Fenomena Skin Anxiety, Saat Skincare Justru Bikin Stres dan Insecure
Semakin hari, perempuan dihadapkan pada pilihan produk perawatan dan kosmetik yang kian membanjiri pasaran. Mulai dari formula terbaru, kandungan aktif yang sedang tren, hingga beragam tips dan trik perawatan kulit yang berseliweran di media sosial.
Alih-alih menyenangkan, derasnya informasi ini justru bisa membuat perawatan kulit terasa melelahkan. Kita seperti terus dikejar standar kulit sempurna-mulus tanpa pori, tanpa tekstur, tanpa cela. Padahal, ekspektasi seperti itu tidak realistis dan berisiko memicu kecemasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konsultan dermatologi dari Self London, Dr. Anjali Mahto, menyebut kondisi ini sebagai bentuk kewaspadaan dan kecemasan berlebih terhadap penampilan kulit yang bisa berujung pada obsesi. "Sering kali, kondisi kulit yang dianggap bermasalah sebenarnya tidak sesuai dengan penilaian klinis," ujarnya.
Teknologi kamera ponsel yang semakin canggih juga turut berperan. Detail kecil yang seharusnya normal-seperti tekstur kulit, pori-pori, hingga rambut halus di wajah yang berfungsi melindungi kulit-kini terlihat begitu jelas dan kerap dianggap sebagai kekurangan yang harus dihilangkan.
Psikolog asal Mumbai, Tanya Vasunia, menilai rutinitas perawatan kulit bisa menjadi pemicu kecemasan. Industri kecantikan yang terus menghadirkan standar tidak realistis dan promosi berlebihan turut memperkuat tekanan tersebut.
Menurut Dr. Mahto, bahasa promosi produk sering kali memicu rasa takut tertinggal tren. Tanpa disadari, pesan yang muncul seolah mengatakan bahwa rutinitas skincare yang selama ini dijalani tidak lagi cukup. Selalu ada yang kurang.
Sarwat Ismail, Ahli Estetika Medis di AIG Clinics Dubai, menambahkan bahwa inovasi memang membawa dampak positif. Namun, jika terus-menerus menekankan kekurangan, hal itu justru memunculkan rasa tidak puas dan insecurity. Akibatnya, produk yang sebenarnya belum dibutuhkan malah digunakan.
Kabar baiknya, kecemasan terhadap kondisi kulit bisa diatasi dengan perubahan pola pikir. Rutinitas skincare dasar yang sederhana justru dapat menjadi kunci kulit sehat tanpa harus bersikap konsumtif atau merasa cemas berlebihan.
Jika kecemasan sudah mengganggu kondisi mental, tak ada salahnya berkonsultasi dengan profesional. "Beberapa sesi terapi bisa membantu menemukan akar masalah kecemasan tersebut," ujar Vasunia.
Pada dasarnya, rangkaian perawatan sederhana seperti double cleansing, pelembap, dan sunscreen sudah cukup untuk menjaga kesehatan kulit. Fokuslah memperbaiki skin barrier terlebih dahulu, lalu tambahkan produk lain sesuai kebutuhan.
Dr. Mahto bahkan menekankan bahwa jarang menggunakan produk berbahan aktif dapat membantu kulit pulih secara alami dan menjadi lebih tenang. Terkadang, yang dibutuhkan kulit bukanlah lebih banyak produk, melainkan perawatan yang tepat dan secukupnya.
(eny/eny)












































