Saat Suami Suka Melakukan Kekerasan, Kenapa Ada Istri yang Memilih Bertahan?

Daniel Ngantung - wolipop Kamis, 02 Jun 2016 15:27 WIB
Foto: People
Jakarta - Beberapa hari belakangan, kabar perceraian aktris Amber Heard dan aktor Johnny Depp marak diberitakan. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), sebagaimana diakui Amber, diduga kuat sebagai penyebab retaknya hubungan pasangan yang menikah pada 3 Februari 2015 ini. Bahkan kabarnya, Johnny sudah mulai menyiksa Amber sebelum menikah. Muncul pertanyaan, kenapa bintang 'The Danish Girl' ini tetap memilih Johnny sebagai suaminya setelah perlakuan tersebut? Dan apa yang membuatnya tetap mempertahankan pernikahannya kala itu?

Amber tidak sendiri. Kasus Amber mengingatkan kita pada kejadian yang menimpa Janay Rice, istri dari bintang football AS Ray Rice, pada 2014 silam. Sebuah video CCTV merekam kejadian Ray menonjok istrinya di lift. Begitu kerasnya pukulan, Janay sempat terjatuh dan tidak sadarkan diri.

Meski tersakiti baik secara fisik maupun batin, Janay memutuskan untuk tidak menuntut atau menggugat cerai suaminya. Ia memaklumi tindakan sang suami itu sebagai wujud ketidaksempurnaan manusia. "Semua orang pasti melakukan kesalahan," ujarnya.

Menurut Craig Malkin, psikolog klinis di Harvard Medical School, baik faktor psikolog maupun fisik, membatasi seseorang untuk meninggalkan hubungan yang menyiksa. "Terkadang korban menyalahkan dirinya sendiri atas tindakan pasangannya. Mereka meyakini, KDRT tidak akan terjadi jika pendekatan yang dilakukan berbeda," katanya seperti dikutip Time.

Ia lalu menganalogikan hubungan yang menyiska ini seperti seorang yang kecanduan berjudi. Dikatakannya, korban fokus pada hal yang positif dan berharap sesuatu yang positif akan terjadi. "Mereka kencanduan momen intim dan penuh kasih sayang yang pernah dirasakan tapi sebetulnya sulit diprediksi akan terjadi lagi. Tapi mereka tetap berharap," ujar Craig.

Dari segi fisik, korban dibuat tidak berdaya oleh pelaku dengan membatasi akses kebutuhan hidup mereka, seperti makanan, pekerjaan, hingga kehidupan sosial. Agar dapat bertahan hidup, korban tidak punya pilihan selain tetap menjalin hubungan dengan suaminya.

Leslie Morgan Steiner, seorang korban KDRT, sempat menceritakan pengalamannya di TED Talk. Penulis buku 'Crazy Love' ini mengatakan, tahap pertama dari sebuah KDRT adalah menggoda korbannya lalu mengontrol kehidupan mereka di segala aspek.

"Kenapa aku bertahan? Aku tidak menyadari dia (suami) sedang menyiksaku. Bahkan saat dia sedang mengarahkan pistol ke kepalaku, mendorongku hingga terguling di tangga... Aku tidak pernah merasa sebagai istri yang tersiksa. Sebaliknya, aku adalah seorang wanita tangguh yang jatuh cinta dengan seorang pria bermasalah. Dan hanya aku yang bisa menolongnya," cerita Leslie.

Ia menambahkan, keselamatan korban bisa terancam bila berniat meninggalkan hubungan karena tahap akhir dari pola KDRT adalah membunuh korban. Tercatat, 70 persen pembunuhan dalam kasus KDRT terjadi setelah korban meninggalkan hubungan yang tidak sehat itu. (dng/dng)