Tips Agar Si Kecil Aman Main dengan Hewan Peliharaan
wolipop
Kamis, 19 Mei 2011 10:08 WIB
Jakarta
-
Hewan peliharaan dapat menjadi teman bagi pemiliknya. Walaupun sudah jinak tetap saja kita harus berhati-hati. Jangan lepaskan pengawasan pada anak Anda dengan hewan peliharaannya.
"Anak kecil memiliki risiko terluka yang tinggi akibat hewan peliharaan. Mereka suka bermain dengan berisik, bahkan sampai menendang dan memukul. Mereka memang tidak bermaksud melukai, tapi hal tersebut dapat memicu stres pada hewan peliharaan. " ujar Genevieve Reisinger, spesialis perilaku hewan, seperti dikutip Today's Parent.
Menurut Reisinger lagi, anak berusia balita belum bisa memahami atau mengingat instruksi spesifik yang Anda berikan tentang bagaimana harus bersikap saat bermain dengan hewan. Jadi, simaklah beberapa langkah di bawah ini agar anak Anda bisa bermain aman dengan hewan peliharaan:
1. Mengawasi
Anak kecil menganggap hewan peliharaan mereka selalu bersikap baik. Namun perilaku hewan sangat susah ditebak. Seorang anak kecil di Vancouver, Kanada pernah diserang oleh anjing saudaranya yang selalu berperilaku baik. Padahal anak tersebut tidak sengaja terjatuh dan menimpa anjing tersebut.
"Bahkan anjing yang lembut dapat menggigit jika ia merasa sakit atau takut," ucap Rebecca Ledger, seorang ethologist (ahli perilaku hewan) di Vancouver.
Mengawasi anak bermain dengan hewan peliharaan adalah cara terbaik untuk mencegah adanya kecelakaan. "Hewan peliharaan seharusnya tidak ditinggalkan sendiri bermain dengan anak-anak. Bahkan hamster pun bisa menggigit," tambah Reisinger.
2. Perkenalan yang baik
Kenalkanlah anak Anda dengan hewan peliharaan dengan cara yang baik. "Dudukkanlah anak Anda di kursi saat mengenalkannya dengan hewan peliharaan. Jangan lupa untuk memberikan tali dan penutup moncong pada hewan peliharaan. Hal tersebut dapat mengontol gerakan hewan peliharaan," jelas Ledger.
Kenapa anak harus duduk? Anak-anak biasanya suka berlari-larian. Jika saat diperkenalkan pada hewan peliharaan, ia berlarian, kemungkinan besar, ia bisa dikejar (jika hewan peliharaannya anjing) dan terluka. "Sudah sifat alami anjing untuk mengejar sesuatu yang bergerak-gerak di depannya," tutur Ledger lagi.
3. Berikan tempat sendiri
Anda harus mengajarkan anjing untuk pergi ke kandang bila dia terlihat mulai stres. "Anjing harus selalu memiliki kandang yang aman dan nyaman. Mereka bisa berdiam diri di kandang ketika merasa stres," ucap Reisinger. Biasanya kucing mudah menemukan tempat-tempat aman mereka, kolong tempat tidur dan lemari.
Ajarkan anak Anda untuk tidak mengganggu hewan peliharaan yang sedang stres. Reisinger menyarankan, Anda dapat memasang batas untuk menjaga anak Anda dan jangan pernah berhenti mengawasinya.
4. Kenali gerak tubuh hewan
"Anjing berkomunikasi dengan setiap gerakan tubuh mereka. Kita menonton, memperhatikan dan menanggapi mereka. Kenali tiap gerakan agar tidak terjadi serangan, karena salah menangkap sinyal awal yang diberikan anjing bisa berakibat buruk, " kata Reisinger.
Ledger menambahkan, anjing saat kecil bisa toleran dengan perilaku majikannya yang masih anak-anak. Namun saat dewasa, si anjing semakin sulit menerima sikap majikannya. Selain itu, anjing semakin tua juga bisa terkena penyakit. Mereka bisa buta dan tuli.
