Liputan Khusus Tanam Benang
Orang Yang Dilarang Melakukan Perawatan Tanam Benang
wolipop
Jumat, 09 Mei 2014 15:37 WIB
Jakarta
-
Bicara soal dunia kecantikan, wanita mana yang ingin tampil tidak menarik? Semua tentunya ingin terlihat cantik dan hal ini mendorong industri untuk terus berinovasi mengembangkan teknologi dari yang rumit, menyeramkan hingga bersahabat.
Dalam sebuah obrolan kasual dengan sahabat, tiba-tiba isu tanam benang muncul ke permukaan. Perawatan kecantikan ini bekerja dengan cara memasukkan benang ke dalam kulit wajah dan membiarkannya sehingga terjadi reaksi biologis. Terdengar menyeramkan?
Berangkat dari rasa penasaran, kami pun berbincang dengan Dokter Estetika, Erliswita Reza yang praktik di CBC Beauty Care. Menurutnya, metode ini sebenarnya sudah ada di Indonesia sejak tahun 2000-an, namun baru populer beberapa tahun belakangan ini.
Alasan metode ini tidak terlalu populer dikarenakan rasa takut membayangkan prosesnya, dimana jarum masuk ke dalam wajah seperti menjahit benang ke kain. Namun seiring berjalan waktu dimana botoks dan filler yang notabene juga memliki efek-efek yang tak kalah menyeramkan, tanam benang pun menjadi sebuah hal baru yang patut dicoba.
Diwawancara di CBC Clinic, Jl. Wijaya ii No.119, Rabu (7/5/2014), Erliswita menjelaskan bahwa tidak semua orang bisa melakukan perawatan ini. Mereka tak lain adalah ibu hamil, orang yang wajahnya sedang infeksi dan mereka yang sedang berjerawat. Bisa ditarik kesimpulan hanya mereka yang keadaan kulitnya sedang baik-baik saja baru diperbolehkan melakukan terapi ini.
Lalu bagaimana dengan kulit sensitif? Dokter lulusan Universitas Yarsi jurusan Kedokteran ini menambahkan biasanya diberikan obat anti alergi terlebih dahulu. Ibu menyusui boleh melakukannya karena berbeda dengan ibu hamil, rasa sakit atau ngilu dikhawatirkan berefek buruk pada janin.
Proses menusukkan jarum yang sudah dilengkapi benang tentunya memberikan sensasi yang berbeda-beda bagi setiap orang. Sedangkan untuk proses benang kemudian larut di dalam wajah dikatakan memakan waktu 1 - 8 bulan, bervariasi lamanya bagi setiap orang.
Umumnya, rasa sakit terasa selama 1 - 4 hari pasca tindakan. Perasaan tidak nyaman yang disebabkan ada benda asing masuk ke dalam jaringan kulit akan memudar setelah lebih dari empat hari. Setelah itu, kolagen akan bekerja menyerang benang yang ditanamkan di bawah kulit tersebut.
Meskipun terdengar ekstrem bagi beberapa orang, dokter mengklaim metode ini aman dan digemari banyak wanita yang mencari opsi aman mengencangkan wajah tanpa harus menjalani operasi. Istilah bahaya jangka pendek atau panjang menurut dr Erliswita bisa dibilang tidak ada, karena benang yang digunakan dapat diserap oleh tubuh sendiri.
Sayangnya jika diamati dari sisi dunia kedokteran, sebenarnya tidak mengenal prosedur yang bisa memudakan kulit. Sebabnya menjadi tua adalah faktor alamiah pada manusia yang tidak bisa dicegah. Selain itu teknik tanam benang bisa saja menimbulkan efek samping yang mungkin berakibat fatal bagi kesehatan kulit.
"Jika dilakukan bukan dengan profesional bisa menimbulkan efek samping. Namanya juga benda asing yang masuk ke dalam kulit, itu bisa menusuk syaraf, pembuluh darah atau kelenjar air liur yang mengakibatkan pendarahan, radang atau bengkak," kata dokter kulit Sudigdo Adi, SpKk., saat diwawancara Wolipop melalui telepon, Rabu (7/5/2014).
(fer/hst)
Dalam sebuah obrolan kasual dengan sahabat, tiba-tiba isu tanam benang muncul ke permukaan. Perawatan kecantikan ini bekerja dengan cara memasukkan benang ke dalam kulit wajah dan membiarkannya sehingga terjadi reaksi biologis. Terdengar menyeramkan?
Berangkat dari rasa penasaran, kami pun berbincang dengan Dokter Estetika, Erliswita Reza yang praktik di CBC Beauty Care. Menurutnya, metode ini sebenarnya sudah ada di Indonesia sejak tahun 2000-an, namun baru populer beberapa tahun belakangan ini.
Alasan metode ini tidak terlalu populer dikarenakan rasa takut membayangkan prosesnya, dimana jarum masuk ke dalam wajah seperti menjahit benang ke kain. Namun seiring berjalan waktu dimana botoks dan filler yang notabene juga memliki efek-efek yang tak kalah menyeramkan, tanam benang pun menjadi sebuah hal baru yang patut dicoba.
Diwawancara di CBC Clinic, Jl. Wijaya ii No.119, Rabu (7/5/2014), Erliswita menjelaskan bahwa tidak semua orang bisa melakukan perawatan ini. Mereka tak lain adalah ibu hamil, orang yang wajahnya sedang infeksi dan mereka yang sedang berjerawat. Bisa ditarik kesimpulan hanya mereka yang keadaan kulitnya sedang baik-baik saja baru diperbolehkan melakukan terapi ini.
Lalu bagaimana dengan kulit sensitif? Dokter lulusan Universitas Yarsi jurusan Kedokteran ini menambahkan biasanya diberikan obat anti alergi terlebih dahulu. Ibu menyusui boleh melakukannya karena berbeda dengan ibu hamil, rasa sakit atau ngilu dikhawatirkan berefek buruk pada janin.
Proses menusukkan jarum yang sudah dilengkapi benang tentunya memberikan sensasi yang berbeda-beda bagi setiap orang. Sedangkan untuk proses benang kemudian larut di dalam wajah dikatakan memakan waktu 1 - 8 bulan, bervariasi lamanya bagi setiap orang.
Umumnya, rasa sakit terasa selama 1 - 4 hari pasca tindakan. Perasaan tidak nyaman yang disebabkan ada benda asing masuk ke dalam jaringan kulit akan memudar setelah lebih dari empat hari. Setelah itu, kolagen akan bekerja menyerang benang yang ditanamkan di bawah kulit tersebut.
Meskipun terdengar ekstrem bagi beberapa orang, dokter mengklaim metode ini aman dan digemari banyak wanita yang mencari opsi aman mengencangkan wajah tanpa harus menjalani operasi. Istilah bahaya jangka pendek atau panjang menurut dr Erliswita bisa dibilang tidak ada, karena benang yang digunakan dapat diserap oleh tubuh sendiri.
Sayangnya jika diamati dari sisi dunia kedokteran, sebenarnya tidak mengenal prosedur yang bisa memudakan kulit. Sebabnya menjadi tua adalah faktor alamiah pada manusia yang tidak bisa dicegah. Selain itu teknik tanam benang bisa saja menimbulkan efek samping yang mungkin berakibat fatal bagi kesehatan kulit.
"Jika dilakukan bukan dengan profesional bisa menimbulkan efek samping. Namanya juga benda asing yang masuk ke dalam kulit, itu bisa menusuk syaraf, pembuluh darah atau kelenjar air liur yang mengakibatkan pendarahan, radang atau bengkak," kata dokter kulit Sudigdo Adi, SpKk., saat diwawancara Wolipop melalui telepon, Rabu (7/5/2014).
(fer/hst)
Makanan & Minuman
Rahasia Masakan Lebih Wangi dan Bernutrisi! Minyak Wijen Murni BIkin Rasa Makanan Lebih Nikmat
Fashion
Mudik Tanpa Koper Besar? Tas Travel 40L Ini Bisa Jadi Solusinya
Hobi dan Mainan
7 Alasan Thule Subterra 2 Bisa Jadi Toiletry Bag Andalan Traveler
Makanan & Minuman
Nasi Putih Langsung Ludes! Sambal Viral Ini Bikin Sahur dan Makan Jadi Nambah Terus
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Dokter Operasi Plastik Ungkap Rahasia Awet Muda Brad Pitt di Usia 62 Tahun
Apa Itu Looksmaxxing? Tren Viral yang Bisa Bahayakan Mental
Pori-Pori Wajah Terlihat Besar? Ini Cara Menyamakannya Menurut Ahli Kulit
Kulit Sering Kusam Saat Puasa? Ini Penjelasan Dermatolog & Cara Mengatasinya
Rangkaian Produk Kecantikan 'Glowing' Selama Puasa, Skincare Hingga Makeup
Most Popular
1
Dokter Operasi Plastik Ungkap Rahasia Awet Muda Brad Pitt di Usia 62 Tahun
2
7 Momen Manis Jisoo BLACKPINK & Seo In Guk, Kelewat Gemas Jadi Couple
3
Apa Itu Looksmaxxing? Tren Viral yang Bisa Bahayakan Mental
4
Calon Istri Atlet NFL Tolak Perjanjian Pra Nikah, Pernikahan Mendadak Batal
5
Model Ini Beri Kalung Darah Menstruasi ke Suami sebagai Simbol Pernikahan
MOST COMMENTED











































