Diet untuk Hilangkan Jerawat Viral di TikTok, Ini Pendapat Dermatologist
TikTok belakangan ramai dengan video orang-orang yang mengaku berhasil mengatasi jerawat setelah mengubah pola makan. Mulai dari rutin minum campuran kunyit dan jahe di pagi hari, menjaga kesehatan pencernaan, minum teh spearmint, hingga mengurangi konsumsi gula.
Ada yang mengklaim perubahan pola makan membuat mereka terbebas dari jerawat batu dan mendapatkan kulit yang lebih mulus. Lantas, benarkah mengganti menu makanan bisa membuat jerawat sembuh?
Jawaban sederhananya, bisa. Namun, dokter kulit mengingatkan agar tidak berharap hanya dengan mengubah diet bisa menghilangkan jerawat sepenuhnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mengubah pola makan saja kemungkinan besar tidak akan sepenuhnya mengatasi jerawat," ujar Anjali Mahto, BSc MBBCh FRCP, dokter spesialis kulit yang berbasis di London, seperti dikutip dari Women's Health Mag.
"Pada sebagian besar orang, jika kamu tiba-tiba mengubah pola makan, kemungkinan besar kamu tidak akan melihat jerawat menghilang sepenuhnya," lanjutnya.
Jerawat sendiri merupakan kondisi yang dipengaruhi banyak faktor. Genetik, terutama jika orangtua memiliki riwayat jerawat, serta gangguan hormonal seperti PCOS dapat menjadi pemicu utama. Faktor dari luar seperti rutinitas perawatan kulit, polusi, dan pola makan juga dapat berperan sebagai pemicu tambahan.
Oleh karena itu, ada sebagian orang yang memang melihat kondisi kulitnya membaik setelah mengubah pola makan. Namun, menurut Sandra Oska, MD, dokter spesialis kulit yang berbasis di Los Angeles, perubahan tersebut lebih tepat dianggap sebagai faktor yang membantu mengontrol jerawat, bukan menyembuhkannya secara ajaib.
Untuk mengatasi jerawat secara menyeluruh, konsultasi dengan dokter kulit tetap diperlukan. Perawatan yang telah terbukti secara ilmiah, seperti penggunaan niacinamide, benzoyl peroxide, atau salicylic acid, dapat dilakukan bersamaan dengan perubahan diet jika memang diperlukan.
Perlu diingat, tidak semua orang dengan jerawat pemicunya dari makanan. Jadi, mengubah pola makan secara drastis belum tentu memberikan hasil yang sama pada setiap orang.
Bagi mereka yang memang menemukan makanan tertentu membuat jerawat semakin parah, ada beberapa jenis makanan dan minuman yang perlu diperhatikan.
1. Gula Pasir
Salah satu yang paling sering dikaitkan dengan jerawat adalah makanan dan minuman tinggi gula. Studi dari Prancis yang dipublikasikan di JAMA Dermatology dan melibatkan 24.452 responden menemukan adanya hubungan antara jerawat dengan konsumsi makanan dan minuman tinggi gula.
Soda, sereal olahan, serta makanan cepat saji dan UPF utermasuk beberapa contoh makanan yang berpotensi menjadi pemicu karena kandungan gulanya. Ketika mengonsumsi makanan tinggi gula, kadar insulin dalam darah dapat meningkat. Kondisi ini kemudian memicu pelepasan hormon insulin-like growth factor 1 (IGF-1), yang dapat meningkatkan hormon androgen.
Peningkatan androgen dapat membuat kelenjar minyak memproduksi lebih banyak sebum, sehingga pori-pori lebih mudah tersumbat dan memicu jerawat.
"Jika pola makanmu memiliki indeks glikemik yang sangat tinggi, terutama karena banyak mengonsumsi gula olahan, hal tersebut dapat berkontribusi pada proses munculnya jerawat," kata Dr. Mahto.
"Namun, bukan berarti kamu tidak boleh mengonsumsi gula sama sekali. Yang penting adalah membatasinya."
2. Produk Susu
Produk susu juga diketahui memiliki kaitan dengan produksi IGF-1 yang dapat memicu munculnya jerawat. Salah satu yang paling sering menjadi perhatian adalah susu rendah lemak atau skim milk.
"Ketika lemak di dalam susu dihilangkan, yang tersisa biasanya adalah karbohidrat atau gula. Kemungkinan kandungan gula inilah yang berperan dalam memicu jerawat," jelas Dr. Mahto.
Kabar baiknya, orang yang sensitif terhadap susu belum tentu harus menghindari semua produk olahan susu. Mengganti susu skim dengan susu full-fat atau alternatif susu dengan kandungan gula lebih rendah mungkin sudah cukup untuk membantu mengurangi masalah jerawat pada sebagian orang.
Foto: Thinkstock |
3. Alkohol
Konsumsi alkohol juga telah lama dikaitkan dengan berbagai dampak negatif terhadap kesehatan secara keseluruhan, termasuk kulit. Sebuah studi yang diterbitkan di BMC Public Health pada 2021 menemukan bahwa dari 1.943 responden yang diteliti, mereka yang mengonsumsi alkohol, risiko mengalami jerawat parah lebih tinggi, dibandingkan yang tidak minum alkohol.
Alkohol dapat memicu produksi sitokin proinflamasi, yaitu protein yang berperan dalam proses peradangan. Kondisi tersebut dapat memperburuk berbagai masalah kulit yang berkaitan dengan peradangan, termasuk jerawat.
Makanan yang Bisa Mendukung Kesehatan Kulit
Ilustrasi salmon. Foto: Getty Images/kajakiki |
Beberapa jenis makanan bisa membantu mendukung kesehatan kulit, terutama yang kaya omega-3 dan serat. Salmon, biji chia, kacang kenari, dan makanan lain yang tinggi omega-3 memiliki sifat antiinflamasi yang dapat membantu menjaga lapisan pelindung kulit sekaligus mempertahankan kelembapannya.
Suplemen omega-3 juga kerap diberikan bersamaan dengan isotretinoin atau Accutane untuk membantu mengurangi masalah kulit kering dan iritasi. Mengonsumsi makanan tinggi omega-3 bisa menjadi bagian dari pola makan sehari-hari, baik sedang menjalani pengobatan jerawat maupun tidak.
Serat juga berperan dalam menjaga keberagaman mikrobioma usus dan mendukung sistem pencernaan yang sehat. Sebuah meta-analisis yang diterbitkan di Skin Health and Disease pada 2025 menemukan bahwa kadar Bifidobacterium yang lebih tinggi, yaitu salah satu jenis bakteri probiotik yang secara alami terdapat di dalam usus, mungkin memiliki efek perlindungan terhadap jerawat.
Sementara itu, penelitian yang diterbitkan di Microbial Ecology pada 2021 menunjukkan bahwa konsumsi serat dapat membantu mendukung mikrobioma usus yang beragam dan meningkatkan kadar Bifidobacterium. Jadi, perubahan pola makan memang dapat berpengaruh terhadap kondisi kulit pada sebagian orang.
Namun, diet bukanlah solusi tunggal untuk mengatasi jerawat. Jika jerawat terus muncul atau semakin parah, perubahan menu makan sebaiknya tetap dibarengi dengan perawatan kulit yang sesuai dan konsultasi dengan dokter kulit.
(hst/hst)











































