Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Mungkinkah Maafkan Suami yang Pernah Selingkuh? Ini Kata Psikolog

Alissa Safiera - wolipop
Selasa, 06 Des 2016 19:38 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: thinkstock
Jakarta - Perselingkuhan bagai merobek secarik kertas. Sekali itu dihancurkan, akan sulit untuk mengembalikannya seperti awal lagi. Terlebih jika perselingkuhan terjadi dalam ikatan pernikahan, pasti akan sulit melupakannya. Namun apakah cerai jadi keputusan terbaik?

Psikolog hubungan Anna Surti Ariani mengatakan jika emosi apapun yang muncul dalam rumah tangga, haruslah mengedepankan akal sehat untuk menyelesaikannya. Menurutnya, kebanyakan masalah dalam pernikahan, termasuk perselingkuhan tak bisa hanya menyalahkan satu pihak saja.

"Ada kontribusi salah suami, juga kontribusi salah istri. Oleh karena itu, untuk dapat menyelesaikan masalah, perlu pula ada kontribusi usaha dan pengorbanan dari kedua belah pihak," kata psikolog pendiri Situs Pranikah ini.

Anak menjadi pertimbangan utama saat orangtua memikirkan untuk mengakhiri hubungan. Walau terus menikah atau bercerai sekalipun, selama wanita masih menyimpan sakit hati terhadap suami, maka masa depan anak bisa saja bermasalah.

Diungkap psikolog yang akrab disapa Nina, cukup banyak ibu yang sakit hati kemudian menggiring persepsi anak terhadap ayahnya menjadi negatif, yang kemudian berpengaruh negatif pada konsep diri dan kepribadian anak. Permasalahannya seringkali bukan di status pernikahan, namun pada kondisi emosi kedua orangtua.

"Perceraian ternyata tidak selalu memperbaiki kondisi emosi yang terlanjur sakit hati," imbuhnya.

Nina menyarankan hal pertama yang bisa dilakukan adalah menyembuhkan rasa sakit hati Anda terlebih dulu. Selanjutnya adalah bagian tersulit, yaitu memaafkan perilaku suami.

"Terimalah bahwa kondisi ini memang terjadi, dan bahwa Anda berdua punya andil terhadap kondisi ini. Anda dapat dibantu oleh pemuka agama dan psikolog klinis dewasa atau psikolog perkawinan," ujar psikolog Klinik Terpadu Universitas Indonesia ini.

Ada baiknya Anda mendapat banyak bantuan dalam menjalani hidup sekian bulan dan sekian tahun ke depan, karena masa-masa ini biasanya cukup sulit dihadapi sendiri. Selain dari para ahli, bantuan juga bisa didapatkan dari para sahabat yang siap mendengarkan curhatan Anda. Anda juga bisa mendapatkan bantuan untuk mengasuh anak dari pengasuh atau keluarga, yang terutama dibutuhkan saat Anda sedang merasa di titik terbawah hidup Anda.

Keputusan untuk melanjutkan atau mengakhiri perkawinan bukanlah keputusan yang mudah. Janganlah memutuskan sendirian saja. Dan janganlah memutuskan saat hati Anda masih merasa sakit mengingat perbuatannya. (asf/asf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads