ADVERTISEMENT

Liputan Khusus Nail Art

Ade Nurhayati, Wanita di Balik Kuku Indah Nikita Willy Hingga Susan Bachtiar

Intan Kemala Sari - wolipop Jumat, 20 Feb 2015 09:34 WIB
Foto: Intan Kemala Sari/Wolipop
Jakarta -

Berbicara soal kecantikan tak hanya seputar masalah wajah, rambut, dan tubuh. Namun bagian yang kecil seperti kuku pun ternyata dapat dibuat lebih cantik dengan polesan cat kuku dan hiasan-hiasan dekoratif. Banyak para wanita yang gemar menghias kukunya dengan alasan agar lebih indah dilihat dan terlihat menarik.

Bahkan di antara mereka ada yang menjadikan kegemaran ini sebagai profesi yang ditekuninya. Salah satunya adalah Ade Nurhayati, seorang perias kuku atau yang biasa disebut nailist. Ia sudah banyak menghias kuku termasuk para selebriti seperti Nikita Willy, Sandy Aulia, Susan Bachtiar, Nabila Syakieb, dan Angel Karamoy.

Perkenalan Ade dengan dunia nail art berawal dari tahun 2003. Saat itu belum banyak orang yang menekuni dunia ini karena masih banyak yang belum mengetahuinya. Selain itu, peminatnya pun juga masih jarang dan hanya berasal dari kalangan yang sudah akrab dengan seluk-beluk seni menghias kuku (nail art).

Awalnya, wanita yang akrab disapa Ade ini mengikuti pendidikan kilat selama tiga bulan. "Selesai training langsung boleh pegang klien, tapi tetap harus belajar juga. Tahun 2011 lalu aku sempat training di Korea selama sebulan," tutur wanita 34 tahun ini saat ditemui Wolipop di Sassi Beauty Nail & Spa, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (18/2/2015).

Selama di negeri ginseng tersebut, ia banyak belajar dari para penduduk lokal di sana. Diakuinya, menghias kuku bagi para wanita Korea adalah hal yang sudah biasa dilakukan. Bahkan banyak orang-orang yang merelakan waktunya pergi ke salon kecantikan hanya sekadar untuk menggunting kuku dan merapikannya.

Untuk urusan menghias kuku, wanita kelahiran 1981 ini menilai Korea adalah salah satu negara yang paling kreatif dalam mendesain kuku mulai dari perpaduan warna dan hiasan-hiasan tambahan lainnya seperti taburan glitter, manik-manik kecil, berlian imitasi, hingga gambar tiga dimensi. Dari sini pulalah ia banyak mendapatkan inspirasi dalam nail art yang kemudian akan diterapkan kepada klien-kliennya.

Dalam menangani satu klien, Ade biasanya menghabiskan waktu sekitar 45 menit hingga 1 jam. Tetapi hal ini hanya berlaku untuk nail art yang sederhana dan tidak terlalu banyak detail. "Sebenarnya mengerjakan nail art ini tergantung tingkat kesulitannya ya. Kalau nail art nya susah dan banyak detailnya, bisa 1,5 jam sampai 2 jam. Nail art 3 dimensi lebih lama, bisa sampai 3 jam," terangnya lagi.

Menjalani karier sejak 12 tahun silam, banyak suka dan duka yang dirasakan ibu dua anak ini. Salah satunya adalah saat menghadapi klien yang sulit dimengerti. Terkadang nail art yang sudah dibuat hasilnya tidak sesuai sama selera mereka, jadi Ade harus mengulangnya lagi dari awal.

Tetapi di balik itu semua, ia tidak menemukan kendala yang cukup berarti. Justru banyak para klien yang rela mendatanginya hanya untuk dihias kukunya oleh Ade. Sebagai contoh, ada seorang klien yang berdomisili di Kelapa Gading, tetapi ia rela mendatangi Ade yang saat itu tengah berada di Plaza Senayan.

Menurutnya, perkembangan nail art di Indonesia mulai marak pada tahun 2012 lalu. Sejak saat itulah banyak digelar kompetisi-kompetisi nail yang menghadirkan peserta dari seluruh Indonesia. Sempat terbersit niatnya untuk berlaga di ajang tahunan yang biasanya diadakan pada bulan Oktober ini, namun ia tidak pernah mewujudkannya.

"Aku bukannya nggak mau ikutan kompetisi, tetapi sejujurnya aku nggak sempat. Karena aku juga harus mengontrol dan mendampingi pegawai yang baru lulus training. Belum lagi permintaan dari para klien yang memang ingin dibuatkan nail art sama aku. Jadi nggak ada waktu lagi untuk kompetisi," cerita wanita lulusan D3 sekretaris Interstudi Jakarta itu.

Klien yang ditanganinya pun berkisar antara usia 17 hingga 55 tahun. Tetapi ia juga pernah menangani klien cilik yang masih duduk di bangku TK dan ingin dibuatkan nail art dengan gambar tokoh kartun favoritnya atau desain yang cenderung kekanak-kanakan. Ini adalah suatu tantangan baru untuknya, karena ukuran jari anak-anak terbilang masih cukup kecil sehingga agak sulit untuk dihias.

Tak hanya wanita, Ade juga pernah mendapat klien pria yang sebagian besar adalah pria asing. "Kalau yang pria datang ke saya biasanya hanya untuk merapikan kuku saja, karena mereka lebih suka punya kuku bersih. Waktu itu Ivan Gunawan dan Ari Tulang juga pernah datang untuk french manicure," katanya.

Kiprah Ade dibidang seni menghias kuku bisa dibilang cukup sukses. Kariernya merangkak mulai dari tenaga profesional terlatih hingga kini menjabat sebagai manajer yang bertugas membawahi seluruh cabang Sassi Beauty Nail & Spa. Saat ditanya tentang harapannya ke depan, Ade menginginkan nantinya banyak yang mengikuti jejaknya sebagai nailist.

"Aku berharapnya sih nailist yang sudah ada sekarang ini lebih bersemangat kerjanya, menghias kuku jangan asal-asalan dan harus dari dalam hati melakukannya. Karena kalau klien puas sama hasil kerja kita, otomatis kita juga jadi senang lihatnya dan bisa menambah pelanggan lagi," tutupnya di akhir perbincangan.

(int/als)