Orangtua Protektif, Pertumbuhan Otak Anak Jadi Lambat
wolipop
Selasa, 06 Des 2011 18:33 WIB
Jakarta
-
Sebagian orangtua menunjukkan kasih sayangnya pada anak dengan cara terlalu protektif. Padahal perilaku ini tidak hanya menghambat kebebasan si anak, tapi juga memperlambat pertumbuhan otaknya.
Keterlambatan pertumbuhan otak bisa terkait dengan penyakit mental. Anak-anak yang orangtuanya terlalu protektif akan lebih rentan terhadap gangguan kejiwaan, yang nantinya dapat berhubungan dengan kecacatan otak di bagian korteks prefrontal.
Untuk menyelidiki adanya hubungan tersebut, Kosuke Narita, peneliti dari Gunma University di Jepang melakukan pemindaian (scan) otak terhadap 50 orang anak yang berusia 20-an tahun serta memintanya untuk mengisi survei tentang hubungan mereka dengan orangtua selama 16 tahun pertama kehidupan.
Peneliti menggunakan survei yang disebut Parental Bonding Instrument, survei ini telah diakui secara internasional sebagai cara untuk mengukur hubungan anak dengan orangtuanya. Dalam survei tersebut, peserta akan diminta menilai orangtuanya melalui pernyataan seperti 'Apakah orangtua tidak ingin aku menjadi dewasa', 'Mencoba mengontrol semua yang saya lakukan' atau 'Mencoba membuat saya merasa bergantung pada orangtua'.
Hasilnya, Narita menemukan anak yang dididik oleh orangtua terlalu protektif memiliki masalah tertentu di daerah korteks prefrontal daripada anak yang memiliki hubungan sehat dengan orangtuanya. Selain itu ayah yang lalai menjaga anak juga bisa mempengaruhi, meskipun sang ibu memberikan perhatian dan kasih sayang yang cukup.
Bagian dari otak yaitu korteks prefrontal seharusnya berkembang selama masa kanak-kanak, tapi karena orangtua yang terlalu protektif justru menghambat pertumbuhannya. Ketidaknormalan pada daerah otak ini umumnya ditemui pada orang yang mengalami penyakit mental seperti schizofrenia atau yang lainnya.
"Kemungkinan akibat pelepasan hormon stres kortisol yang berlebihan, entah akibat kelalaian atau terlalu protektifnya orangtua serta berkurangnya produksi dopamin yang menjadi pemicu terhambatnya pertumbuhan daerah abu-abu di otak," ujar Narita, seperti dikutip dari detikhealth.
Anthony Harris, direktur di unit Clinical Disorders Westmead Hospital di Sydney, Australia menuturkan hasil penelitian ini penting untuk menyoroti masyarakat luas bahwa gaya pengasuhan orangtua dapat memiliki efek jangka panjang terhadap pertumbuhan anak-anaknya.
"Tapi perbedaan otak seperti itu tidak selalu permanen, karena beberapa orang ada yang bisa menunjukkan kecepatan untuk sembuh yang besar," ungkap Anthony Harr.
(ver/eya)
Keterlambatan pertumbuhan otak bisa terkait dengan penyakit mental. Anak-anak yang orangtuanya terlalu protektif akan lebih rentan terhadap gangguan kejiwaan, yang nantinya dapat berhubungan dengan kecacatan otak di bagian korteks prefrontal.
Untuk menyelidiki adanya hubungan tersebut, Kosuke Narita, peneliti dari Gunma University di Jepang melakukan pemindaian (scan) otak terhadap 50 orang anak yang berusia 20-an tahun serta memintanya untuk mengisi survei tentang hubungan mereka dengan orangtua selama 16 tahun pertama kehidupan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasilnya, Narita menemukan anak yang dididik oleh orangtua terlalu protektif memiliki masalah tertentu di daerah korteks prefrontal daripada anak yang memiliki hubungan sehat dengan orangtuanya. Selain itu ayah yang lalai menjaga anak juga bisa mempengaruhi, meskipun sang ibu memberikan perhatian dan kasih sayang yang cukup.
Bagian dari otak yaitu korteks prefrontal seharusnya berkembang selama masa kanak-kanak, tapi karena orangtua yang terlalu protektif justru menghambat pertumbuhannya. Ketidaknormalan pada daerah otak ini umumnya ditemui pada orang yang mengalami penyakit mental seperti schizofrenia atau yang lainnya.
"Kemungkinan akibat pelepasan hormon stres kortisol yang berlebihan, entah akibat kelalaian atau terlalu protektifnya orangtua serta berkurangnya produksi dopamin yang menjadi pemicu terhambatnya pertumbuhan daerah abu-abu di otak," ujar Narita, seperti dikutip dari detikhealth.
Anthony Harris, direktur di unit Clinical Disorders Westmead Hospital di Sydney, Australia menuturkan hasil penelitian ini penting untuk menyoroti masyarakat luas bahwa gaya pengasuhan orangtua dapat memiliki efek jangka panjang terhadap pertumbuhan anak-anaknya.
"Tapi perbedaan otak seperti itu tidak selalu permanen, karena beberapa orang ada yang bisa menunjukkan kecepatan untuk sembuh yang besar," ungkap Anthony Harr.
(ver/eya)
Makanan & Minuman
Bukan Sekadar Bumbu! Kunyit Putih Bubuk Ini Jadi Rahasia Sehat yang Lagi Dicari Banyak Orang
Olahraga
Cuma Ganti Outfit Ini, Gaya Olahraga Kamu Langsung Naik Level & Lebih Percaya Diri!
Makanan & Minuman
Cuma 1 Bar, Laper Langsung Hilang! Snack Sehat Praktis yang Wajib Ada di Tas
Makanan & Minuman
Cemilan Kecil, Mood Langsung Balik! Mini Oreo Ini Wajib Ada di Tas Kamu
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Semua Bunda Dirayakan
Morinaga Ajak Bunda & Anak Bernyanyi Bersama di PIK 2, Yuk Ikutan!
YAYAYA Fest 2025: Bunda Senang, Si Kecil Pun Girang
Kinderflix dan Morinaga Berbagi Keseruan di YAYAYA Fest 2025
5 Rekomendasi Hadiah Istimewa, Tanda Kasih untuk Ibu Mertua
Seru-seruan Bareng Anak di LazMall Daily Bundafest, Banyak Lomba Menarik!
Most Popular
1
Potret Cantik Istri Pogba Rayakan Lebaran, Model yang Disebut Mualaf
2
Potret Lucinta Luna Salat Ied di Masjid Seoul, Pakai Baju Koko & Peci
3
Terseret Skandal Epstein, Putri Beatrice & Eugenie Diminta Lepas Gelar
4
Aktris Iran Ini Viral Usai Sebut Kematian Khamenei Ditunggu 47 Tahun
5
Most Pop: Pesona Diana Pungky Bukber Bareng Artis Lawas, Cantik Bikin Terpana
MOST COMMENTED











































