Liputan Khusus Toxic Relationship

Kenali Apa Itu Relationship, Tanda Hubungan Tidak Sehat Menurut Psikolog

Gresnia Arela Febriani - wolipop Minggu, 28 Feb 2021 15:00 WIB
Bearded man shouting at his girlfriend Ilustrasi wanita yang sedang mengalami toxic relationship. Foto: Getty Images/Mixmike.
Jakarta -

Kehidupan percintaan tak selamanya mulus yang dibayangkan. Ketika kamu terus menerus mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan dalam sebuah hubungan hingga menerima tekanan mental atau fisik, kamu perlu waspada. Perilaku tersebut termasuk dalam kategori hubungan tidak sehat atau toxic relationship.

Apa itu toxic relationship? Wolipop berbincang dengan Psikolog Klinis Dewasa Alfath Hanifah Megawati, M.Psi. untuk membahas tentang pengertian toxic relationship dan hal-hal yang perlu kamu pahami mengenai hubungan membahayakan ini.

Menurut psikolog yang akrab disapa Ega itu, toxic relationship adalah kebalikan dari relasi yang sehat. Relasi adalah salah satu media yang dapat membantu seseorang bertumbuh ke arah yang positif, menjadi sumber dukungan, atau menyuplai energi diri dengan kebahagiaan.

"Namun, pada toxic relationship, relasi bukan lagi media yang membuat seseorang bertumbuh, tapi justru membuat kita merasa terkekang, lelah, tidak berharga, dan tersakiti secara berulang. Bisa dikatakan bahwa toxic relationship berbeda dengan abusive relationship, tapi toxic relationship sangat mungkin berkembang menjadi abusive relationship. Pertanyaan yang muncul seringnya adalah perbedaan keduanya," Ega saat berbincang dengan Wolipop baru-baru ini.

Ega menjelaskan dalam toxic relationship, perilaku yang tidak sehat itu masih mungkin untuk dimaklumi kemunculannya, karena dianggap umum terjadi dalam relasi. Misalnya adalah kecemburuan. Bahkan pasangan dalam relasi sehat sangat mungkin merasakan cemburu. Ia pun merinci perbedaan toxic relationship dan abusive relationship.

"Namun, pada toxic relationship, kemunculannya berulang (misalnya: cemburu terus menerus) dan reaksi yang berlebihan (misalnya: karena cemburu, kita tidak diperbolehkan berteman dengan siapapun). Kemungkinan untuk memaklumi perilaku karena dianggap umum terjadi pada relasi, yang membuat toxic relationship menjadi sulit untuk dikenali, bahkan untuk ditinggalkan. Sedangkan, abusive relationship mempunyai perilaku tidak sehat yang lebih ekstrem dan tidak umum ditemui pada relasi yang sehat. Misalnya adalah melarang pasangan untuk keluar rumah tanpa dirinya dan menguncinya di rumah," tambahnya.

Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia itu menegaskan jika toxic relationship tidak hanya terjadi dalam hubungan romantis atau lawan jenis, tetapi juga bisa ada di hubungan anak-orang tua, pertemanan, pekerjaan dan masih banyak lagi. Dan Ega mengatakan sebaiknya kamu jangan terburu-buru untuk memberikan label 'toxic' dalam sebuah hubungan.

"Maka mungkin saja kamu tidak sedang menjalani toxic relationship tapi masalah dalam relasi saja. Gunakan label 'toxic' bukan pada orangnya, tapi pada perilaku atau relasi yang dijalani. Melabelkan 'toxic' pada orang, akan membuat kita mengeneralisasi keburukan pada orang tersebut dan membuat kita menolak pengalaman baik yang ternyata karena perilaku yang lain. Lalu, perbanyak mengecek diri sendiri, apakah perilaku toxic tersebut muncul karena kita melakukan perilaku toxic itu terlebih dahulu atau ikut membalas perilaku toxic dengan perilaku toxic? Jika iya, maka kita ikut andil dalam terciptanya toxic relationship ini," tegasnya.

Lalu apa kategori dan tanda-tanda toxic relationship ?

Ega menjelaskan toxic relationship adalah relasi yang dikarakteristikan dengan pola yang saling merusak dan saling menyakiti pasangan. Pola yang paling sering terlihat dari toxic relationship adalah merendahkan pasangan, mengontrol atau memanipulasi, passive-aggressive, tidak mengapresiasi, kecurigaan berlebihan, tidak memberikan ruang bagi pasangan untuk menjalin relasi diluar dengan orang di sekitarnya, dan self-centered (hanya peduli pada kebutuhan diri sendiri saja.

"Poinnya di 'pola', jadi hal-hal d iatas bukan hanya terjadi 1-2 kali saja, tetapi hampir setiap saat selama kita menjalani relasi. Alasan dari perilaku tersebut, tidak jarang berlandasan pada 'terlalu mencintai pasangan.' Ketakutan untuk kehilangan, membuat perilaku yang muncul menjadi tidak rasional dan menyakiti pasangan," pungkasnya.

(gaf/eny)