Masker Daun Kelor Dipercaya Bikin Awet Muda, Ini Cara Buatnya

Jihaan Khoirunnisaa - wolipop Jumat, 05 Mar 2021 17:25 WIB
Daun Kelor Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Daun kelor kerap kali dikaitkan dengan hal-hal berbau mistis. Seperti digunakan untuk mengusir roh jahat hingga melunturkan jimat atau susuk.

Padahal, daun kelor atau moringa ini menyimpan segudang khasiat, tidak hanya untuk kesehatan tapi juga kecantikan. Daun asli Indonesia ini dipercaya bisa bikin kulit awet muda.

Di tangan Haida, daun kelor disulap menjadi masker untuk wajah. Ide Haida ini awalnya muncul beberapa tahun lalu. Kala itu, ia sering melihat orang-orang di kampung halamannya, Riau, membuat bedak dingin. Ia kemudian mencari tahu apa saja keunggulan daun kelor bagi kecantikan dan mulai mencoba membuat masker berbahan dasar daun kelor.

"Karena saya besar di Riau, orang melayu itu sering bikin bedak dingin. Saya belajar, karena lihat juga di Internet kelor itu sangat luar biasa untuk kecantikan. Minyaknya aja seliternya bisa Rp 4,5 juta, tapi saya belum bisa bikin (minyak). Akhirnya saya ambil cuma dari daunnya aja, bikin masker," ujarnya kepada Wolipop baru-baru ini.

Di samping membuat wajah awet muda, Haida mengatakan jika masker daun kelor digunakan secara teratur bisa mencegah munculnya jerawat dan masalah kulit wajah lainnya. Sebab, daun ini mempunyai efek detoksifikasi untuk mengeluarkan kotoran dan racun dari dalam tubuh.

"Jadi bisa semula aja wajahnya, bersih," tambahnya

Dia menjelaskan masker daun kelor dibuatnya dari bahan-bahan alami, tanpa campuran bahan kimia, sehingga aman digunakan dan tidak menimbulkan efek samping.

"Semua belum ada bahan kimia, jadi masih alami," katanya.

Masker daun kelorMasker daun kelor (Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom)

Lebih lanjut, Haida menjabarkan proses pembuatan masker daun kelor. Pertama, beras yang didapatnya dari petani setempat dicuci hingga bersih dan direndam. Baru diolah dengan cara digiling menggunakan mesin sampai menjadi tepung. Kemudian tepung dijemur sampai mengering. Lama pengeringan sekitar 2 atau 3 hari, tergantung cuaca.

Begitu pun untuk daun kelor. Bedanya, daun kelor harus dijemur terlebih dahulu sebelum siap diolah menjadi tepung. Setelah itu, semua bahan bisa dicampur menjadi satu dan dimasukkan dalam kemasan.

"Iya kebalikannya. Kalau tepung beras, beras dulu baru tepung. Kalau kelor, produknya dulu kering baru (dibikin). Dijemur basah sampai kering baru jadi tepung. Kalau beras basah-basah, dibikin tepung, dikeringkan baru bisa diolah," paparnya.

Dalam melakukan penjemuran, usahakan agar daun kelor berada di tempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung. Sebab jika tidak, dikhawatirkan akan mempengaruhi nutrisi yang terkandung di dalamnya.

"Karena kalau kelor itu tidak boleh langsung kena matahari, harus ada rumahnya. Itu akan menaikkan nutrisinya lebih bagus," ujarnya.

Di samping masker daun kelor, Haida juga berinovasi mengembangkan daun kelor menjadi beragam produk, seperti cokelat, teh celup, mie, hingga bakpia dari daun kelor.

Diakuinya sampai dengan saat ini, dirinya sudah mempunyai 20 jenis produk olahan daun kelor. Dari semua produk tersebut, masker daun kelor menjadi yang paling laris dan banyak dicari terutama oleh anak muda.

Masker tersebut ia jual dengan harga Rp 15 ribu per pack. Ia mengatakan, dalam sebulan ada sekitar 500 pcs masker daun kelor yang terjual. Hanya dari masker, omzet yang diterimanya bisa mencapai Rp 7- 7,5 juta per bulan.

"Biasanya anak muda yang paling laris, cokelat, masker, sama mie," tuturnya.

Untuk penjualan, Haida mengandalkan pameran-pameran yang digelar oleh Kementerian, salah satunya dari Kementerian Perindustrian. Dari pameran tersebut, ia bisa mengantongi omzet hingga Rp 3 juta sehari.

Selain itu, ia pun banyak bekerja sama dengan reseller untuk mempromosikan sekaligus memasarkan produk inovasi daun kelornya ke konsumen. Dia menyebut, hingga kini total reseller yang ia miliki sebanyak 15 reseller. Adapun kebanyakan dari mereka merupakan mahasiswa yang pernah melakukan magang di sana.

Dalam mengembangkan bisnisnya hingga sebesar sekarang, tentu membutuhkan modal. Selain memanfaatkan modal pribadi, Haida mengaku dirinya juga mendapatkan bantuan permodalan dari BRI. Modal tersebut digunakan untuk membeli sepeda motor guna mempermudah pengiriman produk.

"Pinjam (modal dari) BRI Rp 25 juta. Itu (untuk) beli kendaraan, motor. Karena untuk transportasi kita. Sama etalase langsung kita tambahin," pungkasnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.



Simak Video "Dari Rancabali sampai Pengalengan, untuk Kopi dan Strawberry."
[Gambas:Video 20detik]
(ncm/eny)