5. Etika binatang
Siapa bilang hewan tidak dapat diajarkan beretika? Ketika Anda melihat seseorang dengan anjingnya, peganglah tangan anak Anda. Mintalah izin untuk memberi makan anjing tersebut. Biarkan anjing yang bergerak ke arah anak, bukan anak yang mendekati anjing. Jika anjing tampak bersahabat, tunjukkan pada anak bagaimana mengusap lembut leher, dagu atau sepanjang punggung anjing. Jangan menyentuh mata, telinga dan bagian atas kepala anjing.
6. Antisipasi kecelakaan
Bagaimana jika anak Anda digigit atau dicakar? Jika mengoyak kulit, anak harus dibawa ke dokter. Selalu ada risiko infeksi dan diperlukannya antibiotik. Gigi dan cakar kucing paling banyak mengandung banyak kuman.
Meskipun memelihara hewan penuh dengan risiko, Ledger merasa bahwa memelihara hewan memiliki manfaat untuk anak-anak. "Penelitian menunjukkan bahwa hewan peliharaan membantu anak-anak belajar empati dan tanggung jawab, serta dapat mengurangi risiko beberapa penyakit dan alergi. Anda hanya perlu mengelola situasi dengan hati-hati," tandasnya.
(eny/hst)
"Anak kecil memiliki risiko terluka yang tinggi akibat hewan peliharaan. Mereka suka bermain dengan berisik, bahkan sampai menendang dan memukul. Mereka memang tidak bermaksud melukai, tapi hal tersebut dapat memicu stres pada hewan peliharaan. " ujar Genevieve Reisinger, spesialis perilaku hewan, seperti dikutip Today's Parent.
Menurut Reisinger lagi, anak berusia balita belum bisa memahami atau mengingat instruksi spesifik yang Anda berikan tentang bagaimana harus bersikap saat bermain dengan hewan. Jadi, simaklah beberapa langkah di bawah ini agar anak Anda bisa bermain aman dengan hewan peliharaan:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anak kecil menganggap hewan peliharaan mereka selalu bersikap baik. Namun perilaku hewan sangat susah ditebak. Seorang anak kecil di Vancouver, Kanada pernah diserang oleh anjing saudaranya yang selalu berperilaku baik. Padahal anak tersebut tidak sengaja terjatuh dan menimpa anjing tersebut.
"Bahkan anjing yang lembut dapat menggigit jika ia merasa sakit atau takut," ucap Rebecca Ledger, seorang ethologist (ahli perilaku hewan) di Vancouver.
Mengawasi anak bermain dengan hewan peliharaan adalah cara terbaik untuk mencegah adanya kecelakaan. "Hewan peliharaan seharusnya tidak ditinggalkan sendiri bermain dengan anak-anak. Bahkan hamster pun bisa menggigit," tambah Reisinger.
2. Perkenalan yang baik
Kenalkanlah anak Anda dengan hewan peliharaan dengan cara yang baik. "Dudukkanlah anak Anda di kursi saat mengenalkannya dengan hewan peliharaan. Jangan lupa untuk memberikan tali dan penutup moncong pada hewan peliharaan. Hal tersebut dapat mengontol gerakan hewan peliharaan," jelas Ledger.
Kenapa anak harus duduk? Anak-anak biasanya suka berlari-larian. Jika saat diperkenalkan pada hewan peliharaan, ia berlarian, kemungkinan besar, ia bisa dikejar (jika hewan peliharaannya anjing) dan terluka. "Sudah sifat alami anjing untuk mengejar sesuatu yang bergerak-gerak di depannya," tutur Ledger lagi.
3. Berikan tempat sendiri
Anda harus mengajarkan anjing untuk pergi ke kandang bila dia terlihat mulai stres. "Anjing harus selalu memiliki kandang yang aman dan nyaman. Mereka bisa berdiam diri di kandang ketika merasa stres," ucap Reisinger. Biasanya kucing mudah menemukan tempat-tempat aman mereka, kolong tempat tidur dan lemari.
