Sidrotun Naim, Wanita Muda Peneliti Udang Kebanggaan Indonesia
Kiki Oktaviani - wolipop
Kamis, 07 Jun 2012 13:03 WIB
Jakarta
-
L'Oreal dan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) mendukung perempuan muda untuk menciptakan karya-karya ilmiah terbaik. Melalui program bernama fellowship For Women In Science (FWIS), telah melahirkan sosok-sosok peneliti muda Indonesia.
Tahun ini FWIS kembali digelar untuk kesembilan kalinya. Dimana sejak bulan Juni ini program FWIS disosialisasikan kembali untuk mencari fellowship tahun 2012.
Program tersebut didirikan pada 1994 secara Internasional dan 2004 di Indonesia. FWIS merupakan suatu hasil kemitraan umum dan swasta yang ditujukan untuk mengakui, menyemangati dan mendukung wanita di bidang sains di seluruh dunia.
Sejak dibentuk, program tersebut telah memberikan pengakuan kepada lebih dari 1200 ilmuan wanita berbakat dari 10 negara. Di Indonesia sendiri, telah melahirkan 25 fellowship, yang setiap tahunnya terpilih empat pemenang (dua pemenang di bidang material sciences dan dua lagi di bidang life sciences).
Para peserta sains di Indonesia bisa memilih mengikuti program nasional atau internasional. Untuk fellowship internasional, saat ini dari Indonesia memiliki empat pemenang. Pada kompetisi tahun 2012, peserta dari Indonesia kembali terpilih sebagai fellowship internasional.
Wanita yang mengharumkan nama bangsa di bidang ilmiah itu adalah Sidrotun Naim, S.Si, M.Mar.ST, Ph.D. Wanita yang berprofesi sebagai pengajar dan peneliti dari Sekolah Ilmu Teknologi & Hayati, Institut Teknologi Bandung itu meneliti penyakit pada udang.
Minat Sidrotun dalam mempelajari penyakit pada udang bermula ketika ia bekerja dalam program WWF Indonesia-Aceh sebagai konsultan program kelautan. Saat melakukan pekerjaannya, wanita yang dijuluki 'wanita udang' itu bertemu dengan ahli dari berbagai bidang, termasuk ahli kualitas air dan patologi ikan.
Namun selama di Indonesia, yang merupakan salah satu negara penghasil udang terbesar di dunia, Sidrotun belum pernah berjumpa dengan ahli patologi udang yang berasal dari Indonesia. Akibatnya, ketika virus white spot syndrome yang menyerang udang dan melumpuhkan mata pencaharian petani udang di Indonesia, ia pun tergugah untuk membantu mencari solusi dan bertekad menjadi ahli patologi udang pertama di Indonesia.
Melalui penelitiannya, Sidrotun berharap dapat melakukan riset skala lapangan di Aceh dan malang dengan pengenalan polikultur udang dan ikan nila. Sistem polikutur tersebut diharapkan dapat meminimalkan risiko penyakit udang, tidak lagi menggunakan antibiotik, menekan biaya pakan, memperbaiki pertumbuhan udang dan ikan nila, menghasilkan produk makanan laut berkualitas dan meningkatkan kesejahteraan petambak.
Sidrotun merupakan lulusan Ph.D dari Universitas Arizona, Amerika Serikat. Saat ini wanita berhijab itu masih melakukan penelitiannya di Amerika, setelah mendapatkan pendanaan senilai USD 40 ribu dari FWIS.
(kik/kik)
Tahun ini FWIS kembali digelar untuk kesembilan kalinya. Dimana sejak bulan Juni ini program FWIS disosialisasikan kembali untuk mencari fellowship tahun 2012.
Program tersebut didirikan pada 1994 secara Internasional dan 2004 di Indonesia. FWIS merupakan suatu hasil kemitraan umum dan swasta yang ditujukan untuk mengakui, menyemangati dan mendukung wanita di bidang sains di seluruh dunia.
Sejak dibentuk, program tersebut telah memberikan pengakuan kepada lebih dari 1200 ilmuan wanita berbakat dari 10 negara. Di Indonesia sendiri, telah melahirkan 25 fellowship, yang setiap tahunnya terpilih empat pemenang (dua pemenang di bidang material sciences dan dua lagi di bidang life sciences).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wanita yang mengharumkan nama bangsa di bidang ilmiah itu adalah Sidrotun Naim, S.Si, M.Mar.ST, Ph.D. Wanita yang berprofesi sebagai pengajar dan peneliti dari Sekolah Ilmu Teknologi & Hayati, Institut Teknologi Bandung itu meneliti penyakit pada udang.
Minat Sidrotun dalam mempelajari penyakit pada udang bermula ketika ia bekerja dalam program WWF Indonesia-Aceh sebagai konsultan program kelautan. Saat melakukan pekerjaannya, wanita yang dijuluki 'wanita udang' itu bertemu dengan ahli dari berbagai bidang, termasuk ahli kualitas air dan patologi ikan.
Namun selama di Indonesia, yang merupakan salah satu negara penghasil udang terbesar di dunia, Sidrotun belum pernah berjumpa dengan ahli patologi udang yang berasal dari Indonesia. Akibatnya, ketika virus white spot syndrome yang menyerang udang dan melumpuhkan mata pencaharian petani udang di Indonesia, ia pun tergugah untuk membantu mencari solusi dan bertekad menjadi ahli patologi udang pertama di Indonesia.
Melalui penelitiannya, Sidrotun berharap dapat melakukan riset skala lapangan di Aceh dan malang dengan pengenalan polikultur udang dan ikan nila. Sistem polikutur tersebut diharapkan dapat meminimalkan risiko penyakit udang, tidak lagi menggunakan antibiotik, menekan biaya pakan, memperbaiki pertumbuhan udang dan ikan nila, menghasilkan produk makanan laut berkualitas dan meningkatkan kesejahteraan petambak.
Sidrotun merupakan lulusan Ph.D dari Universitas Arizona, Amerika Serikat. Saat ini wanita berhijab itu masih melakukan penelitiannya di Amerika, setelah mendapatkan pendanaan senilai USD 40 ribu dari FWIS.
(kik/kik)










































