×
Ad

Ini Alasan Sains Kenapa Introvert dan Ekstrovert Sangat Berbeda

Shandrina Shira - wolipop
Rabu, 03 Des 2025 08:32 WIB
Halaman ke 1 dari 3
Foto: Getty Images/iStockphoto/setory
Jakarta -

Pernahkah kamu heran saat melihat teman atau orang lain yang memiliki sifat berbeda denganmu? Setiap orang memiliki cara tersendiri dalam merespons diri dan lingkungan sekitarnya.

Ada yang sangat suka bertemu banyak orang, aktif berbicara, dan senang berada di tengah keramaian. Sebaliknya, ada pula orang yang justru merasa lebih bersemangat setelah menyendiri dalam suasana tenang dan hening. Dua kepribadian tersebut, ekstrovert dan introvert, memang sangat bertolak belakang.

Meski perbedaan introvert dan ekstrovert sudah banyak dibahas, tidak banyak yang mengetahui bahwa asal mula perbedaan dua kepribadian tersebut bersumber dari cara otak merespons rangsangan dan rasa senang.

Mengutip BBC, psikolog Hans Eysenck pada tahun 1960-an mendefinisikan bahwa seorang ekstrovert memiliki tingkat gairah yang lebih rendah, sehingga mereka bekerja lebih keras untuk mencapai tingkat gairah yang maksimal. Sementara itu, introvert justru terlalu mudah terstimulasi oleh hal-hal yang dianggap menyenangkan atau memikat oleh orang lain. Karena itu, mereka cenderung mencari kegiatan yang tenang dan topik-topik yang lebih mendalam.

Perbedaan Neurokimia pada Otak Introvert dan Ekstrovert

Perbedaan utama antara introvert dan ekstrovert dapat dipahami melalui tiga zat kimia utama pada otak, yaitu dopamin, adrenalin, dan asetilkolin.


• Dopamin: berperan dalam menimbulkan rasa senang dan bahagia saat melakukan sesuatu yang memicu rangsangan cepat.

• Adrenalin: dipicu oleh hal-hal berisiko atau rangsangan intens, dan dapat meningkatkan pelepasan dopamin.

• Asetilkolin: bekerja serupa dopamin dalam menciptakan rasa bahagia, tetapi efeknya lebih halus sehingga menimbulkan rasa rileks, waspada, dan puas. Asetilkolin dilepaskan ketika seseorang terlibat dalam aktivitas yang fokus dan menenangkan.

Otak seorang ekstrovert cenderung memiliki lebih banyak reseptor dopamin dibandingkan introvert. Ketika reseptor lebih banyak, ekstrovert membutuhkan lebih banyak dopamin untuk merasa senang. Semakin lama mereka bergerak, aktif, terlibat, dan berinteraksi, semakin besar pula rasa senang yang muncul karena kebutuhan dopaminnya terpenuhi.

Sebaliknya, kaum introvert lebih sensitif terhadap dopamin, sehingga rangsangan berlebih dapat membuat mereka kewalahan dan cemas. Seorang introvert dapat merasa cukup tenang dan bahagia hanya dengan asetilkolin yang bekerja lebih lembut. Sementara bagi ekstrovert, asetilkolin tidak sekuat sensasi kebahagiaan dari dopamin.

Sederhananya, ekstrovert merasa puas dari tingginya dopamin, sementara introvert menemukan ketenangan dari asetilkolin.



Simak Video "Kata Ahli soal Desain Rumah yang Cocok Buat Si Introvert, Ekstrovert & Ambivert"

(eny/eny)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork