-ibunya pada gengsi ikut main," ujar Tika di sela-sela talkshow tentang 'Memilih Mainan yang Tepat untuk Anak' yang diadakan Creativity For Kids Faber Castel di FX Mall, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Selatan, Selasa (19/11/2013).
Kegengsian ini muncul karena orangtua merasa dirinya bukan anak-anak lagi, sehingga tidak seharusnya ikut bermain-main. Padahal dengan ikut bermain, orangtua bisa memahami anak lebih jauh, sehingga mengerti apa yang dirasakan mereka.
"Orangtua jadi tahu kenapa anak suka main game, kenapa ini asyik banget, seolah-olah cuma ada kita dan game itu," jelas psikolog yang juga ibu tiga anak itu.
Menurut Tika, orangtua juga kerap jaim (jaga imej) atau gengsi ketika menjadi cheerleader untuk anak. Menjadi cheerleader atau tim sorak ini termasuk dalam salah satu dari tujuh komponen yang dalam pandangan Tika perlu dilakukan para orangtua.
Saat memberikan anak dukungan, orangtua biasanya kurang ekspresif dan tidak memberikan respon yang sepadan dengan anak. Psikolog yang memiliki gaya bicara ceplas-ceplos ini mencontohkan, ada anak yang bercerita dengan antusias pada ayah atau ibunya tentang prestasinya. Dan si orangtua hanya memberikan respon singkat, dengan ucapan 'hmm' atau 'terus-terus'. Ucapan ini biasanya juga dikatakan sambil memegang gadget, bukan bicara langsung pada anak.
"Kalau ngobrol sama anak itu duduknya jangan nyerong dan perhatikan mata anak," kata Tika.
Selain menjadi cheerleader, berikut enam hal lain yang menurut psikolog lulusan Universitas Indonesia itu perlu dilakukan orangtua untuk anak:
1. Tidak berhenti belajar tentang anak baik dari televisi, buku, seminar dan lain-lain
2. Mau menjadi pendengar dan pengamat yang baik
3. Sabar dan tidak cepat putus asa
4. Kreatif dan komunikatif
5. Menunjukkan minat pada anak dan berikan pertanyaan-pertanyaan yang positif
6. Berdoa.
(eny/aln)
Tika melihat sendiri bagamana orangtua cenderung membiarkan anaknya bermain sendirian. Dia banyak menjumpai kondisi ini ketika anak berada di area bermain di bioskop atau mall.
"Anak-anaknya dibiarkan main sendiri. Kalaupun ada yang nemenin, ayah-ayahnya. Ibu-ibunya pada gengsi ikut main," ujar Tika di sela-sela talkshow tentang 'Memilih Mainan yang Tepat untuk Anak' yang diadakan Creativity For Kids Faber Castel di FX Mall, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Selatan, Selasa (19/11/2013).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Orangtua jadi tahu kenapa anak suka main game, kenapa ini asyik banget, seolah-olah cuma ada kita dan game itu," jelas psikolog yang juga ibu tiga anak itu.
Menurut Tika, orangtua juga kerap jaim (jaga imej) atau gengsi ketika menjadi cheerleader untuk anak. Menjadi cheerleader atau tim sorak ini termasuk dalam salah satu dari tujuh komponen yang dalam pandangan Tika perlu dilakukan para orangtua.
Saat memberikan anak dukungan, orangtua biasanya kurang ekspresif dan tidak memberikan respon yang sepadan dengan anak. Psikolog yang memiliki gaya bicara ceplas-ceplos ini mencontohkan, ada anak yang bercerita dengan antusias pada ayah atau ibunya tentang prestasinya. Dan si orangtua hanya memberikan respon singkat, dengan ucapan 'hmm' atau 'terus-terus'. Ucapan ini biasanya juga dikatakan sambil memegang gadget, bukan bicara langsung pada anak.
"Kalau ngobrol sama anak itu duduknya jangan nyerong dan perhatikan mata anak," kata Tika.
Selain menjadi cheerleader, berikut enam hal lain yang menurut psikolog lulusan Universitas Indonesia itu perlu dilakukan orangtua untuk anak:
1. Tidak berhenti belajar tentang anak baik dari televisi, buku, seminar dan lain-lain
2. Mau menjadi pendengar dan pengamat yang baik
3. Sabar dan tidak cepat putus asa
4. Kreatif dan komunikatif
5. Menunjukkan minat pada anak dan berikan pertanyaan-pertanyaan yang positif
6. Berdoa.
(eny/aln)
Perawatan dan Kecantikan
Rahasia Make Up Ringan yang Tetap Bikin Wajah Glowing
Kesehatan
Mau Mulut Tetap Fresh Saat Puasa? 3 Oral Care Ini Bisa Jadi Penyelamat Bau Mulut dan Sariawan
Kesehatan
Kulit Kusam Padahal Sudah Pakai Skincare? Ini Rahasia yang Banyak Orang Lewatkan
Kesehatan
Kenapa Saat Puasa Banyak Orang Butuh Tablet Tambah Darah? Ini Penjelasannya
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Semua Bunda Dirayakan
Morinaga Ajak Bunda & Anak Bernyanyi Bersama di PIK 2, Yuk Ikutan!
YAYAYA Fest 2025: Bunda Senang, Si Kecil Pun Girang
Kinderflix dan Morinaga Berbagi Keseruan di YAYAYA Fest 2025
5 Rekomendasi Hadiah Istimewa, Tanda Kasih untuk Ibu Mertua
Seru-seruan Bareng Anak di LazMall Daily Bundafest, Banyak Lomba Menarik!
Most Popular
1
Jun Ji Hyun Punya Body Goals di Usia 44, Menu Diet dan Olahraga Terungkap
2
Gaya Abadi Carolyn Bassette-Kennedy Setelah Meninggal Tragis 30 Tahun Lalu
3
Evolusi Tumi Alpha, Tas Travel Standar Militer Kini Desainnya Gen-Z Friendly
4
Most Pop: Foto Inul Daratista Pakai dan Tanpa Makeup, Kulitnya Jadi Sorotan
5
Jangan Baper Dulu! Ini Cara Hadapi Teman Pacar yang Bikin Kesal
MOST COMMENTED











































