Liputan Khusus Harta Takhta Cerita

Kisah Suami yang Setia Saat Istri Alami Gangguan Mental, Bikin Terharu

Gresnia Arela Febriani - wolipop Senin, 15 Feb 2021 17:11 WIB
A young woman looks at the floor nervously while her hands rest on her lap. Her doctor sits across from her telling her some bad news. Ilustrasi seorang ibu yang mengalami gangguan mental. Foto: Getty Images/FatCamera.
Jakarta -

Gangguan mental atau biasa disebut juga penyakit kejiwaan bisa mempengaruhi suasana hati, pikiran dan perilaku. Penyebab terjadinya mental illnes ini muncul karena banyak faktor. Misalnya saja karena stres atau depresi.

Salah satu yang mengalaminya adalah Lia yang berbagi kisahnya kepada Detikcom, melalui program Harta Takhta Cerita. Dia mengaku mengalami gangguan mental dan suaminya tetap setia mendampinginya.

Dalam rangka memeriahkan hari kasih sayang atau Hari Valentine, Detikcom membuat program Harta Takhta Cerita. Acara ini dibuat untuk kamu yang punya kisah menarik bisa berupa perjuangan cinta, karier atau pun cerita hidup menarik lainnya.

Nantinya, cerita paling menarik dari detikers akan dipilih untuk dibacakan oleh sederet publik figur hingga tokoh kenamaan Indonesia. Buat kamu yang sudah penasaran dan tak sabar ingin ikutan, pastikan kamu simak syarat dan ketentuan KLIK DISINI.

Berikut kisah Lia selengkapnya:

Young Asian woman feeling sick and suffering from a headache, lying on the bed and taking a rest at homeIlustrasi seorang ibu. Foto: Getty Images/AsiaVision.

Dear Detikers, ini ceritaku Lia dari Sukabumi, Jawa Barat. Dulu aku tak percaya bahwa akan ada seseorang yang mencintai dan menyayangiku sepenuh hatinya.

Namun, semua itu berubah ketika awal tahun 2018 dan aku mengidap "sakit mental" yang disebut dengan psikosomatis. Dimana setiap hari aku merasakan sakit, entah pegal, nyeri, sesak nafas, batuk, sakit kepala yang berganti-ganti.

Dan setiap hari pula emosiku tak terkontrol, mood aku pun sama, cepat sekali naik turun. Tapi suami dan anak-anakku lah sebagai "obat" ketika aku mulai kambuh.

Suamiku akan menggantikanku mencuci piring, memasak dan memandikan anak-anak ketika aku mulai duduk dengan tatapan kosong keluar jendela. Kadang aku berpikir bahwa aku ini punya berjuta kekurangan untuk suamiku, aku juga berpikir bahwa aku tak pantas berada di sampingnya.

Namun kata-katanya yang selalu ku ingat adalah "karena kamu adalah prioritas hidupku," itu yang membuatku merasa sangat dicintai. Terimakasih karena sudah mencintaiku sepenuh hati, suamiku.

(Lia-Sukabumi,Jakarta).

(gaf/eny)