Ajarkan anak Anda untuk tidak mengganggu hewan peliharaan yang sedang stres. Reisinger menyarankan, Anda dapat memasang batas untuk menjaga anak Anda dan jangan pernah berhenti mengawasinya.
4. Kenali gerak tubuh hewan
"Anjing berkomunikasi dengan setiap gerakan tubuh mereka. Kita menonton, memperhatikan dan menanggapi mereka. Kenali tiap gerakan agar tidak terjadi serangan, karena salah menangkap sinyal awal yang diberikan anjing bisa berakibat buruk, " kata Reisinger.
Ledger menambahkan, anjing saat kecil bisa toleran dengan perilaku majikannya yang masih anak-anak. Namun saat dewasa, si anjing semakin sulit menerima sikap majikannya. Selain itu, anjing semakin tua juga bisa terkena penyakit. Mereka bisa buta dan tuli.
5. Etika binatang
Siapa bilang hewan tidak dapat diajarkan beretika? Ketika Anda melihat seseorang dengan anjingnya, peganglah tangan anak Anda. Mintalah izin untuk memberi makan anjing tersebut. Biarkan anjing yang bergerak ke arah anak, bukan anak yang mendekati anjing. Jika anjing tampak bersahabat, tunjukkan pada anak bagaimana mengusap lembut leher, dagu atau sepanjang punggung anjing. Jangan menyentuh mata, telinga dan bagian atas kepala anjing.
6. Antisipasi kecelakaan
Bagaimana jika anak Anda digigit atau dicakar? Jika mengoyak kulit, anak harus dibawa ke dokter. Selalu ada risiko infeksi dan diperlukannya antibiotik. Gigi dan cakar kucing paling banyak mengandung banyak kuman.
Meskipun memelihara hewan penuh dengan risiko, Ledger merasa bahwa memelihara hewan memiliki manfaat untuk anak-anak. "Penelitian menunjukkan bahwa hewan peliharaan membantu anak-anak belajar empati dan tanggung jawab, serta dapat mengurangi risiko beberapa penyakit dan alergi. Anda hanya perlu mengelola situasi dengan hati-hati," tandasnya.
(eny/hst)
Kesehatan
Detoks Alami dari Mikroalga! Tablet Chlorella Ini Disebut Kaya Klorofil dan Bantu Bersihkan Racun Tubuh
Kesehatan
Kolesterol Naik Setelah Makan Berat? Coba Rutin Minum Teh Hitam Herbal Ini
Kesehatan
Pantau Suhu Tubuh Saat Campak Merebak! 2 Termometer Ini Bikin Cek Demam Lebih Praktis di Rumah
Olahraga
Jangan Ngaku Runner Kalau Belum Punya 3 Perlengkapan Ini
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Semua Bunda Dirayakan
Morinaga Ajak Bunda & Anak Bernyanyi Bersama di PIK 2, Yuk Ikutan!
YAYAYA Fest 2025: Bunda Senang, Si Kecil Pun Girang
Kinderflix dan Morinaga Berbagi Keseruan di YAYAYA Fest 2025
5 Rekomendasi Hadiah Istimewa, Tanda Kasih untuk Ibu Mertua
Seru-seruan Bareng Anak di LazMall Daily Bundafest, Banyak Lomba Menarik!
Most Popular
1
Gaya Angel Karamoy di Ultah Putrinya, Kompak Bareng Eks Suami & Pacar
2
Sejarah Hari Perempuan Internasional 8 Maret & Alasan Diperingati Tiap Tahun
3
Ramalan Zodiak 8 Maret: Taurus Lebih Berani, Gemini Jangan Egois
4
50 Ide Caption Hari Perempuan Internasional untuk Media Sosial, Penuh Makna
5
Potret Aaliyah Massaid-Kesya Levronka di Ultah Mahalini, Kompak Pakai Daster
MOST COMMENTED











































