Liputan Khusus Ghosting

Kisah Pilu Pacaran 6 Tahun Hingga Nyaris Tunangan, Endingnya Kena Ghosting

Gresnia Arela Febriani - wolipop Minggu, 14 Mar 2021 10:00 WIB
Sad black woman reading bad news on mobile phone Ilustrasi wanita yang alami ghosting. Foto: Getty Images/iStockphoto/tommaso79.
Jakarta -

Ghosting atau menghilang tiba-tiba terasa menyakitkan dan bisa menimbulkan rasa trauma dari korbannya. Bagaimana tidak, ketika hubungan yang sudah terjalin sekian lama, tiba-tiba saja si dia menghilang dan memutuskan cinta tanpa alasan yang jelas.

Melalui liputan khusus Ghosting, Wolipop berbagi kisah mereka yang pernah mengalami ghosting. Salah satu korban ghosting ini adalah Gendis (26 tahun) yang berasal dari Nganjuk, Jawa Timur. Ia tidak pernah membayangkan sebelumnya, jika hubungannya dengan sang kekasih akan berakhir tanpa kepastian yang jelas.

Gendis menceritakan dia mengalami ghosting di saat si pria sudah mengajaknya untuk mengukur cincin tunangan. Sebelum si mantan melakukan ghosting, hubungan mereka yang sudah berjalan enam tahun tidak ada masalah.

Berikut kisah Gendis sal ghosting yang dialaminya:

Tahun 2010 hubungan kami dimulai dengan status pacaran. Saat itu kami sedang sama-sama masih duduk di bangku SMA. Terakhir kita sempat mengukur cincin tunangan. Tiba-tiba tak ada angin tak ada hujan, seluruh akun media sosialku diblokir. Bahkan momor HP aku juga. Sama sekali tidak bisa dihubungi.

Tahun 2012 kami harus memutuskan masa depan masing-masing. Saya kuliah bidang kesehatan di salah satu universitas negeri terbesar di Malang, Jawa Timur. Dia memutuskan untuk menjadi abdi negara. Dari tahun 2012 hingga 2015 usaha dia untuk mendaftar abdi negara belum membuahkan hasil. Jatuh bangun daftar, tes kesehatan, tes-tes lainnya, dan saat wawancara saya selalu mendampinginya.

Kami saling support dan komitmen apapun yang terjadi kita harus selalu bersama. Tahun 2015 dia lolos menjadi abdi negara dan ditempatkan di Polda Jawa Timur. Pada tahun tersebut saya disibukkan praktik di rumah sakit. Praktik saya sistemnya shift, sama seperti jam kerja tenaga kesehatan umumnya di rumah sakit.

Hingga pada 2016 adalah tahun yang berat dan membahagiakan (pada awalnya) bagi saya. Berat karena dia mulai banyak mengeluh katanya saya sudah tidak perhatian dan tidak ada waktu untuknya. Padahal saya harus praktik di rumah sakit sudah kami diskusikan konsekuensinya dan dia dan tak mempermasalahkannya.

Pertengahan 2016 dia ada tugas ke Malang, Jawa Timur. Waktu itu kami pergunakan untuk bertemu, membahas rencana hubungan ke depannya dan mengukur cincin untuk tunangan. Semua berjalan lancar dan dia tidak ada komplain masalah waktu karena dia memang juga sibuk penjagaan dan lainnya.

Bulan Oktober 2016 (saya lupa tanggal berapa) saat saya shift sore. Pada sore hari dia telepon saat saya sedang menangani pasien. Pada saat itu saya tidak bisa menjawab karena dalam peraturan mahasiswa tidak diperbolehkan mengangkat telepon saat di depan pasien.

Saat jam salat Isya, saya izin salat dan menghubunginya lagi. Saya telepon balik namun tak dijawab. Saya chat untuk memberi kabar dan menjelaskan alasan saya tidak bisa menjawab teleponnya. Chat saya hanya di-read. Saya berpikiran positif mungkin dia sibuk.

Hingga malam saya pulang ke kost, nomor dia masih bisa saya hubungi namun tidak ada jawaban ataupun balasan. Saya tunggu hingga saya tertidur. Keesokan paginya pukul 03.00 WIB saya terbangun dan melihat BBM saya di-delete contact (zaman Blackberry).

Pagi harinya pukul 07.00 WIB, saya telepon tapi tidak menyambung, chat WhatsApp centang satu, telepon WhatsApp ternyata di blokir. Pada saat itu saya bingung apa sebabnya dia melakukan hal tersebut. Saya hubungi teman saya yang di Surabaya untuk menghubunginya tapi hanya di-read saja.

Dua hari kemudian (karena saya hanya bisa meninggalkan praktik di rumah sakit jika hari minggu atau mendapat izin) saya bisa menemuinya di Surabaya. Hasilnya nihil, sama sekali dia tidak bisa ditemui. Saya ingin mencoba menemui langsung ke tempat kerjanya.

Ternyata di tempat kerjanya jika saya ingin menemui harus melewati petugas jaga dan tidak diizinkan. Saya bertanya-tanya sendiri apa salah saya? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang bisa saya perbaiki?

Saya masih ingat dia adalah sosok lelaki yang tegas, berbadan tegap dan berperawakan tinggi. Saat SMA dia adalah seorang pemain basket, penabuh drum, pengurus OSIS, dan anggota paskibraka. Dari sisi sifat dia adalah orang yang keras, berpendirian kuat (cenderung egois), dan mudah marah.

Setelah hubungan itu berakhir, saya jadi sulit membuka hati. Sulit mempercayai orang baru. Selama kurun waktu 2016 sampai sekarang pernah dekat dengan beberapa orang. Saya rasa sudah memaafkan dan ikhlas dengan kandasnya kisah yang lampau. Namun entah kenapa, sampai sekarang saya belum siap untuk diajak ke jenjang yang lebih serius. Hubungan ini layaknya orang jalan di tempat.

(gaf/eny)