Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

75% Pembeli Produk Perawatan Pria adalah Wanita

wolipop
Rabu, 23 Apr 2014 15:32 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta - Produk perawatan pria semakin mendapat tempat yang potensial di pasar Indonesia. Dalam kurun satu tahun saja, pertumbuhan penjualan produk khusus pria mencapai 23 persen. Peningkatan ini lebih banyak terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Makassar, Yogyakarta dan Medan. Rata-rata mengalami pertumbuhan di atas 20 persen, kecuali Medan yang hanya 7 persen.

Kesadaran para pria untuk tampil lebih menarik menjadi salah satu faktor yang menyebabkan produk perawatan pria makin laris. Namun lembaga survei Nielsen menemukan fakta yang cukup unik. Produk-produk yang dikhususkan untuk para kaum Adam ini ternyata lebih banyak dibeli oleh wanita. Bahkan pembeli produk perawatan pria terbanyak adalah konsumen wanita.

Sebanyak 41,8 persen pembeli merupakan wanita berusia 40 tahun ke atas. Di tempat kedua pembeli terbanyak adalah wanita usia 25-39 tahun dengan jumlah 26,8 persen, dan ketiga usia 0-24 tahun sebanyak tujuh persen. Sedangkan konsumen pria yang membeli produk perawatan pria hanya 9,7 persen yang berusia antara 25-39 tahun, 40 tahun ke atas sebanyak 7,9 persen dan 0-24 tahun hanya 6,8 persen.

"Sekitar 75 persen pembeli produk perawatan pria adalah ibu atau istri," ungkap Hellen Katherina, Director of Home Panel Services Nielsen Indonesia saat Nielsen Press Club bertema 'Mengamati Pertumbuhan Pasar Produk Perawatan Pria' di Mayapada Tower, Jl. Jendral Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (23/04/2014).

Produk yang paling banyak dibeli adalah deodoran (21,5 persen), penataan rambut (19,3 persen), disusul spray cologne (16,9 persen), pembersih wajah (13,7 persen), shampo (12,3 persen) dan terakhir pelembab (0,9). Rendahnya persentase pembelian produk pelembab, disinyalir karena masih kurangnya kesadaran pria akan pentingnya menjaga kulit wajah tetap sehat.

Keterlibatan para istri atau wanita dalam membelikan produk untuk pasangannya, disebabkan oleh perilaku pria yang cenderung 'grab and go' saat belanja sehingga kurang bisa memilih produk yang tepat. Dijelaskan Hellen, berdasarkan pengamatan langsung tim Nielsen di sejumlah tempat perbelanjaan, terlihat pria rata-rata masih ragu dan mempelajari produk apa yang tepat untuk dipakai.

"Dari yang kami amati saat di lorong tempat belanja produk pria, wanita yang kami tanya kebanyakan menjawab membeli karena pria tidak sempat beli. Ada juga pria yang masih mempelajari dan saat pengamatan, ada pria yang berdiri di depan rak produk perawatan, ketika didekati langsung kabur. Wanita sudah lebih acceptable tapi pria masih malu-malu. Tapi perlu ditekankan ini bukan hasil survei secara resmi ya tapi lebih pengamatan tim Nielsen di lapangan," urai Hellen.

Ia juga menambahkan, rata-rata pria lebih setia pada satu brand dan produk. Ketika toko yang didatanginya kehabisan produk yang biasa dipakai, maka mereka akan pergi ke toko lain untuk mencari brand yang sama. Menurut Hellen, hal ini kemungkinan terjadi karena produk perawatan pria masih sedikit ketimbang produk untuk wanita.

Hasil survei ini dilakukan Nielsen Home Panel terhadap 7.300 sampel rumah tangga di Indonesia, sebagian besar di perkotaan (98 persen) dan pedesaan (40 persen). Survei dilakukan sepanjang tahun 2012 dan 2013, dengan cara mendatangi para responden secara berkala setiap dua minggu sekali.

"Kami mencatat barang apa saja yang dibeli dan memverifikasinya dengan melihat bon pembelian, bungkus produknya juga. Karena ingin mengetahui perubahan perilaku belanja, kami melakukannya ke responden yang sama," jelas Hellen.

(hst/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads