Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Liputan Khusus

Anak Masuk Sekolah Internasional, Penting Nggak Sih?

Hestianingsih Hestianingsih - wolipop
Selasa, 15 Mei 2012 09:45 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta -

Sekarang ini semakin banyak sekolah melabelkan diri sebagai sekolah internasional. Bukan hanya untuk anak Sekolah Dasar saja, sekolah internasional untuk usia preschool pun menjamur. Sebenarnya perlu atau tidak menyekolahkan anak di sekolah internasional? Apa yang istimewa dengan label internasional tersebut?

Wolipop berbincang dengan pendiri Sekolah Cikal Najelaa Shihab untuk membahas tentang sekolah internasional ini. Sekolah Cikal sendiri mendapat akreditasi internasional dari IBO The International Baccalaureate Organization.

Apa itu sekolah internasional? "Mengajarkan international minded, membentuk anak dengan pola pikir dan pemahaman global. Punya pemahaman bahwa apa yang terjadi di sini berefek ke dunia secara umum dan apa yang terjadi di dunia secara umum berefek pada kita sebagai seorang individu," jelas Najelaa saat berbincang dengan wolipop di Hotel Four Seasons, Kuningan, Jakarta, Kamis (10/5/2012).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Najelaa mengatakan, sekolah internasional ini bukan hanya sekolah yang melakukan proses belajar-mengajar dengan bahasa Inggris atau bahasa internasional lainnya. Sekolah dengan label internasional lebih ke bagaimana cara pandang dan berpikir sekolah tersebut.

"Bahasa itu cuma satu indikator. Jadi kalau misalnya dibilang ini sekolah berwawasan internasional cuma karena bahasa saja menurut saya nggak teliti. Kita harus lebih kritis melihat itu. Kualitasnya seperti apa? Bahasa yang diajarkan itu seperti apa?," tutur ibu tiga anak itu.

Praktisi pendidikan tersebut juga menyarankan pada para orangtua untuk bersikap kritis saat ingin memasukkan anaknya ke sekolah internasional. Orangtua jangan melihat dari bahasa yang dipergunakan guru saat mengajar saja. Tapi juga harus dilihat apakah sekolah itu memang memiliki wawasan internasional atau tidak.

"Misalnya krisis ekonomi di Amerika, apa efeknya di Indonesia? Pemilu di Myanmar apa sih pengaruhnya ke Indonesia? Selama ini sikapnya Indonesia ke Aung San Suu Kyi seperti apa? That's international minded, bukan bahasanya," tutur Najelaa memberi contoh.

Selain bahasa, seringkali orangtua juga menganggap sekolah internasional adalah sekolah yang mengeluarkan ijazah internasional. Dengan ijazah tersebut akan memudahkan anak ketika akan bersekolah di luar negeri. Namun sekali lagi dikatakan Najelaa, Anda perlu berhati-hati dengan ini.

"Mungkin benar ijazah internasional, tapi apakah itu membentuk anak internasional? Belum tentu juga. Tanya lagi apakah ijazah internasional kurikulumnya internasional? Apa itu kurikulum internasional? Bukan cuma nanyanya yang internasional? It's not about the label," jelas wanita lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu.

Sekolah internasional yang sekarang ini banyak ada di Indonesia, memiliki akreditasi dari lembaga berbeda-beda. Lembaga yang dianggap kompeten dalam mengeluarkan akreditasi internasional, dua di antaranya adalah International Baccalaureate dan Cambridge International Examinations.

Cikal sendiri yang dipimpin oleh Najelaa mendapatkan akreditasi dari International Baccaulaureate (IB). "(Lembaga ini) memberikan akreditasi kalau sekolah ini bisa compete secara global. Sekolahnya nggak cuma terakreditasi sama diknas tapi akreditasi badan internasional yang cukup prestisius. Antara satu sekolah IB dengan yang lain nggak sama persis. Yang sama adalah kerangka kurikulum, tapi isi kurikulumnya seperti apa, bisa beda-beda," urai Najelaa.

Najelaa menyarankan pada orangtua yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah berstandar internasional, sebaiknya mencari informasi dari mana sekolah tersebut mendapat akreditasi internasional. Orangtua perlu memahami perbedaan masing-masing lembaga yang memberikan akreditasi tersebut. "Masing-masing beda, filosofi, tujuan, metode pengajaran beda. Jangan sampai tertipu oleh label internasional," tukasnya.

Putri dari Quraish Shihab itu mencontohkan, ada orangtua yang menganggap suatu sekolah internasional karena menggunakan buku-buku pelajaran dari Singapura. Padahal anggapan itu salah. "Buku-buku dan kurikulum, it's two different thing. Buku itu alat mengajar, kurikulum adalah apa yang diajarin, bagaimana cara mengajar, mengukur keberhasilan. Lebih dari sekadar buku-buku," jelas Najelaa.

(eny/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads