Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Cosmeticorexia, Obsesi Kulit Flawless yang Mengintai Anak dan Remaja

Hestianingsih Hestianingsih - wolipop
Kamis, 18 Jun 2026 13:34 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Tren kecantikan remaja di media sosial
Tren kecantikan remaja di media sosial. Foto: dok. TikTok
Jakarta -

Memiliki kulit cantik dan glowing tentu jadi impian banyak wanita. Namun obsesi menjadi cantik dengan kulit flawless ini mulai menuju ke arah yang bisa dibilang mengkhawatirkan.

Terlebih lagi, usia konsumen yang memakai skincare kini semakin muda. Semakin banyak anak-anak dan remaja yang terobsesi dengan skincare demi mendapatkan kulit mulus tanpa cela.

Fenomena ini memunculkan istilah baru, cosmeticorexia, yaitu kondisi ketika seseorang memiliki dorongan berlebihan untuk mendapatkan kulit yang dianggap 'sempurna', hingga memengaruhi perilaku dan kesehatan mentalnya. Meningkatnya tren skincare di kalangan usia muda membuat sejumlah ahli khawatir terhadap penggunaan produk yang tidak sesuai usia, sekaligus dampaknya terhadap citra tubuh dan rasa percaya diri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka menilai fokus berlebihan pada penampilan di usia yang masih sangat dini dapat menimbulkan masalah psikologis jangka panjang. Istilah cosmeticorexia mulai dikenal luas setelah otoritas Italia mengambil tindakan terhadap sejumlah merek kecantikan yang diduga menargetkan konsumen usia muda.

Pada Maret lalu, dua peneliti Italia juga menerbitkan studi yang menyebut cosmeticorexia berpotensi menjadi gangguan mental yang dapat didiagnosa secara klinis dan perlu diteliti lebih lanjut. Salah satu penulis studi tersebut, Prof. Giovanni Damiani, dokter spesialis kulit sekaligus peneliti dari University of Milan, mengaku melihat peningkatan kasus dermatitis iritan dan dermatitis kontak alergi pada pasien berusia 8 hingga 14 tahun.

ADVERTISEMENT

"Mereka menggunakan produk kosmetik yang hampir sama," ujar Giovanni, seperti dikutip dari Guardian.

Menurutnya, banyak pasien muda menggunakan bahan aktif seperti alpha hydroxy acid (AHA) dan retinoid tanpa pengawasan tenaga medis.Tak hanya masalah kulit, ia juga menemukan perubahan perilaku yang mengkhawatirkan pada sejumlah pasien.

"Misalnya menolak keluar rumah tanpa makeup. Mereka juga menggunakan kosmetik secara berlebihan atau terus-menerus menonton konten terkait kecantikan. Minat mereka bergeser dan hampir menyingkirkan aktivitas lain dalam hidupnya," jelasnya.

Senada dengan itu, Grace Collinson, manajer program klinis di Butterfly Foundation, melihat peningkatan jumlah pasien yang mengalami tekanan emosional terkait penampilan.

"Hal ini terutama terlihat pada anak muda, berupa fokus berlebihan pada kondisi kulit, ketidaksempurnaan yang mereka rasakan, dan dorongan kuat untuk mencapai penampilan yang dianggap sempurna," kata Grace.

Giovanni menambahkan bahwa kelompok usia pra-remaja dan remaja memang menjadi yang paling rentan, namun cosmeticorexia sebenarnya bisa terjadi pada siapa saja. Sementara itu, Dr. Jasmine Fardouly, dosen senior psikologi di University of Sydney, mengungkapkan bahwa anak-anak bahkan mulai menunjukkan kekhawatiran terhadap penampilan tubuh sejak usia enam tahun.

"Lebih dari 50 persen anak muda merasa tidak puas dengan penampilannya, dan hingga 90 persen memiliki setidaknya sedikit kekhawatiran mengenai penampilan fisik mereka. Jadi, sampai batas tertentu, merasa tidak puas dengan penampilan bisa dianggap hal yang umum," ujarnya.

"Namun jika kekhawatiran itu menjadi berlebihan, maka penting untuk segera mencari bantuan profesional," tambahnya.

tren kulit sebening kaca yang populer di Korea SelatanTren kulit sebening kaca yang populer di Korea Selatan. Foto: Instagram

Pengaruh Influencer dan Media Sosial

Para ahli menilai maraknya pemasaran melalui influencer, iklan yang sangat terarah, serta rutinitas skincare yang semakin rumit, telah menciptakan lingkungan yang membuat ketidaksempurnaan fisik tampak menjadi masalah besar. Padahal kenyataannya tidak separah itu.

"Anak muda tidak hanya diajarkan untuk takut terhadap penuaan atau kulit yang tidak sempurna sebelum mereka benar-benar mengalaminya, tetapi juga terus menerima pesan bahwa mereka harus mencapai kesempurnaan atau membeli produk mahal agar bisa diterima lingkungan," kata Grace.

Konten yang terus menonjolkan standar kecantikan ideal dan mengaitkan nilai diri dengan penampilan cenderung berdampak negatif.

"Standar tersebut sulit dicapai oleh sebagian besar orang," ujar Jasmine.

Akibatnya, banyak orang mulai menginginkan standar kecantikan yang tidak realistis, yang kemudian menjadi faktor risiko munculnya masalah citra tubuh. Di sisi lain, Dr. Deshan Sebaratnam, dokter spesialis kulit dan profesor dari University of New South Wales, menilai cosmeticorexia sebenarnya merupakan versi baru dari masalah yang sudah lama ada.

"Menurut saya, ini adalah mutasi baru dari masalah lama," ujarnya.

Dia menyebut cosmeticorexia sebagai istilah populer yang memiliki kemiripan dengan gangguan dismorfia tubuh atau body dysmorphic disorder (BDD).

"Orang sering melihat sesuatu di internet lalu menganggap itu sebagai realitas. Mereka lupa bahwa banyak orang tampil dengan makeup profesional, gaya rambut yang ditata sempurna, filter, kecerdasan buatan, atau Photoshop. Semua itu sebenarnya sudah ada sejak lama, tetapi kini pengaruhnya semakin besar," pungkasnya.

(hst/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads