Liputan Khusus KDRT

Suami Tukang Pukul, Kisah Dini Dianiaya dan Diancam 'Monster' KDRT (Bag. 2)

Kiki Oktaviani - wolipop Minggu, 22 Sep 2019 16:03 WIB
Dini Surya Foto: dok. Instagram Dini Surya Foto: dok. Instagram

Jakarta - Dini dan kedua anaknya mengalami KDRT yang begitu hebat hingga sang anak sempat dibawa ke UGD. Kisahnya melarikan diri bersama anak-anaknya pun sempat menggemparkan media lokal Surabaya. Sang suami menyebut Dini dan anak-anaknya hilang, padahal nyatanya dia kabur karena khawatir akan keselamatan dirinya dan anak-anak.

Saat menikah dengan sang suami, Dini merasakan berbagai jenis KDRT dari sering diolok-olok hingga dipukuli. Saat itu dia mau tidak mau memilih bertahan karena diancam oleh sang suami.

"Di rumah itu dipasang cctv sampai tujuh buah. Dia juga berbicara,'kalau misalnya kamu keluar dari rumah, aku bakal melakukan langkah hukum ini, dan sudah di-backup pengacara ini'. Ada kayak ancaman. Dan dia sudah punya strategi-strategi," kisah Dini yang tinggal di Surabaya ini.



Dini pun beberapa kali merencanakan untuk melarikan diri dari rumah. Tetapi rencananya berkali-kali gagal karena suaminya selalu mengawasi melalui kamera pengintai.

Hingga akhirnya suatu hari setelah sebelumnya dibantu seorang temannya, Dini berhasil mengelabui CCTV suaminya dan kabur untuk melapor ke Polda Jawa Timur. Sang suami pun dijatuh hukuman penjara, meski hanya tiga bulan.

Padahal saat melakukan kekerasan pada anak mereka, sang anak pernah sampai dibawa ke UGD. "Jadi dadanya kena lantai duluan dan posisi kedua tangannya dibelakang. Dan ketika ia bangun posisi dagunya kayak bergeser miring. Dia dilempar langsung diam tidak bergerak. Hati saya langsung nggak karu-karuan bentuknya, saya kira anak saya sudah meninggal di tempat saat itu. Dengan posisi seperti itu pun masih dipukulin," kenang Dini dengan sedih saat berbincang dengan Wolipop, Rabu (18/9/2019).

Kini Dini sudah selamat dari 'monster' KDRT yang mengaku melakukan kekerasan itu karena mengaku peduli pada keluarga. Dia sekarang tinggal di Surabaya, sementara sang mantan suami diketahuinya sudah menikah lagi.

Setelah lepas dari pernikahan yang diwarnai KDRT, Dini tetap saja merasakan trauma. Belum lagi dia harus mengurus gugatan cerai dan gugatan hukum pada suaminya. Dia pun merasa sangat khawatir akan nasibnya dan kedua anak mereka jika nanti sang mantan suami bebas dari penjara.

Saat rasa kalut mendera itu, Dini membaca artikel tentang bela diri. Akhirnya dia pun memutuskan mengikuti workshop tentang bela diri.

"Karena saya mikirnya kalau dia sudah keluar dari penjara, kalau dia mau memukul saya itu bagaimana melawannya? Aku ikutlah workshopnya, karena memang jalan begitu saja, lalu keterusan karena memang bela dirinya khusus wanita dan untuk paham tekniknya itu ngak butuh waktu yang lama," ujar Dini.

Dini mengaku ia bersama psikolog ditemui oleh komunitas Women Self Defense Koporyu (WSDK). WSDK adalah bela diri khusus wanita berdiri sejak 2006 di Bandung, dan kini memiliki cabang di berbagai kota seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan.

"Dia tekniknya tidak bawa senjata pun kita bisa melakukan perlawanan. Jika pakai lipstick pun bisa, handphone bisa, tissue juga bisa, kunci motor dan mobil malah bagus untuk melawan. Ada gerakan teknik tertentu. Bercermin aja juga bisa," kata Dini.

Dini juga mengajak kedua anaknya untuk mengikuti untuk kelas khusus anak-anak. Latihan bela diri tersebut menurutnya baik untuknya dan anak-anak karena dapat menyembuhkan trauma mereka setelah bertahun-tahun menerima kekerasan.

"Tahun 2018 saya ikut WSDK, saya ikut di surabaya angkatan kedua. Kini saya aktif sebagai coach WSDK Surabaya," tambahnya.

Setelah semakin aktif dan mempunyai kegiatan baru, Dini dan teman-tamannya sering mengisi acara talkshow, workshop, hingga on air di radio sebagai pembicara. Dini menjadi satu dari sekian banyak korban KDRT yang berhasil mengubah nasibnya. Dia merasa di luar sana masih banyak wanita korban KDRT yang masih belum bisa keluar dari nasib menyedihkan mereka.

"Sekarang ini kan yang mengalami stockholm syndrome, yaitu masih ada keterikatan emosi dengan pelaku kekerasan, sehingga dia tidak bisa keluar dari kondisi itu, cuman kalau pengetahuan ini kan minim sekali. Jadi memang harus terus diedukasi dan suatu saat menemukan momen"ya saya harus keluar" itu sangat sulit," kata Dini.



Dini pun memberikan pesan untuk wanita yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, seperti yang ia alami. Pertama, menurutnya, seperti aturan keselamatan penerbangan, orang pertama yang harus diselamatkan adalah diri sendiri. Hal yang sama berlaku untuk korban KDRT.

"Jadi jika berdalih untuk bertahan di rumah tangga itu demi anak, itu bisa saya bilang salah. Kalau memang Anda juga sakit di situ, baik secara fisik maupun secara psikis. Percuma Anda bertahan buat anak, anak itu juga bisa merasakannya lho," pesannya.

Dini menegaskan korban KDRT yang memiliki anak harus segera memutus matai rantai kekerasan tersebut. Diakuinya hal itu sangat sulit. Namun si wanita harus berusaha sekuat tenaga mereka.

"Kalau anak ini terus-terusan dengan kondisi seperti itu keluarga, akan muncul kebiasaan bahwa kekerasan itu sudah biasa, akhirnya muncul pemahaman hal yang tidak biasa menjadi suatu kebiasaan menurut dia, akhirnya kelak ketika dewasa ia akan mengulangi hal yang sama kepada anak dan istrinya. Dia akan menjadi pelaku," ucap Dini.

"Jka tidak ada hasil harus berani mengambil keputusan yang besar. Coba ditenangin dulu, lalu cari edukasi buat diri kita efeknya bagaimana, intinya dikasih tau pengetahuan dan pemahaman," pungkasnya.



Simak Video "Kenali Ciri-ciri Pasangan yang Berpotensi Melakukan KDRT "
[Gambas:Video 20detik]
(kik/kik)